Pondok Pesantren Al-Kamal Salah Satu Sarana Dakwah Islam di Blitar

created by Abidah Ula Afifi

Berdasarkan legenda, dahulu bangsa Tartar dari Asia Timur sempat menguasai daerah Blitar yang kala itu belum bernama Blitar. Majapahit saat itu merasa perlu untuk merebutnya. Kerajaan adidaya tersebut kemudian mengutus Nilasuwarna untuk memukul mundur bangsa Tartar. Keberuntungan berpihak pada Nilasuwarna, ia dapat mengusir bangsa dari Mongolia itu. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar sebagai Adipati Aryo Blitar I untuk kemudian memimpin daerah yang berhasil direbutnya tersebut. Ia menamakan tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembali pulangnya bangsa Tartar.

Islam adalah salah satu agama yang pada saat itu dibawa masuk ke Indonesia oleh para pedagang Gujarat, India. Berdasarkan ilmu bahasa (Etimologi) kata ”Islam” berasal dari bahasa Arab, yaitu kata salima yang berarti selamat, sentosa dan damai. Dari kata itu terbentuk kata aslama, yuslimu, islaman, yang berarti juga menyerahkan diri, tunduk, paruh, dan taat. Sedangkan muslim yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, patuh, dan tunduk kepada Allah s.w.t. 

Secara istilah (terminologi) Islam berarti suatu nama bagi agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada manusia melalui seorang rasul. Ajaran-ajaran yang dibawa oleh Islam merupakan ajaran manusia mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Islam merupakan ajaran yang lengkap , menyeluruh dan sempurna yang mengatur tata cara kehidupan seorang muslim baik ketika beribadah maupun ketika berinteraksi dengan lingkungannya. 

Sebagai agama terakhir, Islam diketahui memiliki karekteristik yang khas dibandingkan dengan agama-agama yang datang sebelumnya. Islam adalah agama yang sempurna dan universal, ia berlaku sepanjang waktu, kapanpun dan di manapun. Islam berlaku untuk semua orang dan untuk seluruh dunia. Maka dari itu, tentunya ajaran Islam memiliki dasar sebagai pondasi yang dijadikan sebagai acuan dan pedoman oleh komunitasnya di seluruh dunia. Dan setiap agama mempunyai tujuan, sumber, ruang lingkup dan karakteristik ajaran yang membedakan dari agama-agama lain.

Islam masuk di Blitar dengan cara damai dan diterima baik oleh masyarakat Blitar. Dakwah Islam atau penyebaran agama Islam ini dilakukan dengan cara mendirikan madrasah, pengajian-pengajian di surau dan juga mendirikan pondok pesantren. Salah satu pondok pesantren yang hingga saat ini masih berdiri adalah Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal.

Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal didirikan pada tahun 1940 oleh KH. Manshur salah seorang putra KH. Imam Basyari (salah seorang kyai di Mangunsari Tulungagung). Keberadaan Pondok ini berawal dari amanat KH. Imam Basyari terhadap putra-putranya yang menginginkan agar tanah babatan hutan di Blitar, ditempati oleh salah seorang putranya. Satu-satunya putra beliau yang bersedia menempati tanah tersebut adalah Manshur yang waktu itu baru pulang menuntut ilmu beberapa tahun di Mekah.

Tahun 1918 M. Manshur berangkat menuju desa Kunir Blitar. Di desa tersebut, Manshur mendirikan sebuah langgar dan kemudian mendirikan majelis ta’lim atau pengajian yang santri-santrinya berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Pengajian yang diselanggarakan KH. Manshur berkembang terus dan memerlukan beberapa tempat untuk menginap para santri-santrinya. Kala itu pondok ini bernama Pon. Pes. Kunir. Berdasarkan prasasti yang terdapat di Masjid Jami’ Desa Kunir, Pondok tersebut berdiri pada tahun 1940. Selain mengajar santri-santrinya, KH. Manshur juga menjadi imam Masjid Jami’ Kecamatan Srengat dan ikut aktif berjuang melawan penjajah.

Pemuda Manshur kemudian menikah dengan seorang gadis putri dari H. Abdullah bernama Maimunah. Dari pernikahan tersebut menghasilkan keturunan beberapa anak dan cucu yang pada akhirnya menjadi cikal bakal dari pengurus yayasan Pon. Pes. Al-Kamal di masa akan datang. KH. Manshur dikaruniai enam orang anak, namun tiga di antaranya meninggal dunia di waktu kecil, dan tiga yang hidup kesemuanya perempuan, yaitu Siti Malikah yang menikah dengan H. Sholeh. Mereka bertempat tinggal 1 Km sebelah barat KH. Manshur. Pada akhirnya mendirikan Pondok Pesantren dengan nama Mambaul Huda di Dusun Manggar Desa Kunir.

Anak kedua yakni Siti Matinnah yang menikah dengan H. Thobib dan dikaruniai tujuh anak yaitu Hj. Sumbulatin, Hj. Miatu Habbah, Hj. Siti Masyithoh, H. Syaiful Habib, H. Syamsul Ma’rif, Hj. Siti Maswah, H. Imam Asy’ari. Dari keluarga Hj. Sumbulatin ini yang kemudian mengelola firqah LKSA Putra Putri dan Adawiyah.

