Arti
dari walisongo, ada beberapa pendapat tentang arti alisongo. Pertama adalah
wali yang berjumlahkan Sembilan orang, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat
lain menyebutkan bahwasongo/snga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab
berarti mulia. Walisongo atau walisanga dikenal sebagai penyebar agama islam di
tanah Jawa pada abad ke-14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara
Pulau Jawa, yaitu pada wilayah Jawa Timur (Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban)
pada wilayah Jawa Tengah (Demak, Kudus, Muria) sedangkan pada wilayah Jawa
Barat (Cirebon).
Era
masuknya walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya
Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan islam. Mereka adalah simbol
penyebaran islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang
juga berperan. Namun, peranan mereka yang sangat bear dalam mendirikan kerajaan
islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas
serta dakwah secara langsung, membuat para walisongo ini lebih banyak disebut
dibanding yang lain. Penyebaran islam oleh
walisongo di Indonesia salah satunya
adalah dengan cara mendirikan pondok pesantren, seperti yang dilakukan oleh
salah satu walisongo yaitu, sunan ampel yang yang mendirikan pondok pesantren
yang bernama Ampel Denta.
Pondok
pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren
menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok
berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Pesantren
adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara
nonklasikal, dimana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan
kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama abad pertengahan. Pesantren
juga dapat dipahami sebagai sebuah pendidikan tradisional yang para santrinya
tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan
sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santrinya pun
berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk
belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya. Komlek ini biasanya di kelilingi oleh
tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Ummumnya, suatu pondok pesantren berawal dari adanya
seorang kiai di suatu tempat, keudian datang santri yang ingin belajar agama
kepadanya. Setelah semakin hari semakin banyak santri yang datang. Timbullah insiatif
untuk mendirikan pondok disamping rumah kiai. Pada zaman dahulu kiai tidak
merencanakan bagaimana membangun pondoknnya itu, namun yang terpikir hanyalah
bagaiana mengajarkan ilmu agama supaya dapat dipahami dan dimengerti oleh
santri. Kiai saat itu belum memberi perhatian-perhatian terhadap tempat-tempat
yang didiami oleh para santri, yang
umumnya sangat kecil dang sangat sederhana. Mereka menempati sebuah rumah kecil
yang mereka dirikan sendiri disekitar rumah kiai. Semakinbanyak jumlah santi
semakin banyakpila jumlah gubug yang didirikan. Para santri selnjutnya
mempopulerkan keberadaan pondok pesantren tersebut, sehingga menjadi terkenal dimana-mana,
contohnya pada pondok-pondok yang berdiri pada zaman walisongo.
Pondok
pesantren di Indoneia memiliki peran yang sangat besar, baik bagi kemajuan
Islam itu sendiri maupun bagi bangsa Indoneia secara keseluruhan. Berdasarkan
catatan yang ada, kegiatan pendidikan agama di Nusantara telah dimulai sejak
tahun 1596. Kegiatan inilah yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Pesantren.
Ada
beberapa elemen dalm sebuah pondok pesantren, diantaranya adalah:
Pondok
Pondok merupakan tempat yang sudah disediakan untuk kegiatan bagi
para santri. Adanya pondok ini banyak menunjang segala kegiatana yang ada. hal
ini didasarkan karena jarak pondok dengan sarana pondok yang lain biasanya
berdekatan, sehingga memudahkan untuk komunikasi antara kiai dengan sntri, dan
antara satu santri dengan santri yang lainnya.
Masjid
Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan
pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam
praktek ibadah sholat lima waktu, khotbah, sholat jumat, dan pengajaran
kitab-kitab klasik.
Pengajaran
Kitab-Kitab Klasik
Sejak tumbuhnya pesantren, pengajaran kitab-kitab klasik diberikan
sebagai upaya untuk meneruskan tujuan utama pesantren yaitu menddidik
calon-calon ulama yang setia terhadap paham islam tradisional. Karena itu
kitab-kitab islam klasik merupakan bagian integral dari nilai dan paham
pesantren yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Santri
Santri merupakan sebutan bagi oara siswa yang belajar mendalami
agama di pesantren. Biasanya para santri ini tinggal di pondok pesantren yang
telah disediakan, naamun ada pula snatri yang tidak tinggal di tempat yang
telah disediakan tersebut yang biasa disebit dengan santri kalong. Dalam
menjalanikehidpan di pesantren, pada umumnyamereka mengurus sendiri keperluan
sehari-ahari dan mendapat fasilitas yang sama antarasantri yang satu dengan
santri yang lainnya. Santri diwajibkan mentaati peraturan yang ditetapkan
didalaam pesantren tersebut dan apabila ada pelanggaran akan dikenakan sanksi
yang sesuai dengan pelanggaraan yang dilakukan.
Kyai
Istilah kyai bukan berasal dari ahasa Arab, melainkan dari bahasa
Jawa. Kata kyai mempunyai maakna yang agung, keramat, dan dituahkan. Selain
gelar kyai diberikan kepada seorang laki-laki yang lanjut usia, aari, dan
dihormati di Jawa. Secara luas pengertian kyai di Indonesia adaalah untuk paraa
pendiri dan pemimpin pondok pesantren, yang sebagai muslim terhormat yang telah
membaktikaan hidupnya untuk Alloh swt. serta menyebarluaskan dan memperdalam
ajaran-ajaran serta pandangan Islam melalui pendidikan.
Pesantren
Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai
dan mendakahkan agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini semakin
memperlebar ilayahgarapannyaa yang tidak melulu hanya penjejalan materi-materi
keagamaan saja, tetapi juga terhadap kesadaran sosialnya juga perlu. Dengan demikian, pesantren tidak lagi hanya
semata-mata sebagai lmbaga keagamaan murni, tetapi uga menjadi lembaga sosial
yang hidup yang terus merespon carut marut persoalan masyarakat di sekitar.
Tujuan didirikannya pesantren adalah untuk
menyebarkan ajaran islam dan membentuk guru/kiai-kiai yang akan meneruskan
usahauntuk memahamkan keislaman di kalangan umat islam yang akhir-akhir ini
banyak mengalami kontroversi. Menurut Mahmud Yunus pondok pesantren tumbuh
sebagai perwujudan dari strategi umat islam dalam mempertahankan eksistensinya
terhadap pengarh penjajahan pengaruh Barat.
Dalam
sejarah prtumbuhannya, pondok pesanten telah mengalami beberapa fase
perkembangan, termasuk dibukanya pondok khusus perempuan. Dengan perkembangan
tersebut, terdapat pondok perempuan dan pondok laki-laki. Sehingga pesantren
yang tergolong besar dapat menerima santri laki-laki dan santri perempuan,
dengan memilahkan pondok-pondok yang berdasarkan jenis kelamin dan peraturan
yang ketat, guna membatasi para santri putra maupun putri untuk terbiasa dalam
menjaga aurat dan membiasakan para santri untuk mempunyai sikap yang disiplin.
Seperti halnya di daerah Kabupaten Blitar Jawa Timur lebih tepatnya di desa
Bakung Kecamatan Udanawu. Islam di daerah ini adalah agama yang dianut oleh
mayoritas masyarakatnya. Sejarah perkembangan islam di Udanawu ini, dahulu
Islam yang awalnya sudah ada di daerah ini tidak begitu berkembang. Islam masih
belum menjadi budaya disana. Masyarakatnya pun masih sangat kental dengan budaya
yang berbau mitos. Mereka mengerti islam hanya sekedar tau dan sangat
mempercayai mitos tersebut, seperti halnya menaruh sesajen didalam rumah
tepatnya di kamar bagian tengah, mereka percaya bahwa orang yang sudah
meninggal akan datang dan memakan sesajen tersebut. Akan tetapi seiring
berjalannya waktu mereka mengerti apa itu islam. Dimulai dari masyarakat
mengikuti pengajian di daerah tersebut, mengikuti kegiatan belajar mengaji
menulis bahasa Arab pegon, mengaji membaca Al-Qur’an, dan macam-macam kegiatan
keislaman lainnya. Karena hal inilah mereka menjadi paham dan mengerti apa itu
islam, dan sekarang Islam di daerah ini
sangat berkembang dengan pesat. Hal ini dibuktikan oleh banyaknya masyarakat
yang memasukkan anak-anaknya ke sebuah pondok pesantren dan banyak juga para
kyai yang mendirikan sebuah pondok pesantren di daerah ini. Mulai dari pondok
pesantren khusus santri putra sampai pondok pesantren untuk santri putra dan
santri putri. Masyarakat pun sangat
berantusias dalam menikuti kegiatan yang diadakan oleh pondok pesantren
mereka juga berpartisipasi kegiatan yang diadakan oleh pondok pesantren
tersebut.
Pondok pesantren istilah
pondok pesantren bagi masyarakat luas tentunya tidak asing lagi ditelinga masyarakat
umum, baik masyarakat yang beragama islam atau pun diluar agama islam. Pondok pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para siswanya
atau yang disebut santri tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru atau
yang lebih dikenal dengan sebutan kiyai dan
mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut
berada dalam kompleks yang juga menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk
belajar, dan kegiatan keagamaan lainnya. Tempat ini biasanya dikelilingi oleh
tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan
satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar
para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana
terbuat dari bambu. Di samping itu, kata pondok mungkin berasal dari Bahasa
Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Di pulau jawa umumnya digunakan
istilah pondok dan pesantren, sedang di daerah Aceh dikenal dengan Istilah
dayah atau rangkang atau menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut
surau. Pesantren juga dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan dan
pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang kiai
mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang
ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama Abad pertengahan.
Penyebaran
agama islam diwilayah Kabupaten Muaro jambi juga dilakukan melalui
lembaga-lembaga pendidika islam seperti pondok pesatren. Salah satu pondok
pesantren yang terkenal di Kabupaten Muaro Jambi adalah pondok pesantren nurul
iman. Pondok Pesantren ini terletak di jalan tempino KM. 17&18 Desa Muaro
Sembapo Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi. Adalah salah
satu tempat menuntu ilmu dan menggali ilmu agama serta ilmu-ilmu yang lainya
yang berada di Kabupaten Muaro Jambi. Pondok pesatren nurul iman didirikan oleh
K.H Shochieb dan Nyai Hj. Raden Ayu Siti Bachriyah al-Hafizah pada tahun 1994.
Dimana pada saat itu sebagian besar wilayah yang ada disekitar sana masih berupah
perkebunan sawit dan karet. Awalnya di tahun 1994 pondok pesantren ini hanya
berupa kelompok pengajian yang diadakan oleh bapak K.H Shochieb dan Ibu Nyai
Hj. Siti Bakhriyah. Akan tetapi, seiring dengan berjalanya waktu, pondok
pesatren ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dimana banyak santri-santri
yang berdatangan untuk menuntut ilmu di pondok ini, tidak hanya dari wilayah
sekitar, akan tetapi meluas hingga luar
wilayah sekitar Seperti, Penerokan, Sungai Bahar, Sungai Betam, Bangko,
bahkan juga sampai wilayah Palembang.
Nama
Pondok Pesatren Nurul Iman, dimaksudkan untuk mengenang jasa ulama besar dari
Mlangi Yogjakarta. Yakni Mbah Kyai Nur Iman (RPH Sandiyo) nama kecil putra dari
Kanjeng Susuhunan Amangkurat IV (RM Suryo Putro ). RPH Sandiyo merupakan buah
dari perkawinan RM Suryo Putro (1719-1726) dengan putri R.A Retno Susilowati
Putri Adipati Wironegoro (Untung Suropati) Bupati Pasuruan. Ibu Nyai Hj. Siti
Bachriyah selaku pendiri pondok pesantren Nurul Iman merupakan cucu cicit dari
Mbah Kyai Nurul Iman.Seiring perkembanmgan zaman, serta berkat rahmat dan
karunia Allah SWT.
Awalnya
pondok pesantren Nurul Iman merupakan pondok pesantren salafiyah (lama, dahulu, atau tradisional) disebut pondok pesantren
salafiyah karna pondok prsantren
Nurul Iman menyelenggarakan pelajaran dengan pendekatan tradisional. Pelajaran
ilmu-ilmu agama islam yang dilakukan secara individual (sorogan) dan secara
kelompok (bandongan/klasikal) yang mengkhususkan kitab-kitab klasik berbahasa
arab (kitab kuning). Sikap salaf pun mewarnai santri pondok pesantren Nurul
Iman yang menjadi landasan pendidikan didalamnya dengan lebih mengutamakan akhlak para salafus salih, pendidikan yang lebih
mengutamakan akhlak salih para ulama terdahulu di era kenabian.
Melihat
dinamika perkembangan pesatren dan kebutuhan masyarakat, kini telah dikembangi
beberapa lembaga pendiidikan seperti Madrasatul
Khuffadz, Madrasah Salafiyah,Madrasah Alfiyyah,Tachassus Dan Majlis Taklim. Seiring dengan
perkembngan zaman, Pondok Pesantren Nurul Iman menyadari bahwa pendidikan agama
saja belum cukup untuk membekalin ilmu pada santri. Untuk itu selain
menyelenggarakan pendidikan secara klasikal, pondok pesantren juga menyediakan
pendidikan secara modern, seperti SMP dan SMA Islam Al-Arief pada tahun 2001.
Dan selanjutnya pada tahun 2013 didirikan pula SMK Islam Al-Arief. Keberadaan
pendidikan umum ini tidak dapat dipisahkan dari pendidikan pesantren Nurul
Iman. Dengan adanya pembaharuan setiap waktu tertentu membuat pondok ini tidak
mengalami kemunduran akan tetapi mengalami kemajuan, dengan adanya
pembaharuan-pembaharuan santri tidak hanya mendapatkan ilmu agama saja. Akan
tetapi santri juga mendapatkan pendidikan yang umum. Maka dari itu banyak orang
tua yang ingin memondokan anaknya.
Pondok
ini juga memiliki visi dan misi. Yakni dengan visi Pondok Pesatren Nurul Iman sebagai
pijakan dasar untuk melaksanakan segala tindakan dan gerak upaya pondok adalah:
“Tercetaknya
santri pejuang, berilmu, berwawasan luas, dan berakhlak-mulia”. Adapun
misi Pondok Pesantren untuk mengangkat dan mewujudkan visi di atas adalah “Menyelenggarakan pendidikan islam yang
berkualitas dan terjangkau”, dengan program-program kegiatan dalam
pendidikan: Madrasah Diniyah, Sekolah
Umum, Keterampilan, dan Hufadz
(Menghafal Al Qur’an). Pendidikan yang berkualitas dan terjangkau merupakan
visi yang memberikan dampak adanya kualitas sumber daya yang bermutu se4rta
mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Diantaranya santri, wali santri,
masyarakat dan pemerintah.
