
DESA KYAI KANDANG
Semuanya berawal dari terjadinya perang pada tahun 1825, saat itu Pangeran Diponegoro menentang penjajahan Belanda. Beliau adalah salah satu pangeran yang mampu menewaskan delapan ribu orang serdadu Eropa dan tujuh ribu orang serdadu pribumi. Dalam peperangan ini pula beliau mampu membuat Belanda harus mengeluarkan biaya hingga 20.000.000 gulden untuk mengganti kerugian yang telah mereka sebabkan.
Peperangan ini bermula karena akibat perbuatan semena–mena yang dilakukan oleh Residen Belanda dan Patih Danurejo di Yogyakarta. Pada saat itu tanpa berunding dan memberitahu lebih dahulu kepada Pangeran Diponegoro, Patih Danurejo telah memerintahkan para warga untuk membuat jalan melintasi pekarangan rumah pangeran Diponegoro dengan menancapkan tiang-tiang pancang. Karena hal inilah pangeran Diponegoro tersinggung dan menyala-lah api peperangan Tegalrejo yang menjadi tempat penancapan tiang-tiang pancang untuk jalan “Jogalan”, dan masyarakatnya merasa dirugikan karena banyak tanah miliknya yang harus direlakan tanpa adanya ganti rugidari pihak mereka.
Peperangan meletus dan akhirnya
pasukan dari Pangeran Diponegoro berhasil menewaskan “anthek-anthek” Belanda
Termasuk Patih Danurejo. Setelah patih Danurejo meninggal, terjadilah kevakuman
pemerintahan di Magelang sehingga dipilihlah seorang pengganti yang bernama
Arya Danukusuma, yang mulanya beliau merupakan Bupati di daerah Paakan yang
lalu dipindah tugaskan ke Magelang guna mengisi kekosongan bangku pemerintahan
tersebut. Namun tidak berseling lama, beliau meminta dipindahkan di kabupaten
Menoeh (nantinya Temanggung). Lama-kelamaan Residen Belanda Kedua C.L. Hartman
mengusulkan nama Kabupaten Menoreh diganti menjadi Kabupaten Temanggung, dan
pada 28 Oktober 1834 Majlis Hindia menyetujui usulan penggantian nama ini.
Karena di kabupaten inilah Bupati dan Pemerintahan Eropah bertempat tinggal.
Semakin hari perekonomian di Kabupaten Temanggung berkembang pesat, terutama pada bidang pertanian dan peternakan. Namun, tiba-tiba terjadi lagi peperangan di Solo yang menyebabkan beberapa orang petinggi dari Solo terpaksa melarikan diri karena dikejar-kejar pasukan Belanda. (tepatnya setelah Raden Patah wafat) dan terdesak di daerah Temanggung hingga ke sebuah hutan lebat (namanya menjadi desa Kandangan). Akhirnya petinggi Solo yang terdesak itu menetap dan membuat sebuah dusun/perkampungan.
Karena petinggi Solo itu tak diketahui dengan jelas namanya, maka dipanggillah dengan sebutan “Kyai Kampung”. Karena pada saat itu perekonomian Temanggung berkembang pesat dan jalur perdagangannya melalui desa ini belum diberi nama, maka disebutlah desa ini sebagai desa persinggahan pedagang (pedagang hewan ternak kebanyakan) ketika para pedagang kamalaman untuk mencapai Kota Temanggung. Pada umumnya pedagang-pedagang itu menitipkan ternaknya kepada Kyai Kampung, sehingga tempat tinggal Kyai Kampung lebih mirip dengan kandang. Maka, terkenallah tempat tinggal /dusun persinggahan Kyai Kampung ini sebagai Desa Kyai Kandang.
Tahun demi tahun berlalu, perdagangan di Temanggung, Dessa Kyai Kampung khususnya, semakin besar, sehingga penitipan hewan ternak para pedagang yang singggah pun semakin banyak, dan semakin bertambah pula kandang yang harus dibuat oleh Kyai Kandang, karena tempat tinggalnya tidak bisa lagi dimuat ternak-ternak itu. Semakin banyak waktu yang dilalui semakin lanjut bertambah pula usia Kyai Kampung. Pada suatu ketika Kyai Kampung akhirnya sakit dan meninggal dunia di desa perkampungan tersebut. Dan jasad beliau dimakamkan di Desa Kyai Kandang sebelah barat.
Untuk mengenang jasa kyai yang
membangun desa itu, maka disebutlah desa Kyai Kandang sebagai Desa Kandangan
dengan kandangnya yang banyak. Sayangnya setelah Kyai kampung meninggal dunia
perdagangan mulai menurun bahkan tak ada. Generasi ke generasi berganti dan
legenda Kyai Kampung pun mulai terlupakan, meskipun makamnya masih ada dan
namanya pun telah dijadikan
nama desa. Namun, karena tidak ada yang tahu pasti nama asli sang Kyai Kampung dan tidak ditemukannya seluruh peninggalannya kecuali makam tak terurus, maka tak heran bila legenda itu mudah untuk dilupakan.