Anak ketiga yakni Siti Munawaroh menikah dengan KH. Thohir Wijaya dan dikaruniai enam anak yaitu Hj. Astutik Hidayati, Hj. Nur Saida, Hj. Asmawati, H. Jauhar Wardani, Hj. Reni Rahmawati, Hj. Rina Laila Wati. Hj. Astutik Hidayati, menikah dengan KH Mahmud Hamzah dengan menikahkan putrinya Hj. Erria Masfia dengan Dr. H. Asmawi Mahfudz, sedang Hj. Atik Hatmayanti dengan H. Ahmad Hasanudin dari Pasuruan. Seperti keluarga di atas keluarga yai Mahmud juga mengelola firqah al-Manshur, al-Munawarah dan unir Hidayati Mahmud atau HM.

Setelah KH. Manshur  wafat, Pondok Pesantren ini diasuh para menantunya,  KH. Thohir Wijaya dan KH. Thobib . Pada masa inilah terdapat perubahan nama Pondok Pesantren Kunir diubah menjadi Pondok Pesantren Al-Kamal, hasil istikharah pengasuh saat itu yakni KH. Thohir Wijaya,  dengan perubahan dari sistem sorogan dan bandungan menjadi klasikal. Sistem pendidikan Ponpes berubah dari salafiyah murni berubah menjadi Terpadu yakni perpaduan antara salafiyah (klasik) dan Kholafiyah Ashriyah (modern).

Mulai saat itu, wajah dan dinamika pondok pesantren menjadi dinamis, berkembang sampai sekarang dengan sistem pendidikan yang lebih relevan dan akomodatif terhadap perkembangan zaman disertai tantangan modernisasinya.

Masa kepemimpinan pertama adalah pendiri KH. Manshur pada tahun 1940 – 1960 M, pada masa ini Pondok Pesantren dikelola secara mutlak oleh pendirinya dengan dibantu oleh beberapa orang asatidz (para guru yang mumpuni dalam bidang agama, terutama mereka-mereka yang telah tamat dari pesantren-pesantren sekitar Blitar)

Masa kepemimpinan generasi kedua, pada tahun 1960 – 1998 masa ini penyelenggaraan dan pengelolaan Pondok Pesantren ditangani oleh para menantu dari KH. Manshur yakni KH. Thohir Wijaya dan KH. Thobib yang kemudian membentuk sebuah organisasi  yayasan sebagai pengembangan dari para anggota keluarga yang memang berkompeten dalam memperjuangkan dunia pendidikan Agama Islam dan kepesantrenan. Ini terinspirasikan pada tahun 1977, ketika Bapak KH. Ahmad Thohir Wijaya diangkat menjadi anggota DPR / MPR RI, sehingga membuka akses (Network) pesantren Al-Kamal di lembaga birokrasi pemerintahan yang pada akhirnya Al-Kamal berkembang baik dalam pendidikan formal maupun non formal. Sejak itu Al-Kamal sudah menjadi sebuah lembaga pendidikan pesantren  yang didatangi oleh para santri dari berbagai penjuru tanah air.

Pada tahun 1981 jajaran pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal semakin kokoh dengan hadirnya Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah ( menantu ke–1 dari KH. Ahmad Thohir Wijaya), yang secara langsung menangani pendidikan baik formal maupun non formal. Khususnya menangani kajian kitab – kitab kuning dan pendalaman bahasa Arab baik pasif maupun aktif untuk sehari-hari. Bersamaan dengan itu (Tahun 1981) organisasi penyelenggara Pondok Pesantren Al-Kamal  secara resmi didirikan  dengan bentuk yayasan  yang didirikan dan  diprakarsai oleh KH. Ahmad Thohir Wijaya (Suami dari Hj. Siti Munawaroh, Putra ke tiga dari KH Manshur). Saat itu Ketua I dijabat oleh Bapak KH. Zen Masrur , BA, Ketua II. Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah, Ketua III oleh Bapak Masyhudi Yusuf, BA, Bapak H. Syaiful Habib, SH. M.Hum sebagai sekretaris dan Ibu Hj. Astutik Hidayati, BA. sebagai bendahara Yayasan Pondok Pesantren Al-Kamal.

Nampaknya perkembangan Al-Kamal tidak berhenti di situ, tahun 1986 Bapak KH. Ahmad Thohir wijaya yang pada waktu itu sebagai Anggota DPR/MPR RI melebarkan sayap perjuangannya bersama – sama kabinet Pembangunan Indonesia mendirikan cabang di Pasar Kebon Jeruk Jakarta dengan nama yang sama, yaitu Pondok  Pesantren Al-Kamal. Selanjutnya pada tahun 1989 kepengurusan yayasan diubah dengan masuknya Drs. H.M. Sunandari Jauhari dan H. Ibrahim Indragiri di jajaran Ketua Yayasan dan  Johar Wardani, ST sebagai bendahara.

Demikianlah perjuangan Bapak KH. Thohir Wijaya dalam membesarkan dan menciptakan beberapa pondasi Pondok Pesantren Al-Kamal Kunir Wonodadi Blitar yang pada akhirnya pada tahun 1999 karena menderita penyakit yang sangat parah beliau  menghadap Allah Swt. dan dimakamkan di maqbaroh keluarga besar Pondok Pesantren Al-Kamal.