Adapun
kegiatan-kegiatan pendidikan Pondok Pesantren Nurul Iman seperti, Madrasah
Diniyah yang diperuntukan untuk santri diantaranya ada hafalan al-quran dan
kajian kitab kuning. Selanjutnya ada juga pendidikan umum, kewirausaha dimana
dengan tujuan mendidik dan mengembangkan kreatifitas santri. Muhadathah
kegiatan ini bertujuan untuk melatih santri berbicara dalam bahasa arab,pengajian
untuk umum, dimana Pondok Pesantren Nurul Iman menyelenggarakan siraman rohani
atau pengajian umum yang disenggarakan setiap sebulan sekali yang jatuh pada
hari Ahad Pahing biasanya masyarakat sekitar menyebutnya dengan sebutan “selapanan”. Dan masih banyak kegiatan-kegiatan yang
ada di pondok nurul iman.
Semoga
lulusan-lulusan pondok pesantren nurul iman bisa membawa perubahan yang baik
khususnya di wilayah Kabupaten Muaro Jambi dan sekitarnya. Walaupun dizaman yang moderen ini kasus krisis moral
sangatlah biasa dimata masyarakat, apalagi masyarakat yang umumnya berada di
perkotaan, berbeda dengan zaman dahulu akhlah adalah segala-galanya dan slalu
di utamakan. Untuk itu saya sebagai penulis dan salah satu generasi banggsa
berharap, lulusan-lulusan dari pondok pesantren dapat menjadi nafas bagi agama
islam, yang slalu mencetak generasi-generasi penerus bangsa yang beradap dan
berakhlakul karima serta membawa perubahan yang baik bagi agama, nusa, dan
banggsa.
Di kota kediri banyak sekali pondok pesantren
yang banyak sekali
santrinya dan memiliki daya
tampung santri yang
luar biasa banyaknya, beberapa
diantaranya adalah PP. Lirboyo,
PP. Al-Falah Ploso,
Al-Amin Rejomulyo dsb.
Ada juga pesantren
yang berbasis Qur’aniyah yang didalamnya mengajarkan ilmu Al-qur’an
dan tahfidzul Qur’an seperti pondok
pesantren Ma‟unahsari Bandar Kidul,
sehingga banyak sekali santri-santri dari
berbagai penjuru daerah yang mengemban ilmu dikota Kediri ini. Sudah tidak dapat dipungkiri
lagi bahwa perkembangan zaman yang semakin maju, terlebih memasuki zaman
millennium, menuntut semua orang untuk selalu selangkah lebih maju guna
mengimbangi perkembangan tersebut dengan menguasai berbagai macam ilmu
pengetahuan dan teknologi, namun pada realita yang ada, dalam rangka menguasai
ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa disertai dengan keimanan dan ketaqwaan
justru akan menjerumuskan seseorang pada jalan yang salah.
Pesantren adalah bagian dari lembaga pendidikan
yang pada umumnya memiliki ciri khas bersifat keagamaan. Sistem pendidikan
pondok pesantren sesuai dengan otoritas kyai masing-masing. Tujuan pendidikan
pesantren pada umumnya diserahkan pada proses perpaduan menurut perkembangan
pesantren yang dipilih oleh kyai atau bersama dengan pengasuh yang
lainnya. Sehingga, pendidikan dan
pengajaran antara pondok pesantren satu dengan lainnya terdapat
perbedaan.Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan fokus terhadap pengajaran
ilmu-ilmu agama melalui kitab-kitab kuning. Tinggi rendahnya ilmu seseorang
diukur dari tingkat penguasaan terhadap kitab tersebut. Metode yang digunakan
adalah metode sorogan, bandongan dan hafalan. Tujuan utama santri memasuki
pesantren adalah memahami dan menguasai ilmu-ilmu agama dengan pemahaman utama
terhadap kitab-kitab. Pondok pesantren dapat diklasifikasikan berdasarkan ciri
khas sistem pendidikannya, yaitu pesantren tradisional (salaf), pesantren
modern (khalaf).
Salah satu pondok pesantren yang berkembang
pesat adalah PP. Al-falah yang terletak di desa Ploso, Kec. Mojo, Kab. Kediri.
Masyarakat biasa menyebut pondok ini dengan sebutan pondok Ploso. Pondok pesantren yang letaknya ditepi sungai
Berantas ini banyak mengambil keuntungan dari letak geografis tersebut. Sungai
yang terkenal deras airnya dan terus mengalir sepanjang musim banyak memberikan
kehidupan para santri serta para masyarakat sekitarnya. Dipinggir sungai inilah
terletak desa Ploso, sekitar 15 km arah selatan dari Kediri. Potensi wilayah seperti ini
sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Umumnya mereka
memanfaatkan tanah yang subur ditepi sungai berantas untuk bercocok tanam. Pada awalnya masyarakat desa ploso sebelum
adanya pondok ploso menganut agama islam, namun islamnya merupakan islam
abangan atau islam KTP. Mereka mengaku bahwa dirinya Islam, tapi mereka tidak
melakukan ibadah-ibadah dalam syariat islam seperti puasa, sholat dsb. Mereka
hanya mengejar duniawi saja. Hidup mereka hanya untuk bekerja dan bekerja. Daerah
ploso dulunya merupakan daerah yang banyak terjadi kemaksiatan.
KH. Ahmad Djazuli Usman menyebarkan agama
islam di Ploso, dengan mendirikan sebuah pondok pesantren yang didirikan sekitar
tahun 1925. Ketika
awal berdiri, banyak masyarakatnya mencemooh pondok pesantren Al-Falah. Apalagi
para pejabat dan bandar judi, yang setatusnya mulai terganggu. Kejadian-kejadian yang seperti itu
membuat KH. Ahmad Djazuli lebih semangat dalam mensyiarkan agama dan memiliki
tekad yang kuat untuk mengubah islam abangan. Menjadi masyarakat yang sesuai
dengan syari’at islam. Hasilnya bisa dilihat seperti saat ini pondok pesantren
Al-falah ploso sangat berkembang pesat, masyarakat sekitar menjadi masyarakat
islami. Bahkan pondok ploso sudah memiliki banyak bangunan karena dari tahun
ketahun santrinya bertambah dan bertambah, santrinya bukan hanya dari Kediri
dan sekitarnya saja, namun dari seluruh wilayah yang ada di Indonesia.
Ponpes Alfalah Ploso menganut sistem manajemen
tradisional, dalam arti, kepemimpinan tunggal yang tersentral pada figur
seorang kiai memegang otoritas yang tinggi dalam pengelolaan pesantren.
Manajemen semacam itu terus berlangsung sampai pada saat sekarang saat
pesantren ini diasuh oleh KH. Zainuddin Djazuli putra KH. Ahmad Djazuli Usman. KH. Zainuddin dalam mengasuh pesantren yang
sering digunakan kegiatan tingkat regional ini dibantu para adik-adiknya dan
saudara-saudaranya, seperti KH. Nurul Huda (Gus Dah) yang mengasuh pondok
pesantren putri, KH. Fuad Mun’im (Gus Fu’), KH. Munif, Bu Nyai Hj. Badriyah (Bu
Bad) dan Gus Sabut putra almarhum Gus Mik (yang mengomandani Jama’ah Sima’an
Al-Qur’an Mantab) dll.
Setiap calon santri diharapkan memilih sesuai
dengan taraf pendidikan yang sudah ditempuh. Bagi para santri baru, mereka
masuk jenjang pendidikan ibtidaiyah (sifir) selama 3 tahun. Kemudian
dilanjutkan ke tingkat atasnya yakni Tsanawiyah selama 4 tahun. setelah
Tsanawiyah, para santri melanjutkan ke tingkat tertinggi yakni Madrasah
Islamiyah Riyadlotul Uqul (MISRU), atau setingkat Aliyah. Dalam program
pendidikan terakhir ini, setiap santri memperdalam pelajaran gramar dan ilmu alat bahasa Arab.
Selepas tamat dari madrasah tersebut, bagi santri yang ingin memperdalam ilmu
agama (Fiqh) dibentuk Jami’yatul Musyawaroh Riyadlatut Tholabah. Para santri
yang masuk ke program ini adalah santri-santri yang sudah menguasai ilmu nahwu,
shorof dan ilmu alat untuk memperdalam kitab kuning. Karena di forum ini, para
santri dituntut untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan kitab yang
dipergunakan dengan cara mandiri.
Ponpes Al Falah sejak awal didirikannya hingga
saat ini tetap menggunakan model salafiyah. Pondok ini memiliki kecenderungan penguasaan
ilmu, memiliki tujuan ikhlas dalm beribadah dan menimbailmu, mematuhi amanah
pendiri pondok pesantren, pemahaman pemikiran dan tradisi ulama-ulama salaf
yang hidup pada zaman tiga generasi setelah masa Nabi Muhammad Saw. Dengan model salafiyah
hamper seluruh waktu santridipergunakan untuk belajar, baik belajar
formal mau pun informal. Ada yang diwajibkan dalam hal pengajian, seperti pengajian kitab Fathul
Ghorib dan Ta’limul Muta’alim yang diajarkan oleh Masyayikh (putra-putri
Hadrrotussyeikh KH. Ahmad Djazuli Usman). Pengertian wajib di sini adalah para
santri yang masih berada di tingkat rendah diharuskan mengikuti
materi pengajian dua kitab tersebut. Untuk tingkat di atasnya, diwajibkan
mengaji kitab yang lebih tinggi yakni Bukhari dan Minhajut Tholibin. Untuk
pengajian lainnya ada pengajian kitab Ihya Ulumiddin, Fatkhul Wahab,
Fathul Mu’in, Iqna dan lain-lain. Untuk menambah ilmu, juga masih ada pengajian
yang diberikan oleh santri senior yang sudah mampu, waktunya pun dipergunakan
dalam celah-celah kegiatan para santri. Semua sistem yang dipergunakan adalah
model bandongan, yakni guru membaca kitab, para santri kemudian memberi
makna gandul (bahasa kromo). Selain kegiatan wajib, para
santri juga dianjurkan untuk mengikuti aktivitas lain yang menambah wawasan dan
pengetahuan santri, seperti; baca Tahlil dan Yasin, muhafadzah, dhi’baiyah,
mujahadah, khitobah, bahtsul masa’il.
Pondok pesantren
tidak seperti sekolah-sekolah formal yang memakai kalender Masehi sebagai
patokan dalam memulai aktivitas belajar. Di pesantren ini memakai patokan tahun
Hijriah baik untuk pendidikan madrasah maupun pondok. Hari-hari efektif dimulai
pertengahan bulan Syawal. Sedangkan ujian pertengahan tahun pada awal bulan
Rabiul Awal (Maulud). Setelah ujian selesai, para santri memperoleh libur
selama 1 minggu, biasanya waktu libur itu dipergunakan untuk melepas
kerinduan dengan keluarga masing-masing santri. Ujian akhir diadakan pada
bulan Rajab. Ketika memasuki bulan Ramadhan, pondok ini juga
menyelenggarakan pesantren kilat (pasaran/puasanan) yang terbuka untuk santri
dan masyarakat umum. Seluruh rangkaian kegiatan belajar santri kemudian ditutup
dengan acara Haflatus Tasyakur (acara
tutup tahun) yang berbarengan dengan acara Haul Al-Maghfurlah KH. Ahmad Djazuli
Utsman di bulan Muharram.
Sampai di akhir hayat, KH. Ahmad Djazuli Utsman dikenal istiqomah dalam
mengajar kepada santri-santrinya. Saat memasuki usia senja, Kyai Djazuli
mengajar kitab Al-Hikam (tasawuf) secara periodik setiap malam Jum’at bersama
KH. Abdul Madjid dan KH. Mundzir. Bahkan sekalipun dalam keadaan sakit, beliau
tetap mendampingi santri-santri yang belajar kepadanya. Riyadloh yang ia
amalkan memang sangat sederhana namun mempunyai makna yang dalam. Beliau memang
tidak mengamalkan wiridan-wiridan tertentu. Thoriqoh Kyai Djazuli hanyalah
belajar dan mengajar “Ana thoriqoh ta’lim wa ta’allum,”katanya berulangkali
kepada para santri. Hingga akhirnya Allah SWT berkehendak memanggil beliau kehadapan-Nya, hari
Sabtu Wage 10 Januari 1976 (10 Muharam 1396 H). Beliau meninggalkan 5 orang
putra dan 1 putri dari buah perkawinannya dengan Nyai Rodliyah, yakni KH.
Achmad Zainuddin, KH. Nurul Huda, KH. Chamim (Gus Miek), KH. Fuad Mun’im, KH.
Munif dan Ibu Nyai Hj. Lailatus Badriyah. Ribuan umat mengiringi prosesi
pemakaman sosok pemimpin dan ulama itu di sebelah masjid kenaiban, Ploso,
Kediri.
Salah satu tokoh kiai yang
berasal dari ploso yaitu KH. Hamim Tohari
Djazuli
yang lebih
akrab dipanggil Gus Miek, beliau adalah salah satu putra pendiri pesantren
ploso. Gus Mik adalah seorang yang
sangat terkenal di kalangan guru sufi, seniman, birokart, preman, bandar judi,
kiai -kiai NU, dan para aktivis di
zamannya juga sekarang
dan selamanya tentu
yang mau mengenal
maupun memperbincangkannya.
Dialah yang membangun tradisi
pengajian Sema’an Al-Qur’an Jantiko Mantab
dan pembacaan wirid
dzikrul ghafilin . Selain menjadi pejuang Islam yang gigih, dan
pengikut hukum agama yang setia dan patuh, Gus Miek memiliki spritualitas atau
derajat kerohanian yang memperkaya sikap, taat, dan patuh terhadap Tuhan.
Namun, Gus Miek tidak melupakan kepentingan manusia atau intraksi sosial
(hablum minallah wa hablum minannas). Hal itu dilakukan karena Gus Miek
mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan (alm) KH. Hamid Pasuruan, dan
KH. Achmad Siddiq, serta melalui keterikatannya pada ritual ”dzikrul ghafilin”
(pengingat mereka yang lupa). Gerakan-gerakan spritual Gus Miek inilah, telah
menjadi budaya di kalangan Nahdliyin (sebutan untuk warga NU), seperti
melakukan ziarah ke makam-makam para wali yang ada di Jawa maupun di luar Jawa.