Di Desa Kandangan yang semakin banyak penduduk, lahan-lahan hutan pun mulai berkurang, sawah dan pemukiman juga ikut memenuhi hutan yang telah ditebangi. Sehingga hampir tak ada yang ingat pada kejadian dalam desa kandangan ini. Sudah puluhan tahun legenda desa ini terlupakan, dan tak ada yang memperdulikannya. Bahkan keadaan makam Kyai Kampung pun sudah terlupakan. Makam tersebut sudah tak berbentuk seperti suatu makam leluhur yang dihormati karena makam itu hanya berwujud tanah rata yang diberi nisan batu bata, berlumut, tanpa nama, tahun, dan asal usul yang jelas.
Masyarakat hanya menganggapnya batu bertumpuk saja. Bahkan di sekeliling makam tersebut dibangun beberapa rumah. Sebelah selatan rumah penduduk (sesepuh desa), sebelah barat dan utara rumah anak-anaknya, sebelah timurnya berupa hutan/kebun tak terurus. Sedangkan sebalah barat daya makam itu adalah tempat MCK (waktu itu makam itu belum diketahui). Suatu ketika sang penduduk yang tinggal di sebelah selatan makam yang bernama Bapak Parmin mendapatkan seorang putra. Ketika sang bayi mencapai empat bulan, Pak Parmin merasakan badannya begitu kelelahan sepulang dari sungai. Beliau berjemur di depan rumahnya, membelakangi makam bekebalikan dengan arah MCK yang menghadap makam.
Tengah santainya Pak Parmin duduk
berjemur, datanglah sosok laki-laki berperawakan laki-laki pada umumnya dengan
jalan yang berwibawa. Mengambil posisi sujud sebanyak 3 kali di hadapan Pak
Parmin. Seketika Pak Parmin tertegun tak berkedip, tiba-tiba orang itu bertanya
pada Pak Parmin “kamu yang tinggal di tempat ini?” sampai 3 kali laki-laki itu
bertanya barulah Pak Parmin menjawab “Iya, Bapak ini siapa? Dari mana? Ada apa?”
laki-laki itu tertawa dan menjelaskan semua legenda Kyai Kampung. Ia mengaku
sebagai abdi/utusan dari Kyai Kampung untuk menyampaikan beberapa pesan pada
warga Kandangan. Laki-laki itu berpesan agar
warga tidak membuat WC/MCK menghadap makam, rubahlah agar tidak membuat Kyai Kampung tersinggung. Laki-laki itu juga memperlihatkan pada pak Pamin bahwa batu bata berlumut yang sejajar itulah makam Kyai Kampung. Ia berpesan agar warga membersihkan makam itu seminggu sekali setiap hari jumat.
Konon, kata pak Parmin ketika diperlihatkan makam Kyai Kampung dengan laki-laki misterius tadi, terdapat sebuah keris dan tombak yang menyandar di batu nisan itu. Namun setelah laki-laki itu bepaling, dua benda pusaka itu tak terlihat lagi. Laki-laki itu mengatakan bahwa dua benda pusaka itu akan tetap berada di tempatnya. Bergegas pak Parmin minta izin untuk merawat (memperbaiki), namun laki-laki itu melarangnya dengan alasan bahwa Kyai Kampung belum mengizinkan. Lagipula saat pak Pamin menanyakan siapa nama Kyai Kampung yang sebenanya dan kapankah makam harus dirawat, laki-laki itu menjawab “saat aku kembali lagi menemuimu dan saat itulah akan kuberi tahu nama Kyai”.
Sampai sekarang nama Kyai Kampung belum diketahui. Konon katanya ruhnya kini berada di Kedu. Dan pesan laki-laki misterius itu masih selalu dilaksanakan oleh pak Parmin. Bahkan pada saat Jumat kliwon selalu ada acara sadranan di makam itu. Menurut cerita, sudah ada empat orang yang bertapa selama 40 hari 40 malam minta agar diizinkan mendapatkan keris Kyai kampung yang dapat menjelma menjadi harimau raksasa yang bisa terbang itu, tapi tak diizinkan kyai kampung.
Meski ada banyak pihak yang mengatakan bahwa selama ini tidak ada yang mengetahui nama asli dari Kyai Kampung, namun ada dipihak lain mengatakan bahwa ada pria paruh baya bernama Mbah Sidik dan Mbah Budho Leksono yang merupakan orang pertama yang menjadikan sebuah hutan belantara menjadi sebuah desa yang kini disebut dengan Desa Kandangan.