Masa kepemimpinan ketiga, tahun 1998 – 2009 adalah dikendalikan oleh generasi dari Bani Manshur. Pada tahun inilah  kebersamaan , solidaritas pengurus yayasan mencapai puncak kejayaannya. Kepemimpinan yayasan tidak lagi bersifat personal individual tetapi lebih mengutamakan pada semangat kolektivitasAda pemilihan dan pembagian kerja di antara cucu-cucu dari KH. Manshur sebagai antisipasi dalam menyongsong  era modernisasi. Dengan job diskription sebagai berikut, Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah sebagai Koordinator Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal ( PPTA) dan pendidikan formal. Bapak KH. Zen masrur, BA sebagai Koordinator  keta’miran dan majlis ta’lim. Bapak Mashudi Yusuf, BA (wafat tahun 2004) sebagai Koordinator Hubungan Kemasyarakatan. Bapak Drs. HM. Sunandari sebagai Koordinator Bidang Birokrasi dan Kepemerintahan. Bapak H. Syaiful Habib, SH, M.Hum (wafat tahun 2002) sebagai Koordinator Lembaga Pendidikan dan Ketrampilan. Sedangkan perjuangan untuk mengembangkan Pondok Pesantren yang telah didirikan oleh pendahulunya dengan tugas dan wewenangnya masing – masing sesuai dengan penjelasan di atas.

Pada masa tersebut al-Kamal merupakan respon di tengah hangatnya suasana pertempuran dua sistem pendidikan tradisional (salafi) dan sistem pendidikan modern (‘ashriyah). Pondok ini dibangun di tengah pergumulan masyarakat abangan Kunir Wonodadi Blitar (meminjam teori Clifford Geert) yang membutuhkan keistiqomahan, keteladanan, kesabaran, kesederhanan dan semangat yang tinggi. Sehingga kalau kita melihat Al-Kamal sekarang,  nilai-nilai luhur para pendiri sudah terintegrasikan dalam sistem pendidikan pondok pesantren.

Setelah wafatnya salah satu pimpinan Pondok Pesantren Terpadu al-Kamal yaitu Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah (tahun 2009), sebenarnya struktur Yayasan Pondok Pesatren Al-Kamal berubah. Ketua Yayasan sebelumnya KH Zen Masrur di jadikan Pembina Yayasan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren.Sedangkan Ketua Yayasan adalah H. Johar Wardani yang berdomisili di Surabaya. Sedangkan dewan Pengasuh PP al-Kamal di berikan kepada, KH. Asmawi Mahfudz. Maka Idealisme, jiwa, dan falsafah hidup yang ruh pesantren diteruskan oleh oleh dua pengasuh yaitu Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag bersama Bapak KH. Zen Masrur, BA. Satu tahun kemudian, pada bulan Ramadhan beliau abah KH Zen Masrur BA dipanggil kehadirat Allah SWT.

Generasi keempat tahun 2012, kepemimpinan atau kepengasuhan Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal dilanjutkan oleh Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag dan KH. Hafidz Lutfi S.Ag. Pada masa ini, penanaman ruh pesantren dikembangkan secara efektif, efesien dengan menggunakan sistem dan metode pendidikan pesantren pada umumnya yang mengedepankan penalaran dan berpikir kritis. Cara ini pada berikutnya dapat melahirkan dan mengembangkan etos-etos tertentu yang membuat anak didik menjadi lebih dinamis, kritis dan kreatif.

Selang beberapa saat kemudian, Kepengasuhan Pesantren berubah lagi, dengan menambahkan H. Ahmad Hasanudin, S.HI. Ini bertujuan untuk mengakomodasi kekeluargaan dan memperkokoh organisasinya. Artinya semua program pesantren dapat didistribusikan sesuai dengan kemampuan masing-masing pengasuh yang ada di PPTA. Maka di bagilah tugas-tugas kepengasuhannya, KH Asmawi mahfudz bertugas mengkoordinasikan bidang ketakmiran, madrasah diniyah, ma’had ali, murotili al-Qur’an, majlis ta’lim, atau program-program kepesantrenan dan pengajian. KH Hafidz lutfi mengkoordinasikan lembaga-lembaga formal, panti asuhan, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dan KH Hasanudin mengkoordinasikan program identifikasi aset kekayaan PPTA, sarana-prasarana dan pembangunan. (abd/red)