Hal terpenting lain untuk diketahui juga bahwa amalan Gus Miek sangatlah
sederhana dalam praktiknya. Juga sangat sederhana dalam menjanjikan apa yang
hendak didapat oleh para pengamalnya, yakni berkumpul dengan para wali dan
orang-orang saleh, baik di dunia maupun akhirat.
Perkembangan dakwah Islam yang di lakukan oleh para wali di Blitar dipandang sangat berhasilmengalihkan keyakinan masyarakatdri agama Hindu dan Budha sebagai agama Negarasejak masa pemerintahan Kediri, Singosari dan Majapahit, yang bekasnya masihtampak nyata sampai sekarang yaitu candi Penataran yang di bangun pada masatiga kerajaan besar tersebut. Dalam kehidupan dan budaya masyarakat Blitarpengaruh masa lalu itu masih terasa walaupun keyakinan keagamaan telah berubahmenjadi Islam. Hal ini tampak nyata dalam perkara wali adlol yang menjadikewengan pengadilan Agama di Blitar sekarang. Perkara wali adlol kebanyakan disebabkan karena wali nikah tidak bersedia menikahkan anak perempuanyadisebabkan karena hal-hal yang di anggap melanggar tradisi lama seperti antaralain karena antara kedua calon pengantin berhadap-hadapan rumah, rumahberseberangan jalan atau berseberangan sungai, weton yang tidak pas, tunggalbuyut dan lain-lainya. Di antara penyebar islam pada masa awal tersebut adalahSyekh Subakur yang menurut masyarakat Blitar, petilasanya(monumen peringatan)terletak di desa Nglegok, Kecamatan Nglegok Blitar berdekatan dengan candiPenataran.
Syekh Subakir
adalah penyebar Islam di Tanah Jawa generasi awal pada zaman kediri, masa
pemerintahan Joyoboyo, berasal dari Persia jauh sebelum generasi Wali Songo.
Beliau berhadapan langsung dengan tokoh-tokoh agama Jawa, Hindu dan Budha di
pusat kekuasaanya, pada masa jaya-jaayanya dan di dukung oleh kerajaan-kerajaan
besar yang melindunginya. Ia berhasil mengislamkan masyarakat Jawa termasuk di
dalamnya masyarakat Blitar. Keberhasilanya itu tercatat dalam berbagai catatan
kuno, walau kapan meninggalnya dan di mana kuburanya menjadi polemik dalam
Babad Tanah Jawi, dan Serat Jangka Joyoboyo Syekh Subakir. Akan tetapi
keberadaan kepetilasanya di Blitar menunjukkan bahwa beliau pernah berdakwah di
daerah Blitar sebagai salah satu pusat agama Jawa, Hindu dan Budha pada masa
kejayaan tiga kerajaan besar yaitu Kediri, Singosari dan Majapahit, dan karena
letak Blitar sendiri berada dalam garis bangunan segi tiga dari ketiga kerajaan
besar tersebut. Seorang tokoh sufi lainya dari kerajaan Mataram Islam
Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga merupakan pejuang melawan Belanda yaitu
Joyodigdo.
Secara turun temurun masyarakat Kelurahan
Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, mempercayai sebuah makam yang
berada di dekat Candi Penataran itu makam seorang ulama penyiar Islam pertama
di tanah Jawa, Syekh Syubakir. Makam itu pula yang menjadi cikal bakal
berdirinya Masjid Makam Syekh Syubakir di kelurahan setempat.
Subikhan (46)
tidak bisa menjelaskan mulai kapan sebuah makam yang di percayai sebagai makam
Syekh Syubakir itu mulai ada di kampungnya. Bahkan, makam itu sudah berdiri
zaman kakek buyutnya.
“Kalau mulai tahun kapan
berdirinya, saya tidak tahu. sejak saya lahir makam itu sudah ada. Cerita turun
temurun dari orang-orang tua di sini, makam itu di percayai makam Syekh
Subakir. Tapi sebagian lagi menyebutkan petilasan karena di tempat lain juga
ada makam Syekh Subakir,” kata Subikhan yang sekarang menjadi Ketua Takmir
Masjid Makam Syekh Subakir, itu ditemui selasa (6/6).
Menurut Babad
Tanah Jawa, Syekh Subakir adalah pembuka masa Islam di tanah Jawa sebelum
Walisongo. Syekh Subakir adalah salah seorangulama Wali Songo periode pertama
yang dikirim khalifah dari Kesultanan Turki Utsmaniyyah Sultan Muhammad 1 untuk
menyebarkan agama Islam di wilayah Nusantara. Konon, Syekh Subakir adalah
seorang ulama besar yang telah menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif
makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di Nusantara.
Maka dari
itu, wajar ada beberapa makam atau petilasan Syekh Subakir di Jawa. Selain di
Blitar, makam atau petilasan Syekh Subakir juga ada di Gunung Tidar, Magelang.
Cerita rakyat yang berkembang, dulu Syekh Subakir menumbli tanah Jawa di puncak
Gunung Tidar. Gunung Tidar di anggap sentral Tu saka-nya tanah Jawa. Ada cerita
setelah berhasil membuka siar Islam di tanah Jawa, Syekh Subakir kembali pulang
ke negara asalnya yaitu Persia.
Terlepas dari
itu, makam maupun petilasan menjadi jejak Syekh Subakir dalam menyiarkan Islam
di tanah Jawa, termasuk di Blitar. Seperti yang di ceritakan Subikhan, secara
turun temurun masyarakat Penataran mempercayai Syekh Subakir pernah menyebarkan
Islam di Blitar. Hal itu di buktikan dengan makam Syekh Subakir yang ada di
kampung itu.
Bapak dua
anak itu hanya ingat, dulu hanya ada bangunan saja di lokasi, yakni bangunan
makam Syekh Subakir. Bentuk bangunanya juga masih sederhana berupa gubuk.
Tetapi, kala itu, sydah banyak masyarakat yang ber ziarah ke makam itu.
Pada medio
1980-an, baru ada renovasi bangunan makam. Bangunan makam yang awalnya hanya
berupa pilar kayu dengan atap genteng di ganti dinding batu bata. Karena banyak
orang yang berziarah ke makam itu, masyarakat setempat juga menambah sebuah
bangunan langgar atau musala di samping makam. Pada 1993, musala itu berkembang
menjadi masjid sampai sekarang.
“Jumlah jamaahnya terus
bertambah, akhirnya di jadikan masjid. Kala itu hanya mengubah tempat imam
saja. Makam itu sebagai cikal bakal berdirinya Masjid Makam Syekh
Subakir,”ujarnya.
Tahun ini
(2017), Masjid Makam Syekh Subakir di renovasi total. Bangunan Masjid lama di
bongkar total rencananya di ganti bngunan baru. Proses pembangunan masih
berjalan. Saat Surya mendatangi lokasi, tampak sejumlah pekerja sedang mengecor
pilar-pilar Masjid. Ada 36 pilar masjid yang sudah berdiri meski belum
sempurna.
Rencananya,
Masjid Makam Syekh Subakir dibangun dua lantai. Dari gambar maket yang di
pasang di depan masjid yang baru terlihat megah. Luas bangunan juga di tambah
empat meter dari luas awal sekitar 90 meter persegi.
“Estimasi biaya pembangunan
Masjid sekitar Rp 2,5 miliar. Dana itu dari donatur, uang infak peziarah, dan
swadaya masyarakat sini. Sampai sekarang biaya pembangunanya sudah keluar Rp
300 juta,”.
Di kota
blitar ada saksi sejarah dan bukti syiar Islam di Nusantara, tak terkecuali di
Kota Blitar, Jawa Timur yaitu Masjid Agung. Masjid ini menjadi saksi yang
menyimpan sejarah panjang penyebaran Islam di kota tempat di makam kanya Bung
Karno itu.
Lokasi masjid
ini yang berdiri di area seluas 2000 meter persegi ini semula terletak di tepi
sungai Lahar Kepunden, namun pad tahun 1884, dengan tujuan untuk menghindari
banjir masjid ini di pindahkan ke sisi barat alun-alun Kota Blitar.
Peristiwa
pemberontakan G30S/PKI pada 1965 berdampak pada kekhawatiran umat Islam di
daerah tersebut. Hal ini mengakibatkan jumlah jamaah yang mengonsolidasi diri
di masjid membludak hingga meluap ke luar masjid. Akhirnya, warga setempat
sepakat memperluas areal masjid agung tersebut sehingga menampung jamaah
sebanyak 10 ribu orang.
Masjid Agung
memang sebuah sosok tua penimpan sejarah panjang siar Islam dan perkembangan
Kota Blitar, Jawa Timur. Awalnya, tempat ibadah yang dibangun pada 1820 ini hanya
terbuat dari kayu jati yang berdiri kokoh di sisi sungai Lahar Pakunden.
Pada tahun1890, guna menyelamatkan Masjid Agung, warga setempat bergotong royong merombakbangunan dan menggantinya dengan yang lebih kokoh plus bergaya arsitektur rumahJawa Kuno. Bahkan, perluasan area pun ikut di lakukan menyusul bertambahnyajamaah pascaperistiwa G30S/PKI 1965. Tak heran bila Masjid Agung mampumenampung banyak jamaah. Bahkan, hingga saat ini, bangunan sarat nuansa jawaini juga masih memancarkan sinar keagungan sebuh rumah ibadah, terutama daripilar berukuran besar dan atapnya yang terbuat dari kayu jati.
Peninggalan bersejarah di kota Blitar
Candi
Simping Blitar, Makam Sang Proklamator Majapahit
Candi
simping di temukan kembali oleh J.E. Teijsmann pada tahun 1866. Candi ini di
sebut pula dengan candi Sumberjati, sesuai dengan nama desa tempatnya berada.
Selama ini Blitar memang
dikenal sebagai bumi proklamator, sebab di kota ini lah jasad Ir. Soekarno
disemayangkan. Tetapi makam di sini hanyalah etimologi umum yang menyebut
tempat pendharmaan/ perabuan.
Keberadan Candi simping
di masa kuno cukup memperoleh perhatian besar dari kerajaan Majapahit.
Candi
Sawentar
candi
sawentar di temukan kembali oleh P.J. Perquin pada tahun 1915. Saat di temukan
bangunan candi dalam keadaan rusak dan tertimbun. Selanjutnya Candi Sawentar di
gali hingga tahun 1920, dan berhasil menampakkan kaki candi yang sebelumnya tak
tampak hingga menjadi terlihat. Pada tahun 1999 secara tidak sengaja ditemukan
kembali struktur bangunan lain disekitar Candi Sawentar, tepatnya dibelakang
Pasar Desa Sawentar. Struktur bangunan yang berasil ditemukan berupa miniatur
candi. Temuan baru ini lebih akrab disebut dengan nama Candi Sawentar II atau
Candi Candi Sawentar Kidul. Saat ini baik Candi Sawentar maupun Candi Sawentar
Kidul menjadi bagian dari Kawasan Wisata Candi Sawentar.
Candi
Plumbungan, Gerbang Lintas Waktu dari Desa Plumbungan Blitar
Candi
plumbungan secara administratif terletak di Desa Doko, Kabupaaten Blitar. Letak
candi ini sebenarnya tak terlalu jauh dari Kawedanan Wlingi. Plumbungan
sebenarnya kurang tepat di sebut Cand. Istilah candi dalam kasus ini hanyalah
etimologi umum untuk menyebut bangungunan apapun yang berasal dari massa
klasik. Candi Plumbangan sendiri sebenarnya merupakan sebuah gapura berdaya
paduraksa (atap menyatu).
arca
Warak, tanda sejarah dari desa Modangan Blitar
Kedekatan
lokasi antara Candi Penataran dengan Arca Warak tak lantas membuat kedua situs
ini memiliki corak yang sama. Jika Penataran tampil dengan segala keindahan dan
kemegahanya, Arca Warak justru tampil dengan apa adanya. Meski sama-sama
berwujud ikonik, patahan-patahan pada Arca Warak tidak serapi pada candi
Penataran. Justru inilah yang menjadi keunikan dari Arca Warak.
Arca
Warak bukan lah situs arca tunggal, tetapi merupakan reruntuhan bangunan kuno
dari masa klasik Hindhu Budha. Situs ini terdiri dari beberapa arca dan
batu-batu candi yang kondisinya tercerai berai tak beraturan. Kurang lebih ada
3 arca yang dapat di identifikasi dari situs antara lain: sebuah Arca Gajah dan
dua buah Arca berfigur Raksasa. Berdasarkan laporan Belanda pada tahun 1903 di
peroleh keterangan bahwa dya buah arca berfigur raksasa tersebut memiliki
tinggi 2 meter dan 2,5 meter dan salah satu arcanya tersusun dari 3 bagian yang
terpisah. Saat ini arca yang tersusun dari beberapa baguian tersebut memang
masih bisa di jumpai, namun hanya ada bagian kaki dan tubuhnya saja. Selain
arca, beberapa benda cagar budaya lainya, yang dapat di identifikasikan adalah
sebuah jambangan air dan 4 buah kemuncak berukir padma. Selebihnya masih banyak
batu-batu candi yang terpendam sehingga bentuk dan fungsi aslinya masih belum
teridentifikasi.
Sebagai
salah satu Icon utama Pariwisata Kabupaten Blitar, Candi Penattaran ternyata
masih menyimpan segudang misteri yang belum terkuak. Tapi misteri itu tak
sepenuhnya gelap, hanya masih saja banyak publik yang belum mengetahui
keistimewaan dari candi Penataran. Setelah mengetahuinya pasti banyak yang akan
terperanjat.
Ketertarikan
untuk mengulas ulang candi Penataran Blitar berawal dari sebuah buku karangan
Lidya Kleven. Pada buku tersebut banyak diulas mengenai candi-candi, salah
satunya bahasanya adalah candi penataran dari sisi relief dan sedikit sisi
arsitekturnya. Luar biasa, ternyata banyak makna dan fakta seputar Candi
Penataran Blitar yang jauh dari pemahaman kita selama ini.
Hingga
kini tata ruang Candi Penataran Blitar masih dipertahankan. Pengunjung memasuki
area candi melalui sisi yang sama yakni dari pintu masuk utama yang ditandai
dengan keberadaan arca dwarapala raksasa dengan posisi jongkok. Dari pintu
utama kebanyakan pengunjung langsung menuju ke arah candi angka tahun kemudian
ke candi induk, dam mengabaikan keberadaan pendopo agung dan teras pendopo.
Mungkin alasannya karena bangunan-bangunan besar seperti candi angka tahun dan
candi induk lebih fotogenik.