Sejarah Masuknya Islam di Tulungagung

created by Ramadhani Fatchurahman

Mbah Hasan Mimbar. Dialah sosok ulama penyebar agama Islam pertama yang langsung memperoleh mandat dari Pakubuwono II melalui Bupati pertama Tulungagung Eyang Kiai Ngabei Mangundirono. Makam Mbah Hasan Mimbar berada di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. “Hasan Mimbar sejak 1727 dapat perintah dari Mataram, yaitu Pakubowono II, untuk menyampaikan ajaran Islam di Tulungagung atau di Ngrowo pada waktu itu. Perintahnya adalah untuk menikahkan, menjalankan hukum waris dan sebagainya,“ tutur Muhammad Ali Sodiq selaku penerus dan anak keturunan Mbah Hasan Mimbar. Bupati Tulungagung pertama Eyang Kiai Ngabei Mangundirono memanggil dimas atau kakak terhadap Mbah Hasan Mimbar. Jadi, secara nasab keluarga, bupati pertama Tulungagung itu adik Mbah Hasan Mimbar. Lebih tua Mbah Hasan Mimbar. “Hasan Mimbar mempunyai tanah perdikan pemberian Mataram, yaitu Majan, sekitar 95 hektare. Akhirnya, Mbah  Hasan Mimbar wafat, kemudian pimpinan diteruskan oleh putra-putranya,  baik pernikahan, sistem pemerintahan, dan sistem administrasinya,” ungkap Sodiq. Mbah Hasan Mimbar mempunyai generasi yang banyak. “Ya Majan ini adanya. Sampai beberapa tahun berikutnya situasi tanah itu tidak kondusif. Akhirnya dihapus menjadi tanah biasa pada tahun 1979 sampai sekarang,” tutur Sodiq. Mbah Hasan Mimbar punya peran besar dalam mensyiarkan Islam di Tulungagung. Termasuk pensyiar Islam pertama karena waktu itu bupati pertama yang memberikan perintah untuk mensyiarkan Islam. “Jadi jelas,  Mbah Hasan Mimbar adalah ulama atau tokoh yang mensyiarkan agama Islam di Tulungagung  atas dasar perintah Mataram,” tukas Sodiq.

Tanah Majan ini dipercaya memiliki posisi penting. Calon-calon aparat pemerintahan atau bupati banyak yang ke sini untuk meminta berkah doa restu pada sesepuh Majan dan meneladani ziarah ke makam Mbah Hasan Mimbar. “Memang, di samping makam Mbah Hasan Mimbar juga disemayamkan makam bupati keempat, yaitu Mas Pringgodiningrat, makam Bupati kelima Joyoningrat, dan Bupati kesepuluh Pringgo Kusumo. Semua masih kerabat,” imbuh Sodiq. Peninggalan yang paling fenomenal Mbah Hasan adalah pusaka pemberian kerajaan yang sekarang lebih dikenal dengan nama pusaka Kiai Golok. Selain itu, tiap tahun, di bulan Maulid di tempat ini  rutin digelar grebeg Maulid yang ikon utamanya adalah pusaka Kiai Golok.

Selain itu ada juga sumber yang mengatakan sebagaimanaMasjid  tiban Sunan Kuning terletak di desa Macanbang kecamatan Gondangkabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Masjid yang terdapat makam di sebelahnya(makam Sunan Kuning) berada di tengah- tengah pemukiman penduduk, dikelilingioleh pagar batu bata setinggi 1,5 meter, panjang 55 meter dan lebar 45 meter.Di sebelah barat dan selatan masjid Sunan Kuning terdapat pemakaman umum,diantaranya makam Sunan Kuning yang mempunyai nama asli Zaenal Abidin, dandikelilingi oleh makam sahabat-sahabatnya. Di sebelah masjid ini terdapatbangunan berbentuk bangunan joglo untuk makam Sunan Kuning yang juga baru sajadibangun oleh masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadapnya melalui danaswadaya.

Sedangkan kijingan dan batu nisannya diganti dengan batu marmer. Menurut cerita panitia, batu marmernya didatangkan dari Campurdarat. Sedangkan masjidnya sekarang sudah dipugar / direnovasi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung dengan kucuran dana 100 juta rupiah dari anggaran pembangunan tahun 2004. Karena termakan usia kondisi masjid sudah rusak berat, sehingga bangunan aslinya sudah diganti dengan bahan-bahan baru, namun bentuk dan luas masjid masih tetap sama dengan bangunan aslinya. Sebelum dilakukan pemugaran masjid Sunan Kuning, sempat terjadi perbedaan pendapat antara kelompok yang masih mempertahankan keaslian masjid dengan kelompok yang menginginkan pembaharuan masjid yang sudah tua. Bagi yang menginginkan masjid Sunan Kuning tetap seperti apa adanya berdalih jika masjid dipugar dan diganti dengan bangunan baru akan kehilangan rasa magisnya dan bisa berakibat sepinya orang yang melakukan i’tikaf di dalam masjid.

Karena bagaimanapun, kuat dan baiknya bangunan baru tetap berbeda dengan bangunan yang dibuat oleh seorang wali, Sunan Kuning. Sedangkan bagi yang menginginkan pemugaran masjid berpendapat nilai magis masjid bukan terletak di bangunannya, tapi pada letaknya. Jadi seandainya masjid Sunan Kuning direnovasi tidak akan mempengarui nilai magis selama tidak dipindah letaknya. Dan nyantanya, walaupun sudah dipugar, sampai saat ini juga masih banyak peziarah, maupun yang i’tikaf di masjid ini. Di dalam makalah “Sejarah Hutan Semampir Tahun 1800”, yang ditulis oleh Ngabdul Rasyid, Sunan Kuning memiliki nama asli Zaenal Abidin Putro yang merupakan keponakan Sunan Kudus dan menantu Sunan Ampel, tinggal serta berdakwah di dusun Krajan desa Macanbang kecamatan Gondang. Beliau wafat dan dimakamkan di barat masjid tiban Macanbang.