Blitar, Masjid Agung di sejumlah kota di Indonesia
selalu menjadi saksi sejarah dan bukti syiar Islam di Nusantara, tak terkecuali
di kota Blitar, Jawa Timur. Masjid ini menjadi saksi yang menyimpan sejarah
panjang penyebaran Islam di kota tempat dimakamkannya Bung Karno itu.
Lokasi masjid yang berdiri di area seluas 2000 meter persegi ini semula
terletak di sisi sungai Lahar Kepunden, namun pada tahun 1884, dengan tujuan
untuk menghindari banjir masjid ini dipindahkan ke sisi barat alun-alun Kota
Blitar.
Peristiwa pemberontakan G30S/PKI pada 1965 berdampak pada kekhawatiran umat
Islam di daerah tersebut. Hal ini mengakibatkan jumlah jamaah yang
mengonsolidasi diri di masjid membludak hingga meluap ke luar masjid. Akhirnya,
warga setempat sepakat memperluas areal masjid agung tersebut sehingga mampu
menampung jamaah sebanyak 10ribu orang.
Secara desain, nuansa klasik Jawa amat terasa terutama pada bagian interior
masjid yang didominasi warna coklat. Nuansa Jawa kuno itu semakin terasa jika
melihat bagian atap berbentuk limasan yang disangga oleh empat tiang tinggi.
Komposisi ini jika dilihat dari dalam mengingatkan kita pada model Masjid Agung
Demak atau Masjid Kauman, Yogyakarta.
Sementara itu kesan klasik bergaya kolonial terasa pada bagian teras yang
dilengkapi oleh tiang-tiang ala rumah art deco berbahan beton yang
pendek-pendek. Yang unik, tiang pendek itu disambung dengan tiang kayu balok di
bagian atasnya. Sambungan ini mengesankan deretan pilar jadi nampak jangkung
dan kurus. Komposisi tersebut menjadi sempurna dengan padu padan daun-daun
jendela berwarna krem dengan garis-garis mendatar, plus sejumlah
lampu hias warna coklat dengan motif klasik.
Pada bagian luar, masjid yang memiliki menara berbentuk mercusuar itu
didominasi warna putih dengan kubah utama berwarna hijau. Sejumlah kubah kecil
berbahan aluminium juga menjadi ornamen yang melengkapi bagian atas masjid.
Jika Anda hendak berziarah ke makam bung Karno di Blitar, ada baiknya Anda tak
melewatkan kesempatan untuk menikmati kesyahduan saat beribadah di masjid yang
memiliki luas bangunan 1500m2 itu. Suasana masjid ini akan mengantarkan Anda
pada suasana Jawa Kuno, sekaligus saksi bisu sejarah syiar Islam di kota kecil
Blitar yang rapi.
(sigit/bimasislam)
Sedangkan di daerah desa udanawu terdapat sebuah
masjid yang bernama masjid Tiban.
Banyak kisah misteri di balik keberadaan Masjid Tiban.
Karena keberadaannya sering dianggap “Dari Langit”, masjid-masjid demikian acap
dijadikan tempat bermunajab atas harapan.kecermelangan hidup dan masa depan.
Di mana sajakah masjid-masjid PARAWALI itu berada, dan apa saja
keistimewaannya?
Pertama diketahui, bersamaan dengan peristiwa pembabatan hutan. Warga
Dusun Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jatim,
menyebutnya sebagai Masjid Tiban. Disebutkan demikian, karena masjid itu tiba-
tiba ada. Tiba-tiba bercokol di salah satu sudut desa mereka, tanpa sempat
diketahui proses pembuatannya Karenanya, banyak juga yang menganggap masjid itu
dari langit. Tepatnya, turun dari langit, dan jatuh di salah satu sudut Dusun
Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu. “Ya, masjid itu seolah-olah turun
dari langit, dan jatuh di salah satu sudut desa kami,” ujar beberapa warga Desa
Temenggung.
Orang pertama yang berjasa atas keberadaan masjid itu adalah Abdullah
Islam (alm). Dia seorang ulama besar yang berkaliber Wali. Itulah sebabnya,
Abdullah Islam pun semasa hidupnya akrab disapa masyarakat setempat sebagai
Mbah Wali. “Dia memang seorang Wali, sehingga tidak salah kalau masyarakat di
sini menyebutnya Mbah Wali,” ujar Siti Fatonah (70), salah seorang menantu Mbah
Wali.
Di Kabupaten Blitar dan sekitarnya, masjid tiban di Dusun Gembong ini
populer dengan sebutan Masjid Kuno. Pihak Pemda setempat mengiventarisir masjid
itu sebagai cagar budaya yang perlu dilindungi. Tetapi sayangnya, tampak muka
masjid ini hilang sama sekali oleh bangunan masjid baru yang disebut-sebut sebagai
hasil renovasi.
Keterangan yang berhasil dihimpun LIBERTY menyebutkan, masjid itu
pertama kali diketahui bersamaan dengan pembabatan hutan setempat untuk
dijadikan hunian. Ketika pembabatan hutan terjadi, mendadak warga terbelalak
oleh sebuah masjid yang terdapat di tengah hutan. Masyarakat pun lalu
menyebutnya sebagai masjid tiban, karena tanpa sempat mengetahui proses
pembuatannya.
Rajjah Allah Tanpa Alif
Masjid tersebut disebut-sebut foto copy dari Masjid Nabawi di Madinah.
Empat menara yang menjulang tinggi menghias di setiap sudutnya. Pada pokok
menara, terdapat jamban dengan air yang tak pernah kering se- kalipun di musim
kemarau panjang. “Air pada menara-menara itu, banyak dipercaya masyarakat
berkhasiat kesembuhan,” terang Fatonah.
Konon, penyakit apapun bisa di- sembuhkan dengan air di jamban menara-menara
masjid itu. Mulai dari penyakit kulit, hingga penyakit dalam. Khasiat
kesembuhan pada air tersebut, disebut-sebut sebagai tuah dari air zam-zam yang
telah bersenyawa sejak zaman Mbah Wali. “Mbah Wali lah orang pertama yang
mengatakan kalau air di jamban menara-menara itu sudah bercampur dengan air
zam-zam,” ungkap Fatonah.
Uniknya, hampir setiap sudut masjid itu dirajah dengan tulisan arab
Allah tanpa huruf alif. Mulai dari kusen-kusennya, daun pintu, daun jendela,
bahkan pilar, reng dan usuk-usuknya. Tulisan arab Allah itu tampak timbul
dengan postur huruf yang sangat lembut dan sangat kecil-kecil. Kayu- kayunya
merupakan kayu jati pilihan.
Rajah Allah tanpa huruf alif itu sengaja dibuat oleh Mbah Wali. Menurut
Fatonah, semasa hidupnya dalam setiap tarikan nafasnya Mbah Wali selalu
menyebut Allah, Allah, Allah dan Allah. “Tulisan Allah tanpa huruf Alif itu
seperti yang pernah dikatakan oleh Mbah Wali, Alif-nya adalah dirinya sendiri.
Tetapi saya tidak tahu maksudnya, mengapa harus begitu,” urai Fatonah.
Barangkali, Mbah Wali ini seorang sufi. Dia ibaratkan dirinya sebagai
Alif, yang hanya akan bermakna dalam jika digan- dengkan dengan “llah”. Diapun
hidup karena “llah”. Dia pun baru berarti karena “llah”. Dia pun sebagai
manusia Islam, hanya karena “llah”. Wingit “Dulu, kecilan saya dulu,
masjid itu tampak wingit sekali. Saking wingitnya, anak-anak kecil sampai
banyak yang tidak berani datang sendirian ke masjid itu,” kenang Solekan,
seorang kepaia SMPN Ponggok yang tinggal tidak jauh dari masjid tiban ini.
“Sayapun, dulu takut sekali jika harus ke masjid itu seorang diri,” lanjut
Solekan. Wingitnya masjid itu, konon seringnya digunakan oleh jin-jin Islam
untuk ikut sholat berjamaah bersama umat muslim lainnya. Jiivjin memang tidak
selalu me- nampakkan diri, namun kehadirannya cukup bisa dirasakan oleh jamaah
yang melaksanakan sholat di masjid tersebut.
Beberapa warga setempat menyebutkan perihal “terasanya” kehadiran
jin-jin Islam sewaktu sholat di masjid tiban te- menggung ini. Ketika sholat
berjamaah hanya terdiri dari beberapa orang, tiba-tiba ketika usai membaca
surat Al Fatihah yang “mengamini” terdengar banyak sekali, sehingga suaranya
pun tidak sebanding dengan jamaah yang ada.
Masih segar dalam ingatan Solekan, kesan wingit atas masjid tiban di
Temeng- gung ini sudah terasa sewaktu menjejakkan kaki di halamannya. “Tetapi
sekarang barn bisa merasakan kesan wingit dari masjid itu setelah masuk
kedalamnya,” tegas Solekan yang ditemui LIBERTY di kediamannya.
Seorang pengurus masjid tiban yang masih kerabat Mbah Wali menyebutkan,
di dalam masjid itu ada lampu-lampu minyak kuno yang aneh. Dikatakan aneh,
karena sewaktu Mbah Wali masih hidup, lampu-lampu minyak akan menyala sepanjang
malam meski tanpa diisi minyak. “Inilah lampu- lampu minyak itu,” ujar M Basuni
sambil menunjukkan lampu yang dimaksud pada LIBERTY.
Basuni adalah cucu menantu Mbah Maksum, salah seorang putra Mbah Wali.
Putra lain Mbah Wali adalah Sulaiman Zuhdi. Fatonah sendiri merupakan istri
dari Mbah Maksum. Kini, jasad Mbah Wali, Mbah Maksum dan Mbah Sulaiman
Zuhdi tempat imaman masjid tiban itu.
Lampu-Jampu minyak itu sendiri, kini tergantung melingkar di pilar
tengah masjid yang menjelang di antara empat soko guru (empat pilar penyangga
atap). Lampu-lampu itu, tampak berdebu dan tersusun sedemikian rupa dari bawah
hingga pucuk pilar tengah. Jumlah sangat banyak, dan dari dulu hingga sekarang
tempatnya pun relatif tak berubah.
Tak Pernah Sepi Pengunjung
Meski letaknya relatif terpencil, namun masjid tiban Temenggung ini
hampir tidak pemah sepi dari pengunjung. Mereka datang dari berbagai pelosok
Nusantara. Beberapa warga setempat sempat bingung, dari mana pengunjung itu
tahu kalau di Dusun Gem- bong ada masjid tiban yang membetot hasrat mereka
untuk mengunjunginya dan berolah spiritual.
Tidak sedikit di antara para pengunjung itu yang datang karena mendapat
petunjuk lewat mimpi. Mereka terlebih dahulu bermimpi melihat masjid yang belum
pernah sekalipun didatanginya itu. Tidak sedikit pula yang datang karena
bisikan gaib yang menyuarakan kebe- radaan masjid tiban Temenggung.
Pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini, tidak sedikit di antara para
pengunjung itu yang beritikaf di masjid itu dengan tadarus, wind dan dzikir.
Dzikir mereka pun meniru Mbah Wali, yakni Allah … Allah … Allah …, dalam
bilangan ribuan kali.
Seorang pengunjungyang mengaku datang dari Jawa Barat mengaku,
kedatangannya ke masjid tiban di Temenggung ini untuk mohon petunjuk atas
bisnis yang tengah dijalankan. Lelaki setengah baya itu kepada LIBERTY mengaku
bernama Imron. Tetangga saya di Pekalongan, setelah dzikir di sini dagang
batiknya sukses. Dulu, dia tak pernah bisa membayangkan akan bisa menghidupi
anak-anak yatim hingga 10 orang, tetapi setelah mohon petunjuk di masjid ini
semuanya berjalan lancar. Rejekinya pun berlimpah,” urai Imron yang mengaku
buka usaha perbengkelan.
Tidak takutkah Imron berdzikir sambil memilin-milin biji tasbih di dalam
masjid yang benar-benar terkesan wingit itu? “Tidak ada yang saya takutkan,
kecuali Allah,” kata Imron menjawab pertanyaan LIBERTY.
Banyak Imron-imron yang lain, datang ke masjid tiban di Temenggung itu
dalam rangka ikhtiar atas usahanya. Mereka, datang ke masjid itu dengan penuh
keyakinan, bahwa Allah akan menolongnya. “Tetapi ya tidak mungkin toh, hanya
berdiam di masjid lantas Tuhan men- jatuhkan rejeki dari langit begitu saja.
Jadi, di sini ini selain berdoa ya juga harus be- kerja keras,” aku Imron.
Suasana religius masjid tiban Temenggung benar-benar sangat terasa,
bersamaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Di atas hamparan sajadah, tanpa
penerangan sedikit pun, mereka mewirid Asmaul Husna (99 sebutan- sebutan bagus
untuk Allah SWT
Pada tahun 1820, didirikanlah
sebuah Masjid yang terletak disebelah utara jembatan kali LAHAR kelurahan
Pekunden, timur kali dengan bangunan gebyog dan beratap sirap ( dinding dan
atap terbuat dari kayu jati ). Pada th 1828 M
Penghulu KY.IMAM BESARI wafat, beliau dimakamkan di pemakaman Sumbersoka
Blitar, penghulunya diganti oleh saudaranya bernama KY.R.IMAM SJAFI’I beliau
wafat pada th 1848 M. kemudian penghulunya diganti oleh menantu KY.IMAM BESARI
bernama KY.R.KAMALUDDIN sebagai penghulu yang ketiga
Sepintas, Masjid Agung Blitar
yang berada di sebelah barat alun-alun ini tampak seperti bangunan tahun
1960-an yang terdiri dari dua lantai dengan kolom-kolom beton dan menara putih
menjulang. Apalagi di kanannya (selatan) terdapat sebuah bangunan bertingkat
dengan desain yang kaku, yang sama sekali tidak mengindikasikan sebuah bangunan
lama. Tetapi jika dilihat lebih ke dalam lagi, kesan kunonya baru terasa.
Bagian dalam tersebut masih memakai tegel lama, begitu pula dengan kolom dan
baloknya yang masih memakai kayu jati yang besar-besar.
Masjid ini dibangun dalam
beberapa tahap pembangunan. Tahap pembangunan pertama adalah tahun 1820. Ketika
itu Kabupaten Blitar masih beribukota di Srengat dan yang menjadi penghulu di
Blitar adalah Ky. Imam Besari menggantikan penghulu sebelumnya, Ky. R. Kasiman.
Masjid baru tersebut berdiri di sebelah utara jembatan Kali Lahar di Kelurahan
Pekunden. Bangunannya masih sederhana, dindingnya dari kayu jati dan atapnya
masih sirap.
Meskipun bentuk dan bahannya
masih sederhana, masjid tersebut mampu bertahan selama beberapa tahun,
menghadapi berbagai bencana alam yang menimpa. Keletakannya yang berada di
pinggir sungai aliran lahar memang membuat masjid tersebut rentan terjangan
banjir lahar dingin dari Gunung Kelud. Tercatat tiga kali lahar dingin
menerjang masjid tersebut yaitu pada 1826, 1835 dan 1848.
Pada terjangan banjir yang ke
tiga, 1848, masjid mengalami kerusakan yang cukup parah. Bencana yang
disebabkan meletusnya Gunung Kelud tersebut tidak hanya merusak masjid tetapi
juga mempengaruhi pemikiran tentang kelayakan Srengat sebagai ibukota Blitar.
Karena banjir lahar yang kerap terjadi membuat jalannya pemerintahan terganggu.
Apalagi kemudian, banjir juga menghancurkan rumah kediaman bupati.
Maka setelah bencana tahun itu,
pusat pemerintahan Blitar, juga masjid agung-nya, dipindahkan ke tempat
sekarang ini. Saat itu Bupati Blitar dijabat oleh Raden Mas Aryo Ronggo
Hadinegoro sedang penghulu yang merangkap tetua masjid Jami’ yaitu Kyai Raden
Kamaludin, keturunan kyai Kasiman penghulu Srengat, yang menggantikan Penghulu
III Kyai R.Kasan Soehodo yang diangkat sejak tanggal 31 Maret 1946 hingga tahun
1848.
Ketika itu, bupati menunjuk tanah
bagian timur sebagai Bumi Kanjengan (Batas sebelah barat Jl. Masjid,
sebelah timur Sungai Urung – Urung, sebelah selatan Jl. Merdeka –
Jl. A. Yani, sebelah Utara Jl. Anjasmoro – Jl. Pahlawan bila dilihat ujud
sekarang). Untuk tempat kediaman Kanjeng dan kegiatan dinas sehari-hari
dibangun rumah dinas Bupati lama (sekarang komplek pertokoan sebelah timur
Gedung Dipayana yang pernah dipakai sebagai kantor CPM).
Sedangkan tanah sebelah barat
bumi Kanjengan hingga Sungai Lahar, diserahkan pengaturannya kepada penghulu
Blitar untuk bangunan Masjid dan menempatkan etnis Arab di sebelah
utara Masjid kearah barat. Dulu dikenal dengan nama Kampung
Arab, selanjutnya setelah mengalami perkembangan menjadi nama Kauman. Melalui
kegotongroyongan dan bantuan dana dari beberapa pihak, masjid dapat dibangun
pada tahun itu juga (1848) dengan bahan kayu.
Pada tahun 1890, Penghulu Blitar,
yang saat itu dijabat oleh Ky. Imam Boerhan, mempunyai prakarsa untuk bangunan
masjid yang berbahan kayu tersebut dengan bahan bata. Dengan persetujuan bupati
Blitar yang kala itu dijabat oleh R. Adipati Warso Koesoemo maka dimulailah
tahap ke tiga pembangunan Masjid Agung Blitar. Pembangunan saat itu dilakukan
secara bergotong royong. Umat Islam dari berbagai tempat di Blitar, baik di
desa maupun di kota, setiap hari berdatangan untuk memberikan daya upayanya,
baik moril maupun materi. Menurut catatan Penghulu Imam Boerhan, pembangunan
tersebut dimulai pada hari Kamis Kliwon 12 Oktober 1890 M atau 20 Muharram 1303
H.
Paska pembangunan 1890 masjid
pernah mengalami beberapa renovasi dan penambahan unsur-unsurnya. Pada 1927
dibuat gapura dan setahun kemudian, 1928, dibangun menara di sebelah kanan
(selatan) masjid. Dan pada 1933 masjid diperluas dengan penambahan serambi di
kanan dan kirinya yang diarsiteki oleh KH. Muchsin Dawuhan yang masih kerabat
Penghulu Imam Boerhan. Desain tersebut masih bertahan hingga kini, yang
sekarang menjadi bagian dalam masjid. Tetapi gapura dan menaranya telah runtuh
akibat gempa bumi yang terjadi di Blitar pada 20 Oktober 1958.
Selanjutnya pada tahun 1966
timbul pemikiran dari H. M. Bachri Pakunden, salah satu keturunan Ky. Imam
Boerhan, untuk membangun kembali menara yang rusak. Keinginan tersebut baru
dapat direalisasikan mulai 10 Agustus 1967 dengan pembentukan Biro Pembangunan
Masjid Besar Kodya/Kab. Blitar dengan ketuanya Walikota Blitar R.
Prawirokoesoemo.
Dalam pelaksanaannya, menara
dibangun tidak lagi di tempat semula, tetapi di sebelah utara. Kemudian untuk
memperluas daya tampung jamaah yang semakin meningkat sejak peristiwa 1965,
dibangun pula serambi bertingkat yang diperkirakan akan dapat menampung hingga
5000 jamaah. Proses pembangunan tersebut dapat diselesaikan pada akhir 1971.
(Lap. Inventarisasi ODCB Kota Blitar 2017)
Setelah terjadinya peristiwa G
30 S/PKI, timbulah situasi baru, yaitu pengunjung Sholat Jum’ah di Masjid
tersebut makin bertambah, sehingga meluap sampai di halaman Masjid, bahkan
sampai di jalan muka gapura. Karena situasi yang sudah tidak mencukupi untuk
menampung jamaah itulah cita-cita yang semula hanya akan membangun menara, kemudian
ditinggkat, yang diperkirakan dapat menampung lebih dari 5.000 orang jama’ah.
Trenggalek adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur,
Indonesia. Pusat pemerintahan berada di Trenggalek kota. Kabupaten ini
menempati wilayah seluas 1.205,22 km² yang dihuni oleh ±700.000 jiwa. Letaknya
di pesisir pantai selatan dan mempunyai batas wilayah sebelah utara dengan
Kabupaten Ponorogo; Sebelah timur dengan Kabupaten Tulungagung; Sebelah selatan
dengan pantai selatan; dan Sebelah barat dengan Kabupaten Pacitan.
Kabupaten Trenggalek termasuk
kabupaten kecil di Jawa Timur yang hanya mempunyai sedikit sejarah. Dalam
sebuah sumber Sejarah dari sedikit yang ada di Kabupaten Trenggalek disebutkan
bahwa sebenarnya sejak jaman Raja Air-langga, sudah ada penduduk atau pedagang
pedagang Islam di Jawa. Namun penyebaran Agama Islam lebih intensif sejak jaman
para wali, yang didukung oleh Kerajaan / Kesultanan Demak. Agama Islam yang
disebar secara halus dan hati hati ini nampak jelas pada penyebaran Agama Islam
di Trenggalek. Sayangnya, sampai saat ini tidak ada dokumen tertulis yang
menyebutkan tentang penyebaran Agama Islam di Trenggalek. Yang sudah ditemukan
hanya cerita rakyat (folklore) yang sangat terkenal di Daerah Trenggalek, yang
diceritakan secara lisan dan turun temurun. Yaitu tentang cerita dari seorang
tokoh terkenal di Kabupaten Trenggalek yang bernama Menak Sopal.
Sedangkan untuk menyusun Sejarah Lokal, maka cerita rakyat
atau forklore tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Memang harus dipisahkan
antara mana yang sejarah dan mana yang cerita rakyat atau dongeng. Harus
diingat pula bahwa Suku Jawa khususnya dan Bangsa Indonesia pada umumnya kerap
kali menggunakan lambing lambang dan perumpamaan yang berhubungan dengan
sejarah. Begitu pula dalam sejarah Menak Sopal ini. Banyak versi tentang cerita
Menak Sopal ini, tetapi pada dasarnya isinya tetap sama. Dan biasanya cerita
semacam ini dihubungkan dengan nama nama tempat di daerah daerah dimana cerita
itu berkembang, dalam hal ini Dam Bagong di daerah Bagong, Kabupaten
Trenggalek.
Menurut hikayat, ada seorang yang berasal dari Mataram
yang bertugas mengatur daerah di timur Ponorogo yang sekarang disebut
Trenggalek, yang bernama Ki Ageng Galek. Seringkali jika kita berbicara tentang
Mataram selalu dihubungkan dengan Kerajaan Mataran Islam. Sedangkan yang
dimaksud Mataram dalam cerita Menak Sopal ini tidak demikian. Sebab Mataram yang
dimaksud di sini adalah Mataram milik Majapahit. Hal ini dibuktikan dari Kitab
Negarakertagama pupuh VI bait 3, yang menyebutkan antara lain:
…..
Haji raja ratw ing Mataram lwir Yang Kumara nurun ….. dalam bahasa Indonesia
….. Raja di Mataram laksana Dewa Kumara datang di bumi ….. (lihat Prof. Dr. Slamet Mulyana
Nagarakretagama dan tafsir sejarahnya, Bhatara, Jakarta, 1979, halaman 276).
Dalam hikayat juga disebutkan bahwa, Ki Ageng Galek (mbah
Galek / mbah Kawak) yang makamnya ada di Setono – Trenggalek adalah Muballigh
atau Penyiar Agama di Trenggalek yang tertua yang ada peninggalannya. Muballigh
yang lebih dulu mungkin sudah ada, tetapi tidak ada bukti peninggalannya.
Ki Ageng Galek dibantu oleh 6 santri (ada sumber yang menyebutkan
bahwa santri ini adalah sahabatnya, ada juga sumber yang menyebutkan bahwa
santri ini adalah putranya sendiri), yaitu:
Ki
Joyonagoro; berkedudukan di Joyonegara atau Jonegaran.
Ki
Sosuto; berkedudukan di Sosutan.
Ki
Dobongso; berkedudukan di Dobangsan.
Ki
Ardimanggala; berkedudukan di Redimenggalan.
Ki
Surohandaka; berkedudukan di Surondakan.
Ki
Singomanggala; berkedudukan di Singomenggalan.
Kemudian ada (datang) seorang Muballigh muda yang masih
bujangan membuka perguruan (pondok) di daerah Bagong yang bernama Minak Sraba.
Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, datang pula seorang putri dari
Keluarga Raja Majapahit yang beragama Islam yang bernama Rara Amiswati, yang
menjadi anak angkat Ki Ageng Galek.
Dalam cerita di babad Trenggalek disebutkan bahwa Ki Ageng
Galek ditugasi untuk memelihara seorang putri yang berasal dari Majapahit yang
bernama Dewi Amiswati atau Dewi Amisayu, sebab kaki putri tersebut berpenyakit
luka – luka dan berbau amis atau busuk. Dalam cerita itu memang nama puteri tadi
tidak diketahui dengan pasti. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan bagi Suku
Jawa, ingat saja akan cerita Wayang Purwa yang terdapat nama Dewi Laraamis yang
karena mempunyai penyakit badannya berbau busuk lalu oleh ayahanda raja
ditugasi menjadi penyeberang Bengawan Silugangga, yang nanti akhirnya akan
ditolong oleh Palasara yang merupakan penurun keluarga Pandawa dan Kurawa.
Ki Ageng Galek merasa bingung dalam melaksanakan tugas ini,
sebab semua obat telah dipergunakan guna menyembuhkan penyakit sang puteri
Amisayu. Sudah berjenis – jenis obat yang digunakan tapi penyakitnya tidak bisa
sembuh. Karena itu disuruhnya Dewi Amisayu mandi di Sungai Bagongan (Sungai
tersebut sekarang terletak di Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek). Karena
merasa malu dan sedih hati, maka Putri Amisayu bersamaan dengan menjalani
ritual mandi di sungai tersebut mengucapkan sayembara bahwa siapa saja yang
dapat menyembuhkan luka – lukanya bila wanita akan dianggap saudara dan bila
pria akan dijadikan suaminya.
Berita ini didengar oleh raja dari seluruh buaya yang berkedudukan di Lubuk
(kedung) Bagongan, yang kulitnya berwarna putih. Karena itu disebut buaya
putih. Buaya tersebut bernama Menak Sraba. Kata buaya mengandung lambang
bahaya, sedangkan putih adalah lambang kesucian, yang berarti kesucian suatu
agama. Sedangkan kata Menak biasa dipakai oleh golongan priyayi pada jaman
Islam, utamanya dari suku Sunda yang sampai sekarang kata Menak bagi suku Sunda
berarti golongan bangsawan.
Jadi disini Menak Sraba adalah pimpinan umat Islam di daerah sekitar Trenggalek
yang oleh Ki Ageng dan golongannya yang masih beragama Hindu dianggap musuh
yang membahayakan. Sedangkan kedung atau lubuk mengandung makna dalam. Jadi
kalau Minak Sraba berasal dari Kedung berarti pimpinan umat Islam yang berasal
dari pedalaman.
Akhirnya, Menak Sraba berganti wujud menjadi manusia. Disamping Menak Sraba
berwajah tampan, juga mau merendahkan diri. Hal ini tampak di dalam cerita ketika
Menak Sraba mengobati luka – luka Dewi Amisayu dengan cara menjilati luka di
kaki sang dewi tadi. Disini Menak Sraba lalu berwujud seolah – olah seperti
ksatria Hindu yang dengan rendah hati memuji – muji Dewi Amisayu. Akibat dari
tindakan ini Ki Ageng Galek mau menerima Menak Sraba sebagai anggota
keluarganya dan mengawinkannya dengan Dewi Amisayu.
Ketika Dewi Amisayu hamil 7 bulan, Menak Sraba memberi pantangan – pantangan
yang tidak boleh dilanggar, antara lain Dewi Amisayu tidak diperkenankan
membuka penutup buah dadanya (bahasa jawa: mekak) dan ikat ping-gang kain
panjangnya (bahasa jawa: bengkung) pada waktu matahari tenggelam. Namun apa
daya, mungkin telah menjadi kodrat Tuhan Yang Maha Esa yang tidak dapat
dihindari, karena pada suatu hari pada waktu matahari tenggelam, Dewi Amisayu
menjemur penutup buah dadanya dan membuka ikat pinggang kain panjangnya.