Tahun 1478- 1550 Jw (1553-1625 M), Sunan Ampel mengembangkan wilayah penyebaran Agama Islam sampai di daerah Ludoyo Blitar. Di Ludoyo ada seorang tokoh masyarakat bernama Ki Gawong yang memiliki kasekten dan murid banyak sekali. Pada waktu diadakan musyawarah antara pengikut Sunan Ampel dan Ki Gawong beserta murid- muridnya terjadi ketidaksepahaman antara dua kelompok tersebut dan pada akhirnya terjadi perselisihan dan peperangan. Peperangan antara dua kelompok tersebut dimenangkan oleh Ki Gawong dan murid-muridnya. Setelah pengikut Sunan Ampel kembali ke Surabaya, ia mendapat petunjuk agar putrinya, Siti Nuriyah, dijodohkan dengan Sunan Kuning yang kelak dapat mengalahkan Ki Gawong di Ludoyo. Setelah menjadi menantu Sunan Ampel, Sunan Kuning mendapat tugas ke Ludoyo menaklukkan Ki Gawong dan ternyata berhasil mengalahkan Ki Gawong beserta murid-muridnya serta meng-islamkannya.

Ketika Sunan Kuning dan Ki Gawong beserta murid-muridnya pergi ke Surabaya untuk melaporkan kepada Sunan Ampel, di tengah perjalanan istirahat di hutan Semampir (Kediri) untuk makan dan minum. Minuman yang diberikan Sunan Kuning oleh Ki Gawong diberi racun hingga menewaskannya. Akhirnya jenazah Sunan Kuning oleh murid- muridnya dibawa kembali/ pulang ke Desa Macanbang Kecamatan Gondang Tulungagung dan dimakamkan di barat masjid tiban Macanbang. Namun ada yang menduga bahwa sesungguhnya jenazah Sunan Kuning tidak dibawa kembali oleh murid-muridnya ke Macanbang Gondang Tulungagung, tapi dimakamkan di makan Setono Gedong Kediri. Sedangkan makam yang ada di Macanbang sekarang ini hanyalah petilasannya saja. Makam yang sesungguhnya ada di Setono Gedong dekat masjid tiban yang belum jadi. Di dalam buku “Sejarah dan Babat Tulungagung”, tahun 1971, ta’mir masjid Sunan Kuning menyatakan bahwa masjid Sunan Kuning ditemukan oleh menantu Kyai Ageng Muhammad Besari Tegalsari, Jetis, Ponorogo ketika menjalankan misinya menyebarkan Agama Islam.

Kyai Ageng Muhammad Besari adalah ulama Ponorogo yang mendapat hadiah tanah perdikan mutihan(perdikan kaum santri) dari Sunan Pakubuwono II karena jasanya membantu Sunan Pakubuwono II ketika melarikan diri dari Keraton Surakarta akibat geger pecinan (pemberontakan orang- orang Cina) tahun 1743. Sunan Pakubuwono II memerintah Keraton Surakarta tahun 1727- 1749. Sebagai bukti penghargaan dan penghormatan masyarakat Macanbang terhadap tokoh Sunan Kuning dibentuklah takmir masjid dan juru kunci makam untuk mengelola makam dan masjid serta untuk melestarikan kesejarahannya. Wallahu`alam bisshowab.

SEJARAH KOTA TULUNGAGUNG

created by Amelia Fadila Yunanto

Sesudah runtuhnya kerajaan mojopahit sejarah Indonesia mengancik jaman baru yang oleh Muh.Yamin disebut babakan Internasional. Pada masa ini bangsa Indonesia berkenalan dengan faham keagamaan baru serta bangsa barat. Kedua hal diatas membawa perubahan didalam alam berfikir, berpolitik dan kehidupan social ekonomi pada umunya.

Perluasan Islam dan perkembangan kerajaan-kerajaan pantai di Indonesia lebih dipercepat dengan datangnya orang barat ke wilayah ini. Bangsa Barat yang pertama menginjak bumi Indonesia dalam hubungan perdagangan adalah bangsa Portugis. Kedatangan mereka kecuali berusaha mencari pusat rempah-rempah juga untuk melanjutkan gerakan Perang Salib. Karena itu kedatangan orang Portugis ini disertai permusuhan terhadap orang-orang Islam. Dikuasainya Malaka oleh orang-orang Portugis pada tahun 1511, menyebabkan makin tersebar luasnya Islam di wilayah Indonesia. Demikian pula perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa tidak dapat kita lepaskan dari faktor kedatangan orang Portugis ini. Sebagai kelengkapan tindakan orang-orang Portugis memusuhi agama Islam, disebarkanlah agama Katholik. Karena itu agama ini pertama-tama kita lihat perkembangan didaerah Maluku, yaitu tempat orang-orang Portugis dapat menanamkan kuasanya.


Kerajaan Demak yang mengetahui bahasa Portugis ini berusaha sekuat tenaga menentangnya baik secara langsung menyerangnya pangkalan Portugis di Malaka maupun dengan jalan blokade beras yang sangat dibutuhkan orang-orang Portugis di tempat itu. Adipati Kudus (oleh orang Portugis disebut Pati Unus) yaitu putera Sultan Demak adalah pahlawan dari kerajaan ini yang telah memimpin penyerangan
langsung ke malaka bersama-sama dengan Aceh. Serangan ini tidak berhasil bahkan dia gugur sebagai pahlawan. Trenggono pengganti Sultan Fatah adalah Sultan yang giat berusaha mengislami dan mengusai daerah pesisir. Dia mati terbunuh di Pasuruan dalam rangka menjalankan tugasnya itu (1548). Sepeningglan Sultan Trenggono, Demak mengalami kekacauan perebutan kekuasaan. Di antara mereka yang saling berebut kedudukan itu, Adiwidjaja juga memperoleh kemenangan. Kemudian mendirikan pusat kerajaan daerah pedalaman dan kekalahan daerah pesisir. Ini berarti pula tenggelamnya cita-cita kebebasan yang menolak adat Hindu pula penyerahan upeti. Cita-cita kebebasan tidak dapat dipertahankan lagi. Rakyat dipedalaman statis. Faham raja sebagai titisan Dewa dan sangat bertuah, tidak mudah dikikis dengan faham baru yaitu agama islam. Sunan Kalijogo Syeh Siti Jenar dan wali-wali lainnya terpaksa harus menggunakan persesuaian kebudayaan dan filsafat Hindu-Budha untuk menyebarkan agama islam dipedalaman. Meskipun demikian faham raja sebagai titisan Dewa yang disembah-sembah dan dihidupi dengan upeti tetap tidak dapat dienyahkan bahkan makin berkembang lagipada jaman Mataram Islam.