Sesudah itu Dewi Amisayu masuk ke dalam rumah dan sangat terkejut ketika
menemui buaya putih dalam ruang itu. Apalagi ketika buaya putih ini berbicara
seperti manusia, yang menerangkan bahwa sebenarnya buaya putih itu adalah Menak
Sraba yang merupakan suaminya sendiri. Buaya putih itu berkata bahwa besok bila
Dewi Amisayu berputra laki – laki hendaklah diberi nama Menak Sopal. Dari
gambaran cerita ini dikandung maksud perlambang bahwa Dewi Amisayu tidak
diperkenankan menjemur atau membuka penutup buah dadanya dan ikat pinggang kain
panjangnya di waktu Maghrib. Yang dimaksud disini adalah Dewi Amisayu tidak
diijinkan bertelanjang bulat pada waktu Maghrib. Karena itu Dewi Amisayu
bertelanjang memasuki ruang ternyata pada waktu itu Menak Sraba sedang Sholat
Maghrib dan ternyata tidak dapat diganggu tafakurnya terhadap Tuhan, meskipun
Dewi Amisayu telah bertelanjang bulat. Sejak itulah Dewi Amisayu mengetahui
bahwa suaminya tidak beragama Hindu tetapi sudah menjadi pemeluk agama Islam.
Guna menghindari kericuhan dalam keluarga dan rakyat Ki Ageng Galek, maka Menak
Sraba kembali ke tempatnya yang semula dengan meninggalkan Dewi Amisayu.
Beberapa bulan sepeninggalan Menak Sraba, Dewi Amisayu melahirkan puteranya
yang berjenis kelamin laki – laki dan diberi nama Menak Sopal. Singkat cerita,
ketika Menak Sopal sudah dewasa, Menak Sopal meminta keterangan kepada ibunya
tentang siapa sebenarnya ayahnya, Dewi Amisayu terpaksa berkata bahwa
sebenarnya ayah Menak Sopal adalah buaya putih penjaga Kedung Bagongan. Ketika
Menak Sopal mendengar uraian ibunya ini, maka segeralah dia memohon diri untuk
pergi mencari ayahnya. Setelah beberapa waktu melakukan perjalanan, akhirnya
Menak Sopal bisa bertemu dengan ayahnya. Disitulah Menak Sopal dididik dan
diberi pelajaran Agama Islam. Sepulang Menak Sopal dari Kedung Bagongan menuju
Trenggalek, mulailah perjaka yang telah menjadi muslim ini berfikir bagaimana
cara agar rakyat Trenggalek bersedia memeluk agama Rosul.
Disini Menak Sopal harus menarik hati rakyat Trenggalek.
Untuk itu, rakyat Trenggalek yang pada waktu itu sebagai petani yang daerahnya
sangat kekurangan air, maka perlu didirikan tanggul air agar pengairan bisa
memberi kemakmuran di daerah tadi. Inilah salah satu alat yang dapat dijadikan
pegangan agar rakyat Trenggalek mau beragama Islam. Menak Sopal berusaha
membuat tanggul atau bendungan di Sungai Bagong. Berulang kali bendungan itu
dibuat tetapi selalu gagal. Untuk itu Menak Sopal meminta petunjuk ayahnya dan
diberitahu bahwa bendungan bisa terwujud bila ditumbali kepala gajah putih.
Untuk itu Menak Sopal mengirimkan utusannya ke tempat Randa
Krandon (janda yang bertempat tinggal di Krandon) yang mempunyai gajah putih.
Janda Krandon tidak keberatan untuk meminjamkan gajah putihnya asal setelah
selesai tugasnya dalam membantu pembuatan bendungan hendaklah segera
dikembalikan ke Krandon. Utusan Menak Sopal menyanggupinya. Akhirnya gajah
putih dibawa ke Trenggalek dan di dekat Sungai Bagongan gajah putih disembelih
dan dagingnya dibagi – bagikan kepada rakyat yang bekerja untuk membuat
Bendungan Bagong, sedangkan kepalanya dijadikan tumbal disitu. Ketika sudah
ditumbali dengan kepala gajah putih, maka bendungan itu dapat diwujudkan. Air
mulai mengairi sawah – sawah dan dapat diatur guna keperluan sehari – hari
penduduk Trenggalek. Rakyat Trenggalek bersuka ria karena sawahnya dapat
ditanami padi dua kali dalam setahun, padahal dulu hanya merupakan sawah tadah
hujan saja. Hasil pertanian kian melimpah ruah menambah kesenangan hidup para
petani. Dari tindakan Menak Sopal inilah rakyat Trenggalek mau memeluk Agama
Islam.
Di dalam cerita ini diceritakan bahwa bendungan itu diberi
tumbal kepala gajah putih. Yang dimaksud gajah putih adalah lambang Agama
Buddha dan Hindu. Gajah adalah lambang kebesaran, putih adalah lambang kesucian
suatu agama. Jadi yang dimaksud disini adalah pimpinan – pimpinan agama Hindu
Buddha di daerah itu dapat diajak kerjasama oleh Menak Sopal untuk membuat
bendungan, dan setelah berhasil rakyatnya merasa lebih berbahagia bila beragama
Islam, karena disitu dijelaskan bahwa badannya gajah itu dagingnya dibagi – bagikan
kepada rakyat dan kepalanya dipenggal dan dijadikan tumbal.
Disini mengandung arti bahwa pimpinan agama Hindu dan Buddha
dipisahkan dari rakyatnya dan dengan sendirinya gajah putih itu mati, yang
berarti agama Hindu dan Buddha lenyap dan berganti dengan agama Islam. (Gajah
putih adalah lambang Negara Muangthai yang memeluk agama Buddha). Di dalam cerita
ini juga terdapat tanda kebenaran bahwa sila ketiga dari Pancasila yang
meliputi kerukunan umat beragama juga pada waktu itu telah dilaksanakan. Jadi
tidak mustahil bila rakyat Trenggalek sekarang menganggap Menak Sopal adalah
Bapak Pertanian pada jaman dahulu.
Janda Krandon sudah lama menanti kedatangan gajah putih tidak pernah
dikembalikan. Karena itu janda Kradon terpaksa menyiapkan tentaranya untuk
meminta kembali gajah putihnya dari tangan Menak Sopal. Untuk menghindari
pertumpahan darah di daerah Trenggalek, maka Menak Sopal minta pertolongan
ayahnya dan bersama – sama membuat lorong di dalam tanah yang oleh rakyat
sekitar biasa disebut gangsiran dari daerah Trenggalek ke rawa Ngembel. Gangsiran
atau lorong di dalam tanah mengandung perlambang penyebaran agama Islam yang dilakukan
secara diam diam. Janda Krandon yang menyiapkan tentaranya berjaga jaga di
puncak gunung sekitar Trenggalek sambil menanti gerak gerik tentara Menak
Sopal. Karena terlalu lama di daerah itu sampai tangkai tombak prajurit – prajuritnya
dimakan bubuk, akibatnya daerah itu diberi nama Gunung Bubuk. Sehubungan dengan
itu janda Krandon terpaksa membatalkan ke-hendaknya untuk menyerang daerah
Trenggalek.
Di dalam cerita itu dinyatakan bahwa tentara tentara janda Krandon tangkai
tombaknya dimakan bubuk (tombak harus mempunyai tangkai, bila tidak bertangkai
maka tombak tidak dapat dipergunakan lagi. Dengan kata lain tidak berfungsi
lagi). Disini yang dimaksud dengan tangkai tombak adalah rakyat Krandon. Dan
maksud dari dimakan bubuk adalah rakyat disini sudah terkena pengaruh Menak
Sraba dan Menak Sopal yang menyebarkan agama Islam secara diam – diam
(gangsiran). Akibatnya rakyat Trenggalek akhirnya beragama Islam. Karena itu,
ujung tombak atau pimpinan yang masih beragama Hindu tidak mampu merebut
kembali kepemimpinannya. Dan karena itu puladisitu dikatakan bahwa prajurit – prajurit
itu dipimpin oleh janda Kradon. Janda adalah wanita yang sudah ditinggal
suaminya. Dengan kata lain yang dimaksud disini adalah pemimpin umat Hindu
Buddha di daerah itu sudah kehilangan pelindungnya. Itu disebabkan karena
Majapahit telah runtuh dan kesultanan Islam Demak Bintoro setelah berdiri.
Minaksopal sebagai seorang muballigh dan adipati islam,
telah berhasil menuntaskan penyaran Islam di Trenggalek pada waktu itu,
sehingga pada waktu itu sebagian penduduk di Kabupaten Trenggalek secara
kwantitas menjadi penganut Agama Islam. Hal tersebut terbukti di seluruh
wilayah Kabupaten Trenggalek sejak masa pemerintahan Adipati Minaksopal, tidak
ada lagi kuil, pura, dan candi. Yang ada ialah tumbuh berkembangnya masjid,
langgar dan kemudian pondok pesantren.
Itu adalah sedikit cerita tentang bagaimana Islam masuk di Trenggalek dari
sudut pandang Cerita Rakyat (Folklore). Sedangkan untuk Desa Panggul sendiri,
Sejarah Islam masuk bisa di katakan dari Folklore juga, Hal ini saya katakan
begitu karna tidak ada dokumen tertulis yang secara gamblang menerangkan Sejarah
Islam masuk di Desa Panggul.
Dari data yang saya peroleh melalui
Folklore yang berkembang di masyarakat. Bahwa Islam masuk di Desa Panggul
melalui kisah sejarah berdirinya Desa Panggul itu sendiri dengan dua tokoh yang
melegenda yang menjadi cikal bakal berdirinya Desa Panggul yaitu
Panjinawangkung dan Kyai Onggo
Diceritakan, Dahulu desa
ini merupakan bagian dari hutan yang lebat di wilayah selatan jawa. Nama
PANGGUL berasal dari makna “PANGGONAN SING UNGGUL” artinya TEMPAT YANG MEMILIKI
KELEBIHAN ATAU KEUNGGULAN. Makna tersebut di ambil dari kirata basa dalam
bahasa jawa, karena memang itulah nyatanya mengapa di sebut Panggul.
Tempat yang dulunya
terdapat Pohon Besar ini suatu ketika di datangi manusia yang pada akhirnya
menjadikan hutan tersebut sebagai tempat bermukim. Bahwa yang diketahui dari
Fakta yang diperoleh dari penduduk Desa Panggul, Tokoh yang mengawali peradaban
sekaligus yang membuka hutan atau babat alas di Desa tersebut adalah PANJI
NAWANGKUNG yang merupakan seorang utusan dari daerah kerajaan Wengker, dan
Setelah itu orang yang menanamkan budaya serta keagamaan islam di situ adalah
KYAI ONGGO seorang utusan dari mataram yang saat itu menjadi wakil sultan Ageng
di Pacitan.
Dalam cerita tersebut
membeberkan bahwa KYAI ONGGO adalah tokoh pertama penyebar islam sekaligus
tokoh berpengaruh dalam cikal bakal berdirinya Desa Panggul, selain sebagai
tokoh penyebar islam, beliau juga berperan dalam menanamkan beberapa adat dan
budaya di desa Panggul. Menindaklanjuti tentang tokoh Kyai Onggo, sulit sekali
untuk mendapatkan sejarah dari Kyai Onggo itu sendiri. Dari cerita tersebut
hanya membeberkan bahwa Kyai Onggo adalah seorang utusan dari Mataram yang saat
itu menjadi wakil sultan Ageng di Pacitan, dari cerita tersebut bisa
disimpulkan bahwa Kyai Onggo mungkin masih ada erat kaitannya dengan Ki Ageng
Galek yang sama sama bersasal dari Mataram.
Pada tahun 2016
tepatnya bulan September saya di berikan tugas untuk membuat video dokumenter
tentang Kebudayaan di daerah masing masing. Lalu saya mengambil Kebudayaan
“Danyangan” yang masih mengakar di Kecamatan Panggul sendiri, dulu Danyangan
yang paling terkenal adalah Danyangan yang berada di Desa Ngrencak, Kecamatan
Panggul yaitu Ampel Gading. ( bisa dilihat di YouTube : https://www.youtube.com/watch?v=l8Zsm2_j16o
)
Tokoh atau Juru Kunci
Ampel Gading yang bernama Mbah Sisam mengungkapkan bahwa Danyangan Ampel Gading
adalah cikal dari “Mbah Onggo” dan Mas Jaka. Mungkin dari analisa yang saya
kaitkan dengan tokoh sejarah penyebar islam di Panggul yang di maksud Mbah
Onggo adalah Kyai Onggo itu sendiri yang merupakan utusan dari Mataram, berarti
dapat disimpulkan bahwa Kebudayaan yang di tanamkan oleh Kyai Onggo masih
mengakar hingga tahun 2016 dan hingga saat ini mungkin masih diterapkan oleh
masyarakat khususnya masyarakat Desa Ngrencak sebagai bentuk upaya melestarikan
Budaya. Namun ada yang mengatakan Budaya tersebut di tahun 2018 ini sudah
hilang di makan zaman karna banyak menimbulkan pro kontra dalam syariat islam,
hanya tradisi kegiatannya saja yang hilang, namun untuk peninggalannya yang
berupa bentuk dari Danyangan itu sendiri masih membekas sampai sekarang.
Untuk penyebaran islam
modern di Desa Panggul, ada beberapa sekolah Madrasah dan Pondok Pesantren yang
Terkenal, yaitu :
Sekolah
Madrasah :
Untuk tingkat Dasar ada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah
Panggul (MIM PANGGUL)
Untuk tingkat Menengah Pertama ada SMP ISLAM Panggul dan
MTsN Panggul (Sekarang MTsN 5 Trenggalek)
Untuk tingkat Menengah Atas : SMK ISLAM PANGGUL dan MAN
Panggul (Sekarang MAN 2 Trenggalek)
Pondok Pesantren :
Pondok Pesantren
Sabilul Hidayah
Pondok Pesantren
Darul Ummah
Pondok Pesantren
Al – Huda
dll
Selain itu juga ada beberapa TPQ dan Madin (Madrasah
Diniyah) di beberapa Masjid Terkenal di Desa Panggul, seperti Madin di Masjid
“Darunajjah’ yang penidirinya adalah seorang tokoh dari Kalangan Nahdlatul
Ulama (NU)
Rangakaian cerita yang masih dituturkan oleh Assa’ih Akip, keturunan ke- 21
dari Raja Tulangbawang. Lelaki paruh baya yang masih bersemangat dengan legenda
kerjaan Tuba tersebut, melanjutkan ceritanya dengan menuturkan, Banten dan
Lampung menganut Agama Islam pada abad ke XV M. Menurut buku Pri Hidup Nabi
Muhammad SAW, karangan Zainal Arifin Abbas halaman 626, beberapa tahun sebelum
kedatangan Minak Kemala Bumi, dari Banten telah memeluk agama Islam. Pada tahun
1554 Masehi, Minak Kemala Bumi ke Banten untuk mempelajari Agama Islam. Salah
seorang keturunan Raja Tulangbawang tersebut datang ke Banten, menepati
permintaan Sultan Banten. Seperti yang diinginkan Sultan Banten itu, Minak
Kemala Bumi dapat meneruskan rencananya untuk mengalahkan Palembang, guna menebus
kegagalan ayahanda, Tuan Rio Mangku Bumi, maka harus datang Banten lebih
dahulu. Ternyata kedatangannya kembali ke Banten, bukan semata karena akan
diberikan restu dan bantuan untuk mengalahkan Palembang. Ternyata Sultan Banten
berhasil mempropaganda penguasa Tuba tersebut dengan memasukkan ajaran-ajaran
Islam. Ternyata ajaran tersebut dapat diterima Minak Kemala Bumi. Dengan nama
Allah, orang nomor satu di kerajaan Tuba tersebut langsung berikrar masuk
Islam.
Zainal Arifin Abbas dalam sebuah tulisannya, Banten dan Lampung memeluk
Agama Islam dalam waktu yang sama yakni pada abad ke XV Masehi. Agama Islam
masuk ke Lampung sekitar pada abad ke-15 ini melalui tiga pintu. Yaitu dari
arah barat (Minangkabau) agama ini masuk melalui belalau ( Lampung barat), dari
utara (Palembang) melalui komering pada masa adipati arya damar pada tahun
1443, dan dari arah selatan (Banten) oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati,
melalui labuhan maringgai di keratuan pugung pada tahun 1525. Dari ketiga pintu
tersebut masuklah agama Islam itu, yang paling berpengaruh melalui jalur
selatan atau banten oleh Fatahillah atau Sunan Gunung Jati, melalui
Labuhan Maringgai di keratuan pugung pada tahun 1525. Dari ketiga pintu
masuknya agama Islam di Lampung tersebut yang paling berpengaruh melalui jalur
selatan. Sejarah ini dapat dilihat dari situs-situs sejarah seperti makam
tubagus Hj Muhammad Saleh di Pagardewa, Tulang Bawang Barat, makam tubagus Machdum
di Kuala, Teluk Betung Selatan, dan makam tubagus Yahya di Lempasing, kahuripan
diduga keduanya masih keturunan Sultan Hasanuddin dari Banten. Di Ketepang,
Lampung Selatan, terdapat makam habib Alwi bin Ali Al Idrus.
Ketika
kesultanan Banten memasuki wilayah Lampung tepatnya pada tahun 1530 M ditandai
dengan penundukan ratu pugung oleh Fatahillah, daerah lampung terbagi dalam
lima wilayah ke-ratuan (persekutuan hukum adat), yaitu:
Pertama,
keratuan di puncak menguasai wilayah abung dan tulang bawang.
Kedua,
keratuan pemanggilan menguasai wilayah krui, ranau, dan komering.
Ketiga,
keratuan di balau menguasai wilayah sekitar teluk betung.
Keempat,
keratuan di pugung menguasai wilayah pugung dan pubian, ketika banten
berpengaruh kuat di lampung, keratuan di pugung terbagi lagi dan berdiri
keratuan maringgai (melinting).
Kelima, keratuan
darah putih menguasai wilayah di pegunungan rajabasa kalianda.
Menurut
budayawan lampung, Udo Z. Karzi, di Belalau, islam dibawa empat orang putra
pagaruyung (Minagkabau). Sebelumnya, di wilayah ini telahberdiri sebuah
kerajaan legendaris bernama sekala brak, dengan penghuninya suku bangsa tumi,
penganut animisme. Bangsa tumi mengagungkan sebuah pohon bernama belasa
kepampang atau nangka bercabang. Pada zaman dahulu, pohon ini memiliki dua
cabang yaitu nangka dan pada sisi lain adalah sebukau, sejenis kayu bergetah.
Keistimewaan dari pohon inisendiri adalah jika terkena getah kayu sebukau bisa
menimbulkan luka atau koreng dan hanya disembukan dengan getah nangka yang di
sebelahnya. Selain itu, agama Islam di Lampung masuk melewati budaya setempat.
Meskipun penyebaran agama Islam di Lampung dominan melalui selatan (banten),
bukan berarti bisa menyentuh selutuh daerah di Lampung. Dari barat, misalnya Islam
mudah masuk dari pagaruyung (Minagkabau). Dari arah utara, Islam masuk dari
palembang melalui komering.
Dari utara,
Islam dibawa empat putra raja pagaruyung Maulana Umpu Ngegalang Paksi. Empat
putra Maulana Umpu Ngegalang Paksi adalah Umpu Berajalan di Way, Umpu Belunguh,
Umpu Nyerupa, dan Umpu Pernong. Pada fase ini menjadi bagian terpenting dari eksistensi
masyarakat Lampung. Kedatangan keempat umpu merupakan kemunduran dari kerajaan
sekala brak kuno atau buay turni yang merupakan penganut hindu birawa atau
animiseme.
Peristiwa
ini sekaligus menjadi tonggak berdirinya kepaksian sekala brak atau paksi pak
sekala brak yang berasakan islam. Umpu berasal dari kata ampu tuan
(bahasa pagaruyung), sebutan bagi anak raja-raja pagaruyung Minangkabau.
Disekala brak, keempat umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai
paksipak yang berarti empat serangkai atau empat sepakat.
Setelah perserikatan ini cukup kuat, suku bangsa tumi dapat ditaklukan dan
sejak itu berkembanglah Islam di sekala brak. Pemimpin buay tumi dari kerajaan
sekala brak saat itu kau hawa (wanita) yang bernama ratu sekerumong yang pada
akhirnya dapat ditaklukan perserikatan paksi pak. Sedangkan penduduk yang belum
memeluk Islam melarikan diri ke pesisir krui dan ters menyebrang ke Jawa dan
sebagian lagi ke Palembang.
Agar siyar
agama Islam tidak mendapat hambatan, pohon seperti kepampang yang disembah suku
bangsa turni ditebang untuk kemudian dibuat pepadun. Pepadun adalah singgasana
yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan saibatin raja-raja
dari paksi pak sekala brak serta keturunannya. Islam juga erat kaitannya dengan
adat dan budaya Lampung. Sebagai cikal bakal masyarakat suku Lampung, paksi pak
sekala brak memasukkan nilai-nilai keslaman dalam semua peristiwa dan upacara
adat. Hampir tidak ada acara adat yang tidak berbau Islam. Mulai dari kelahiran
anak sampai perkawinan dan kematian selalu bernuansa islam.
Sedangkan
pengaruh agama Islam dari arah (palembang) masuk lewat komering. Ketika itu, Palembang
diperintah oleh Arya Damar. Diperkirakan, Islam masuk dari utara dibawa minak
kemala bumi atau yang juga dikenal dengan nama minak patih prajurit. Dari
selatan (banten), Islam diperkirakan dibawa oleh Fatahillah atau Sunan Gunung
Jati melalui Labuhan Maringgai sekarang. Konon pada saat itu, Fatahillah
menikah dengan Putri Sinar Alam, anak Ratu Pugung. Dari pernikahan ini
melahirkan anak yang diberi nama Minak Kemala Ratu, yang kemudian menjadi cikal
bakal keratuan darah putih dan menurunkan Radin Intan. Pahlawan Lampung yang
juga tokoh penyebar Islam di pesisir. Selain melalui jalur budaya, perdagangan
juga ikut mewarnai masuknya Islam di Lampung. Jalur perdagangan ini kemudian
disambung dengan tali perkawinan antara saudagar dan masyarakat setempat atau
bahkankeluarga kerajaan. Dari hasil perkawinan inilah yang membuat perubahan
pada kerajaan-kerajaan di Sumatera.
Diantara
bukti-bukti adanya peradaban Islam di Lampung pada masa itu adalah batu nisan
bercorak kerajaan samudera pasai di Lampung Selatan, yaitu di Kampung
Muarabatang dan Wonosobo (Tanggamus), adanya makam-makam bersejarah,
masjid-masjid bersejarah, dan tempat-tempat bersejarah termasuk kitab dan syair
serta kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Lampung.
Menurut buku Basati dkk pada tahun 671, pendeta itu mengadakan
pencatatan-pencatatan tentang Kerajaan Tulangbawang. Ternyata Kerajaan Tuba,
rakyatnya lebih maju dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang dikunjunginya
dalam perjalanan menuju India untuk memperdalam agama Budha. Di Tulangbawang,
penduduknya telah pandai membuat gula dan alat senjata dari besi. Kedatangan
seorang Tiongkok pada pertengahan abad ke XVIII dengan sebuah kapal, dibawah
pimpinan kapten Tuhlang Fuhweng untuk mengeruk hasil bumi dengan cara
kekerasan. Sudah barang tentu rakyat Menggala, marah. Terjadilah perlawanan
rakyat Tulangbawang dibawah pimpinan Panglima Minak Sengaji dan Minak Geti
(sekarang menurunkan Marga Buai Bulan dan Swai umpu di Menggala). Peperangan
tidak dapat terkendali, mayat satu kapal Cina itu dilemparkan keatas sebuah
Pulau dekat Ujung Gunung yang sekarang terkenal dengan nama Pulau Daging, kapal
Cina itu, menurut keterangan tenggelam di dekat pulau ini. Tidak lama dari
kejadian tersebut, Belanda meresmikan penjajahannya di Lampung, pada tahun
1808. Tahun 1808 adalah tahun sejarah Lampung yang ditulis dengan tinta hitam,
tahun perletakan batu pertama penjajahan di sungai Tulangbawang, khususnya dan
Lampung pada umumnya. Sedangkan sebelum tahun 1808 Belanda telah memasuki
Lampung di sungai Tulang Bawang pada tahun 1682, pada tahun tersebut, Banten
menandatangani perjanjian yang diadakan oleh Sultan Haji.
Perkembangan agama Islam di
Kabupaten Bojonegoro tidaklah mudah. Tak banyak peninggalan para penyebar Islam
di wilayah yang dulu masuk Kerajaan Jipang ini. Islamisasi di Bojonegoro
dimulai di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan. Islamisasi itu tak lepas dari
jasa Mbah Hasyim dan Mbah Sabil, kemudian hari keduanya disebut Mbah Menak
Anggrung. Tak banyak jejak yang tersisa dari kiprah dua ulama kharismatik
tersebut. Namun, masih beberapa peninggalannya yang masih dapat ditemui.
Diantaranya adalah sebuah bangunan
masjid, dan makam kedua tokoh tersebut yang lokasinya berada di Desa
Kuncen, Kecamatan Padangan. Minimnya sumber referensi juga membuat penelusuran
kiprah dua tokoh itu kurang bisa dilakukan secara maksimal.
Meski demikian, pengakuan
umat Islam berbagai daerah atas kiprah dua ulama itu hingga saat
ini masih berlangsung. Hal itu bisa dibuktikan dengan masih banyaknya warga
setempat dan berbagai daerah yang berkunjung ziarah pada makam dua tokoh
tersebut.
Setiap tahun, hingga saat ini
digelar haul (peringatan kematian) atas keduanya yang dilakukan setiap 10
September tahun Masehi atau 6 Muharram pada setiap penanggalan Hijriyah.
Saya beruntung masih bisa bertemu
dengan salah satu keturunan dari dua tokoh penganjur Islam di
Padangan khususnya dan Kabupaten Bojonegoro umumnya. Adalah KH
Khanifuddin, satu dari keturuan ke- 10 Mbah Sabil.
Menurut dia, jika dirunut ke atas,
Mbah Sabil masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Mataram. Nama asli Mbah
Sabil adalah Pangeran Adiningrat Dandang Kusumo. Untuk menghilangkan jejak,
Pangeran Adiningrat kemudian mengganti namanya menjadi Mbah Sabil.
Bangsawan dari Kerajaan
Mataram Islam di Yogyakarta ini, sengaja keluar keraton sekitar
abad ke-16 karena dikejar-kejar pemertintah Hindia Belanda. Dari ulama
Mbah Sabil inilah, lahir banyak tokoh dan ulama yang menyebar di berbagia
daerah. Beberapa keturunan Mbah Sabil di antaranya adalah Nyai Samboe Lasem
(istri Muhammad Syihabudin, seorang tokoh pengajur Islam yang
makamnya di belakang Masjid Lasem, Rembang, Jateng– kemudian hari menurunkan
Pengasuh Ponpes As-Syidiqqiyah Jember, KH Ahmad Sidiq yang menjabat Rois Amm
Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU).
Putri Mbah Sabil lainnya adalah
Nyai Moyo Merti –diyakini menikah dengan Mbah Abdul Jabbar di Nglirip, Tuban—
Mbah Kyai Sholeh Tsani —tokoh Pesantren Qomarudin, Sampurnan, Gresik. Selain
itu juga, Mbah Kyai Ahmad Rowobayan mursyid Thoreqot Naqsabandiyah yang
sepanjang hidupnya menetap hingga meninggal di Rowobayan,
Padangan, Bojonegoro.
Mbah Sabil melarikan diri dari
keraton kerena tidak suka dengan sikap kolonial Belanda yang menjajah tanah
kelahirannya. Dari Mataram, Mbah Sabil melakukan perjalanan dengan menulusuri
sungai Bengawan Solo hingga sampai di Desa Padangan.
“Rencananya beliau hendak mondok di
Ampel Denta, Surabaya,” ungkap KH Khanifuddin saat ditemui di kediaamannya.
Namun, setelah bertemu dengan MbahHasyim, akhirnya Mbah Sabil bersedia membantunya mengajarkanagama Islam bagi masyarakat sekitar dengan mengurungkan niatnyaberguru ke Perdikan Ampel Denta, Surabaya.
Sebutan Menak Anggrung
Untuk syair Islam, keduanya
kemudian membangun langgar (musala kecil) yang kemudian hari berkembang menjadi
masjid sekaligus pesantren. Lokasinya, diperkirakan berada di Desa Kuncen
sebelah utara, kira-kira sekarang kearah timur laut dari tugu Pahlawan.
Tidak diketahui secara pasti berapa
jumlah santri dan berasal dari daerah mana saja. Namun dimungkinkan, dari
kawasan pedukuhan sekitar Kuncen. Soal riwayat Mbah Hasyim, tidak banyak
diketahui karena minimnya sumber referensi yang ada. Tetapi, disebutkan Mbah
Hasyim sudah menjadi tokoh agama saat Mbah Sabil datang di Padangan.