Padang mengalami keruntuhan ketika pimpinan prajurit padang dijabat oleh Sutowidjojo. Dia berkeinginan menguasai Tanah jawa dan bersiap-siap menentang pemerintahan Pusat.Ketika sultan padang (Adidwidjojo) mengetahui rencana Sutowidjojo ini berusaha akan menghukumnya tetapi sudah terlambat. Prajurit-prajurit pengikut Sutowidjojo benar-benar melaksanakan keinginannya dan berhasil dapat menguasai padang (1586). Sejak inilah berdiri kerajaan Mataram Islam yang benar-benar sebagai kerajaan pedalaman.

 Tahun 1744 Sunan mendirikan ibu kota baru yaitu Surakarta Adiningrat.
Kyai Basarlah dari Ponorogo yang telah berjasa melindungi Sunan selama masa pelariannya dikota itu, ditawari kedudukan sebagai penguasa tetapi ditolaknya dan dia hanya meminta perdikan untuk daerah Tegalsari (tempat kediamannya). Penolakan ini tentu tidak lain hanyalah akan menjadi alat pemeran VOC.Sebagai guru mengaji dan daerahnya sebagai daerah perdikan merupakan satu-satunya jalan untuk menjauhi VOC dan VOC tentu tidak akan berani menjamah daerah perdikan semacam ini.

Tahun 1746 Gubernur Jenderal Van Imhoff mengunjungi Surakarta untuk memperluas hak-hak kompeni tetapi hal ini menimbulkan kekecewaan pengeran-pengeran sehingga saudara-saudara Sunan memberontak..Pangeran Mangkubumi yang merasa direndahkan oleh patih Pringgelojo dan menyebabkan dia dimarahi oleh Gubernur Jenderal Van Imhoff dimuka umum kemudian pergi meninggalkan Surakarta
dan menggabungkan diri dengan pemberontak yaitu raden Mas Said putera pangeran Mangkunegro.

 Sejak inilah terjadi perang mangkunegoro (1746 – 1755).
Tahun 1749 Paku Buwono II meninggal diganti oleh puteranya yaitu Paku Buwono III (1749 –1788) sepeninggal Paku Buwono II inilah Pangeran Mangkubumi memproklamir diri sebagai Sunan Mataram dan dengan tepat memperoleh dukungan rakyat.

Paku Buwono III dan VOC tidak mampu menghadapi perlawanan Mangkubumi dan Raden Mas Said ini. Atas kelicikan VOC Paku Buwono III dapat dipengaruhi agar mengadakan perdamaian dengan Mangkubumi dan memberikan sebagian daerahnya kepadanya. Paku Buwono III dapat menerima saran tersebut dan perang dapat diakhiri dengan perjanjian Gianti (1755). Dalam perjanjian itu ditentukan Mangkubumi mendapat separo dari daerah dan penduduk Mataram. Oleh VOC dan Paku Buwono III Mangkubumi III diakui sebagai raja yang berdiri sendiri, bergelar Sultan Hamengku Buwono I (1755 –1792). Pusat pemerintahan adalah di Ngajogjakarta adiningrat yang dulu merupakan tempat dia memproklamirkan diri sebagai Sunan di Mataram (1749) dan disini pula tempat menghimpun. Pada saat Sultan ini memulai perjuangan salah seorang murid Kyai basarlah dari Ponorogo menjadi pengikut Mangkubumi (Sultan hamengku Buwono). Hal ini wajar karena gurunya sendiri adalah orang yang pada dasarnya menolak kerjasama dengan VOC seperti kita terangkan diatas Murid Kyai basariah tersebut bernama Kyai abu mansur.

Abu mansur sebagai pengikut Mangkubumi mendapat tugas untuk menghidupkan jiwa
perjuangan melawan VOC. Tugas ini tentu disesuaikan dengan kemampuannya. Sebab itu abu mansur sebagai guru mengaji hanya bertugas memperkuat mental dan iman orang-orang yang menjadi pendukung perjuangan Mangkubumi. Dan sehubungan dengan inilah tahun 1750 Mangkubumi memberi wewenang sepenuhnya kepada Abu mansur untuk mendidik dan memperkuat mental orang-orang didaerah tempat
tinggalnya yaitu desa tawangsari dengan dasar-dasar ajaran islam. Kyai ini rupa-rupa tidak puas dengan memperkuat mental dan iman Islam untuk rakyatnya tetapi diajarkan pula kemampuan bela diri yaitu pencak silat.

Perlu kita ketahui bahwa di DesaTawangsari pada masa itu masih merupakan desa yang meliputi desa winong, Majan dan tawangsari sensiri. Pamecahan menjadi tiga desa itu terjadi kemudian. Kembali kita kepada pemecahan daerah Mataram menurut perjanjian Gainti tahun 2.175 Pembagian daerah ini terutama didasarkan atas kesuburan daerah dan jumlah penduduk yang keduanya harus dibagi samarata.

PERANAN MASJID AL MIMBAR DI DESA MAJAN KABUPATEN TULUNGAGUNG

Masjid Al-Mimbar berada di Desa Majan Kecamatan Kedungwaru merupakan masjid tertua di Kabupaten Tulungagung. Masjid ini peninggalan KH. Hasan Mimbar, salah satu ulama besar dimasakerajaan Mataram. Sampai sekarang Masjid Al-Mimbar masih berdiri kokoh. Berbagai aktivitaskeagamaan diadakan di masjid ini. Bagaimana peranan Masjid Al-Mimbar terhadap perkembangan Islamdi Kabupaten Tulungagung?


Masjid Al-Mimbar berada di desa Majan Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung.Masjid ini salah satu peninggalan sejarah tentang perkembangan Islam di Kabupaten Tulungagung. KH.Hasan Mimbar yang masih keturunan Mataram adalah pendiri masjid tersebut. Menurut KH. R. Moh.Yasin mantan kepala desa Majan, tsetelah KH. Abu Mansur pergi haji beliau menyerahkan daerah utaraTawangsari untuk ditempati KH. Hasan Mimbar kemudian dinamakan desa Majan.Pada tahun 1727 atas nama Sunan, Bupati Ngabai Mangundirojo memberi kuasa kepadasaudaranya KH. Hasan Mimbar untuk melaksanakan hukum nikah dan sebagainya, kepada orang yang
membutuhkannya sampai tahun 1979. “Dulu desa Majan mendapat kebijaksanaan sendiri dalammelakukan pernikahan namun sekarang sudah tidak lagi karena diberikan kepada pemerintah” jelas M.Yasin yang sudah dua kali sebagai Kepala Desa Majan.
Menurutnya semua tanah yang ada di Majan merupakan tanah perdikan, namun sekarang tidaklagi. Pada tahun 1979, Desa Majan, Winong dan Tawangsari tidak lagi daerah perdikan. Pada saat itu,yang menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur adalah Soenandar Prayosoedarmo, dan Bupati TulungagungSinggih. Di desa Majan diwakili Towil Isa, desa Winong diwakili oleh Sujangi Habib dan DesaTawangsari oleh Murtadho. Ketiga Desa tersebut kemudian berstatus sebagai desa biasa lazimnya desadesa yang ada di Kabupaten Tulungagung. Didalam perjanjian pembebasan tanah Desa Majan tersebutberbunyi :
 Adat istiadat Majan tidak dirubah selama tidak bertentangan dengan agama
 Akan diberi prioritas
 Akan disesuaikan dengan desa biasa
Mengenai Masjid Al-Mimbar sejak dulu dijadikan pusat kegiatan dan pengembangan agamaIslam. Beberapa peninggalan yang masih tersisa sampai saatnya diantaranya Mimbar Khotbah, Beduk danMenara. Sudah sering kali masjid ini mengalami renovasi. Mimbar selalu tertutup tidak seperti masjidyang lain. Menurut M. Yasin mimbar tersebut memberi makna dasarnya jangan memandang yang berkhotbah, tetapi dengar yang berkhotmah. Selain sebagai tempat beribadah, juga dijadikan tempat untuk
mengembangkan ilmu karomah. M. Yasin yang juga sebagai pengasuhnya menjelaskan, cara wirid masjid Majan naluri Tegalsaren. Sekitar Masjid Al-Mimbar ini terdapat makam KH. Hasan Mimbar Makam Bupati Tulungagung Pringgokoesomo dan Djoyodiningrat.

Sejarah Masjid Agung An-Nur Pare

created by Dializ Zidna Ilma Waafina

Masjid Agung An-Nur Pare adalah masjid yang terletak di Jalan Panglima Sudirman, Kota Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Masjid Agung An-Nur Pare menjadi representasi penting untuk masyarakat setempat. Selain sebagai tempat ibadah, masjid yang dibangun pada tahun 1996 ini, juga merupakan pusat syiar Islam di Kota Pare dan Kota Kediri.

Masjid An-Nur ini dibangun di kecamatan dengan kemegahan yang tak kalah dengan masjid agung kabupaten.

Pare adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sebagaisebuah kecamatan, Pare tergolong maju. Berbagai infrastruktur seperti hotel,rumah sakit besar, pusat perbelanjaan, dan kantor-kantor perwakilan bank ada disana. Salah satu yang mencirikan pesatnya kemajuan Pare adalah Masjid AgungAn-Nur. Masjid megah ini merupakan pusat syiar Islam di Pare dan Kediri.Lokasinya di jalan utama kota menegaskan keberadaan masjid sebagai landmarkwilayah Pare.