Bahkan saat itu, Mbah Hasyim sudah
menjabat Ketib dan dikenal dengan nama Ketib Hasyim (juru tulis atau
sekretaris). Dan setelah kedatangan Mbah Sabil, Mbah Hasyim dikenal juga
sebagai merbot (orang yang mengurus dan memelihara) masjidnya Mbah Sabil. “Jadi
tidak ada tahu siapa beliau (Mbah Hasyim) sebenarnya,” tambahnya.
Termasuk, keturunannya hingga saat
ini. Diakuinya, di kawasan Padangan dan sekitarnya ada dua tokoh yang memiliki
nama yang sama. Yakni, Mbah Hasyim, tetapi keduanya adalah pribadi yang
berbeda. Pertama adalah Mbah Hasyim yang hidup sezaman dengan Mbah Sabil. Dan
Mbah Hasyim lainnya, dikenal Hasyim ‘Tasrifan Shorop Padangan’ atau dengan kata
lain penulis kitab tata bahasa dari Padangan.
Sementara makam Mbah Hasyim Shorof
berada di sebuah pemakaman umum kawasan barat kota Padangan. “Ini dua pribadi
yang berbeda dan pada masa yang berlainan,” jelasnya.
Untuk Mbah Hasyim yang sezaman
dengan Mbah Sabil, makammnya satu cungkup dengan Mbah Sabil. Di dalam cungkup
Makam Menak Anggrung itu terdapat dua makam. Makam sebelah barat adalah tempat
bersemayamnya jasad Mbah Sabil. Sedangkan, sebelah timur adalah makam Mbah
Hasyim.
Dalam buku ‘Sejarah
Kabupaten Bojonegoro Menyingkap Kehidupan dari Masa ke Masa’ terbitan
Pemkab setempat disebutkan, agam Islam berkembang di
bumi Bojonegoro sejak masa Sultan Trenggono berkuasa atas daerah
Demak.
Bojonegoro saat itu bernama
Jipang adalah masuk wilayah Kerajaan Demak. Pusat pengembangan
agama Islam pada abad ke-16 dalam masa itu untuk daerah Jipang berada
di Kota Padangan. Karena Padangan masa itu merupakan Ibukota Kabupaten Jipang.
Dan yang menjadi ulama besar saat itu adalah Kyai Hasyim, sekaligus penyebar
agama Islam pertama di Jipang.
Sekarang nama-nama yang terkenal
adalah “Mbah Sinare.” Sebuah makam yang berada di dalam kota Padangan. Di
komplek makam Mbah Sinare inilah menjadi pusat penyebaran Islam di
kawasan timur dan selatan untuk wilayah Jipang. Kyai Hasyim juga dikenal dalam
usahanya menyebarkan agama Islam.
Kegigihannya karena saat itu kota
Padangan sudah banyak dihuni pedagang China yang agamanya Khong Hu Cu dan
Belanda yang agamanya Nasrani. Namun demikinan, rakyat Jipang masih
banyak yang memeluk agama Islam.
Tidak ada yang mengetahui secara
persis, kapan meninggalnya dua ulama kharismatik tersebut. Hanya setelah tutup
usia, Mbah Sabil dimakamkan disebelah masjid. Urusan Pondok Pesantren menjadi
tanggungjawab Mbah Hasyim. Tidak lama setelah itu Mbah Hasyim pun menghadap
Sang Kholiq. Jenazahnya dimakamkan disamping rekan
seperjuangannya.
Sepeninggal keduanya, masjid dan
pesantren menjadi sepi. Oleh salah satu cucu Mbah Sabil, Mbah Kyai Abdurrohman
Klothok, masjid kemudian dipindahkan ke Dukuh Klothok, Desa Banjarjo–
masih dalam wilayah Kecamatan Padangan.
Hal ini dikarenakan, masjid
tersebut tidak dirawat dengan baik oleh masyarakat sekitar. Masjid
berarsitektur Jawa itu tak begitu besar. Luasnya sekitar 20 x 20 meter. Tidak
diketahui secara rinci, berapa kali masjid itu dipugar. Namun, dari data yang
ada, masjid tersebut dipugar pada Oktober 1989 dan 9 Agustus 1993 silam.
Saat ini, makam kedua ulama
tersebut berada di sebelah barat Langgar Pahlawan, Desa Kuncen. Namun sesuai
riwayat, makam Mbah Sabil dan Mbah Hasyim telah perpindah hingga tiga kali
sejak beliau dimakamkan pertama kali di sebelah masjidnya.
Makam kedua
penganjur Islam ini dinamakan “Sarean Menak Anggrung” sebab tempatnya
anggrung-anggrung (menjulang tinggi) di tepi jurang Bengawan Solo. Barangkali
berangkat dari peristiwa inilah, Mbah Sabil dan Mbah Hasyim dikenal sebagai
Mbah Menak Anggrung.
“Dan yang menyebut Makam Menak
Anggrung adalah Mbah Kamaludin salah satu santri kesayangannya,” pungkas KH
Khanifuddin yang juga menjabat Pengurus Mustasyar NU Padangan ini.
Semuanya berawal dari terjadinya
perang pada tahun 1825, saat itu Pangeran Diponegoro menentang penjajahan
Belanda. Beliau adalah salah satu pangeran yang mampu menewaskan delapan ribu
orang serdadu Eropa dan tujuh ribu orang serdadu pribumi. Dalam peperangan ini
pula beliau mampu membuat Belanda harus mengeluarkan biaya hingga 20.000.000
gulden untuk mengganti kerugian yang telah mereka sebabkan.
Peperangan ini bermula karena
akibat perbuatan semena–mena yang dilakukan oleh Residen Belanda dan Patih
Danurejo di Yogyakarta. Pada saat itu tanpa berunding dan memberitahu lebih
dahulu kepada Pangeran Diponegoro, Patih Danurejo telah memerintahkan para
warga untuk membuat jalan melintasi pekarangan rumah pangeran Diponegoro dengan
menancapkan tiang-tiang pancang. Karena hal inilah pangeran Diponegoro
tersinggung dan menyala-lah api peperangan Tegalrejo
yang menjadi tempat penancapan tiang-tiang pancang untuk jalan “Jogalan”, dan masyarakatnya merasa
dirugikan karena banyak tanah miliknya yang harus direlakan tanpa adanya ganti
rugidari pihak mereka.
Peperangan meletus dan akhirnya
pasukan dari Pangeran Diponegoro berhasil menewaskan “anthek-anthek” Belanda
Termasuk Patih Danurejo. Setelah patih Danurejo meninggal, terjadilah kevakuman
pemerintahan di Magelang sehingga dipilihlah seorang pengganti yang bernama
Arya Danukusuma, yang mulanya beliau merupakan Bupati di daerah Paakan yang
lalu dipindah tugaskan ke Magelang guna mengisi kekosongan bangku pemerintahan
tersebut. Namun tidak berseling lama, beliau meminta dipindahkan di kabupaten
Menoeh (nantinya Temanggung). Lama-kelamaan Residen Belanda Kedua C.L. Hartman
mengusulkan nama Kabupaten Menoreh diganti menjadi Kabupaten Temanggung, dan
pada 28 Oktober 1834 Majlis Hindia menyetujui usulan penggantian nama ini.
Karena di kabupaten inilah Bupati dan Pemerintahan Eropah bertempat tinggal.
Semakin hari perekonomian di
Kabupaten Temanggung berkembang pesat, terutama pada bidang pertanian dan
peternakan. Namun, tiba-tiba terjadi lagi peperangan di Solo yang menyebabkan
beberapa orang petinggi dari Solo terpaksa melarikan diri karena dikejar-kejar
pasukan Belanda. (tepatnya setelah Raden Patah wafat) dan terdesak di daerah
Temanggung hingga ke sebuah hutan lebat (namanya menjadi desa Kandangan).
Akhirnya petinggi Solo yang terdesak itu menetap dan membuat sebuah
dusun/perkampungan.
Karena petinggi Solo itu tak
diketahui dengan jelas namanya, maka dipanggillah dengan sebutan “Kyai Kampung”.
Karena pada saat itu perekonomian Temanggung berkembang pesat dan jalur
perdagangannya melalui desa ini belum diberi nama, maka disebutlah desa ini
sebagai desa persinggahan pedagang (pedagang hewan ternak kebanyakan) ketika
para pedagang kamalaman untuk mencapai Kota Temanggung. Pada umumnya
pedagang-pedagang itu menitipkan ternaknya kepada Kyai Kampung, sehingga tempat
tinggal Kyai Kampung lebih mirip dengan kandang. Maka, terkenallah tempat
tinggal /dusun persinggahan Kyai Kampung ini sebagai Desa Kyai Kandang.
Tahun demi tahun berlalu,
perdagangan di Temanggung, Dessa Kyai Kampung khususnya, semakin besar,
sehingga penitipan hewan ternak para pedagang yang singggah pun semakin banyak,
dan semakin bertambah pula kandang yang harus dibuat oleh Kyai Kandang, karena
tempat tinggalnya tidak bisa lagi dimuat ternak-ternak itu. Semakin banyak
waktu yang dilalui semakin lanjut bertambah pula usia Kyai Kampung. Pada suatu
ketika Kyai Kampung akhirnya sakit dan meninggal dunia di desa perkampungan
tersebut. Dan jasad beliau dimakamkan di Desa Kyai Kandang sebelah barat.
Untuk mengenang jasa kyai yang
membangun desa itu, maka disebutlah desa Kyai Kandang sebagai Desa Kandangan
dengan kandangnya yang banyak. Sayangnya setelah Kyai kampung meninggal dunia
perdagangan mulai menurun bahkan tak ada. Generasi ke generasi berganti dan
legenda Kyai Kampung pun mulai terlupakan, meskipun makamnya masih ada dan
namanya pun telah dijadikan
nama desa. Namun, karena tidak ada yang tahu pasti
nama asli sang Kyai Kampung dan tidak ditemukannya seluruh peninggalannya
kecuali makam tak terurus, maka tak heran bila legenda itu mudah untuk
dilupakan.
Di Desa Kandangan yang semakin
banyak penduduk, lahan-lahan hutan pun mulai berkurang, sawah dan pemukiman
juga ikut memenuhi hutan yang telah ditebangi. Sehingga hampir tak ada yang ingat
pada kejadian dalam desa kandangan ini. Sudah puluhan tahun legenda desa ini
terlupakan, dan tak ada yang memperdulikannya. Bahkan keadaan makam Kyai
Kampung pun sudah terlupakan. Makam tersebut sudah tak berbentuk seperti suatu
makam leluhur yang dihormati karena makam itu hanya berwujud tanah rata yang
diberi nisan batu bata, berlumut, tanpa nama, tahun, dan asal usul yang jelas.
Masyarakat hanya menganggapnya
batu bertumpuk saja. Bahkan di sekeliling makam tersebut dibangun beberapa
rumah. Sebelah selatan rumah penduduk (sesepuh desa), sebelah barat dan utara
rumah anak-anaknya, sebelah timurnya berupa hutan/kebun tak terurus. Sedangkan
sebalah barat daya makam itu adalah tempat MCK (waktu itu makam itu belum
diketahui). Suatu ketika sang penduduk yang tinggal di sebelah selatan makam
yang bernama Bapak Parmin mendapatkan seorang putra. Ketika sang bayi mencapai
empat bulan, Pak Parmin merasakan badannya begitu kelelahan sepulang dari
sungai. Beliau berjemur di depan rumahnya, membelakangi makam bekebalikan
dengan arah MCK yang menghadap makam.
Tengah santainya Pak Parmin duduk
berjemur, datanglah sosok laki-laki berperawakan laki-laki pada umumnya dengan
jalan yang berwibawa. Mengambil posisi sujud sebanyak 3 kali di hadapan Pak
Parmin. Seketika Pak Parmin tertegun tak berkedip, tiba-tiba orang itu bertanya
pada Pak Parmin “kamu yang tinggal di tempat ini?” sampai 3 kali laki-laki itu
bertanya barulah Pak Parmin menjawab “Iya, Bapak ini siapa? Dari mana? Ada apa?”
laki-laki itu tertawa dan menjelaskan semua legenda Kyai Kampung. Ia mengaku
sebagai abdi/utusan dari Kyai Kampung untuk menyampaikan beberapa pesan pada
warga Kandangan. Laki-laki itu berpesan agar
warga tidak membuat WC/MCK menghadap makam,
rubahlah agar tidak membuat Kyai Kampung tersinggung. Laki-laki itu juga
memperlihatkan pada pak Pamin bahwa batu bata berlumut yang sejajar itulah
makam Kyai Kampung. Ia berpesan agar warga membersihkan makam itu seminggu
sekali setiap hari jumat.
Konon, kata pak Parmin ketika
diperlihatkan makam Kyai Kampung dengan laki-laki misterius tadi, terdapat
sebuah keris dan tombak yang menyandar di batu nisan itu. Namun setelah
laki-laki itu bepaling, dua benda pusaka itu tak terlihat lagi. Laki-laki itu
mengatakan bahwa dua benda pusaka itu akan tetap berada di tempatnya. Bergegas
pak Parmin minta izin untuk merawat (memperbaiki), namun laki-laki itu
melarangnya dengan alasan bahwa Kyai Kampung belum mengizinkan. Lagipula saat
pak Pamin menanyakan siapa nama Kyai Kampung yang sebenanya dan kapankah makam
harus dirawat, laki-laki itu menjawab “saat aku kembali lagi menemuimu dan saat
itulah akan kuberi tahu nama Kyai”.
Sampai sekarang nama Kyai Kampung
belum diketahui. Konon katanya ruhnya kini berada di Kedu. Dan pesan laki-laki
misterius itu masih selalu dilaksanakan oleh pak Parmin. Bahkan pada saat Jumat
kliwon selalu ada acara sadranan di makam itu. Menurut cerita, sudah ada empat
orang yang bertapa selama 40 hari 40 malam minta agar diizinkan mendapatkan
keris Kyai kampung yang dapat menjelma menjadi harimau raksasa yang bisa
terbang itu, tapi tak diizinkan kyai kampung.
Meski ada banyak pihak yang
mengatakan bahwa selama ini tidak ada yang mengetahui nama asli dari Kyai
Kampung, namun ada dipihak lain mengatakan bahwa ada pria paruh baya bernama Mbah
Sidik dan Mbah Budho Leksono yang merupakan orang pertama yang menjadikan
sebuah hutan belantara menjadi sebuah desa yang kini disebut dengan Desa
Kandangan.