Sejarah

Pembangunan masjid di tanah seluas sekitar 4 hektare ini sempat terhenti karena krisis moneter 1997, namun akhirnya berhasil diselesaikan dengan menelan biaya sekitar Rp 200 miliar. Biaya pembangunan itu sungguh besar untuk ukuran sebuah masjid, namun menjadi wajar bila ditengok dari bangunan masjid yang namanya diambil dari Kyai Nurwahid, pejuang Islam yang terkenal di Kota Pare yang dimakamkan di Desa Tulung Rejo, Pare, Kediri.

Masjid yang namanya diambil dari nama pejuang Islamtersohor di Pare, yakni Kiai Nurwahid, tersebut mengambil pola dasar arsitekturkhas Jawa Klasik. Hal ini dapat dilihat pada atap masjid yang berbentuk tajugdengan model piramid di ujung atasnya. Menariknya, atap ini dibuat dengan sudutkemiringan yang cukup ekstrem sehingga terkesan menjulang tinggi ke langit.Seperti kebanyakan masjid di Indonesia, arsitektur khas Jawa bisa dilihat pada bentuk atap masjid, yaitu atap tajug untuk bangunan induknya dan atapjoglo untuk bangunan tempat masuk. Agar terkesanekspresif, atap tajug dirancang berebentuk piramid di bagian atasnya, dengankemiringan sudut yang dipertajam sedemikian rupa, sehingga diperoleh kesan atapyang menjulang ke langit. Bangunan beratap tajug dan joglo itu, konon, telahdikenal sejak masa Kerajaan Kahuripan dan Doho

Arsitektur

Meskipun mengambil gaya Jawa Klasik, pada Masjid An-Nur ini juga diberlakukan modifikasi. Tiang utama atau biasa disebut sebagai soko guru yang pada kebanyakan masjid Jawa Kuno berjumlah empat, pada masjid ini masing-masing tiang digandakan lagi menjadi empat soko guru yang disatukan oleh balok pengikat saling bersilangan.

Dalam arsitektur tradisional Jawa, biasanya atap tajug atau joglo ditunjang 4 soko guru. Pada Masjid Agung An-Nur Pare, setiap soko guru itu digandakan menjadi empat soko guru. Keempat soko guru ini disatukan oleh balok pengikat yang saling bersilangan di tengah dengan arah miring ke atas dan bersatu di titik puncak persilangan. Pada titik inilah balok pendukung space frame yang digunakan untuk konstruksi atap itu bertumpu. Struktur space frame dipilih untuk kerangka atap bertujuan untuk memberi kesan ringan yang diekspresikan oleh rerangka space frame tersebut, yang sengaja tidak ditutup dengan plafond, sehingga kontras dengan kesan kokohnya susunan balok dan soko-soko guru pendukungnya.

Rancangan Masjid Agung An-Nur Pare ini diilhami oleh John Portman, arsitek asal Amerika Serikat. Salah satu elemen rumah yang paling menonjol adalah kolom-kolomnya. Kolom yang ‘dibengkokkan’ (exploded column), yang didalamnya dikosongkan dan difungsikan khususnya untuk sirkulasi antar ruang dan tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas. Kolom yang ‘dibengkokkan’ inilah yang digunakan perancang untuk kolom-kolom masjid bagian luar, dengan tujuan untuk memberi proporsi yang sesuai dengan jarak kolom yang membentengi tiga traffee bagian luar. Selain itu juga memberikan tampilan yang kontras antara kolom lingkar yang kokoh dengan bidang dinding kaca lebar yang transparan di lantai satu. Bidang dinding kaca ini diperlukan untuk memberi kesan bebas pada para jamaah dari dalam masjid yang ingin melihat ke taman di luarnya.

Keindahan masjid diperkuat dengan keberadaan kolam tepat di area plaza masjid. Pada waktu-waktu tertentu, kolam tersebut merefleksikan bayangan masjid secara utuh hingga menghasilkan pemandangan yang sangat indah. Pada malam hari pun kolam menjadi aksen keindahan tersendiri karena dilengkapi lampu di sepanjang bibir dan tengah kolam.

Bagian dalam ruang utama masjid tampil bersahaja, tidak terlalu banyak menggunakan detail ornamen. Konsep ruang memang dibuat terbuka sehingga pencahayaan alami dari luar bebas menerobos ke dalam ruang. Tidak banyak detail ornamen yang tampak pada mihrab masjid ini. Mihrab hanya dibentuk dari tiga lapis garis lengkung sebagai pembeda dengan bagian lain. Mimbar yang diletakkan di mihrab pun terlihat sederhana.

Keunikan lainnya adalah beduk di ruang utama ibadah. Di kebanyakan masjid, biasanya beduk diletakkan di plaza atau luar ruang utama. Namun, keberadaan beduk ini terkesan sebagai aksen ruang yang menegaskan keutamaan ruang tersebut. Masjid yang rancangannya terilhami oleh arsitek asal Amerika Serikat, John Portman, tersebut berhasil memadukan berbagai keunikan menjadi satu bentuk yang megah namun tetap elegan. Hasilnya, kesan ramah pun terasa kental di sana.

Konsep arsitektur inilah yang mengantar Masjid Agung An-Nur Pare mendapat penghargaan Juara Pertama Sayembara Internasional untuk kategori Perancangan Arsitektural Masjid, termasuk pemanfaatan teknologi modern dalam arsitektur masjid. Penghargaan ini diberikan oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Kerajaan Saudi Arabia, akhir Januari 1999 lalu.