
Berdasarkan legenda, dahulu bangsa Tartar dari Asia Timur sempat menguasai daerah Blitar yang kala itu belum bernama Blitar. Majapahit saat itu merasa perlu untuk merebutnya. Kerajaan adidaya tersebut kemudian mengutus Nilasuwarna untuk memukul mundur bangsa Tartar. Keberuntungan berpihak pada Nilasuwarna, ia dapat mengusir bangsa dari Mongolia itu. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar sebagai Adipati Aryo Blitar I untuk kemudian memimpin daerah yang berhasil direbutnya tersebut. Ia menamakan tanah yang berhasil ia bebaskan dengan nama Balitar yang berarti kembali pulangnya bangsa Tartar.
Islam adalah salah satu agama yang pada saat itu dibawa masuk ke Indonesia oleh para pedagang Gujarat, India. Berdasarkan ilmu bahasa (Etimologi) kata ”Islam” berasal dari bahasa Arab, yaitu kata salima yang berarti selamat, sentosa dan damai. Dari kata itu terbentuk kata aslama, yuslimu, islaman, yang berarti juga menyerahkan diri, tunduk, paruh, dan taat. Sedangkan muslim yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, patuh, dan tunduk kepada Allah s.w.t.
Secara istilah (terminologi) Islam berarti suatu nama bagi agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada manusia melalui seorang rasul. Ajaran-ajaran yang dibawa oleh Islam merupakan ajaran manusia mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Islam merupakan ajaran yang lengkap , menyeluruh dan sempurna yang mengatur tata cara kehidupan seorang muslim baik ketika beribadah maupun ketika berinteraksi dengan lingkungannya.
Sebagai agama terakhir, Islam diketahui memiliki karekteristik yang khas dibandingkan dengan agama-agama yang datang sebelumnya. Islam adalah agama yang sempurna dan universal, ia berlaku sepanjang waktu, kapanpun dan di manapun. Islam berlaku untuk semua orang dan untuk seluruh dunia. Maka dari itu, tentunya ajaran Islam memiliki dasar sebagai pondasi yang dijadikan sebagai acuan dan pedoman oleh komunitasnya di seluruh dunia. Dan setiap agama mempunyai tujuan, sumber, ruang lingkup dan karakteristik ajaran yang membedakan dari agama-agama lain.
Islam masuk di Blitar dengan cara damai dan diterima baik oleh masyarakat Blitar. Dakwah Islam atau penyebaran agama Islam ini dilakukan dengan cara mendirikan madrasah, pengajian-pengajian di surau dan juga mendirikan pondok pesantren. Salah satu pondok pesantren yang hingga saat ini masih berdiri adalah Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal.
Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal didirikan pada tahun 1940 oleh KH. Manshur salah seorang putra KH. Imam Basyari (salah seorang kyai di Mangunsari Tulungagung). Keberadaan Pondok ini berawal dari amanat KH. Imam Basyari terhadap putra-putranya yang menginginkan agar tanah babatan hutan di Blitar, ditempati oleh salah seorang putranya. Satu-satunya putra beliau yang bersedia menempati tanah tersebut adalah Manshur yang waktu itu baru pulang menuntut ilmu beberapa tahun di Mekah.
Tahun 1918 M. Manshur berangkat menuju desa Kunir Blitar. Di desa tersebut, Manshur mendirikan sebuah langgar dan kemudian mendirikan majelis ta’lim atau pengajian yang santri-santrinya berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Pengajian yang diselanggarakan KH. Manshur berkembang terus dan memerlukan beberapa tempat untuk menginap para santri-santrinya. Kala itu pondok ini bernama Pon. Pes. Kunir. Berdasarkan prasasti yang terdapat di Masjid Jami’ Desa Kunir, Pondok tersebut berdiri pada tahun 1940. Selain mengajar santri-santrinya, KH. Manshur juga menjadi imam Masjid Jami’ Kecamatan Srengat dan ikut aktif berjuang melawan penjajah.
Pemuda Manshur kemudian menikah dengan seorang gadis putri dari H. Abdullah bernama Maimunah. Dari pernikahan tersebut menghasilkan keturunan beberapa anak dan cucu yang pada akhirnya menjadi cikal bakal dari pengurus yayasan Pon. Pes. Al-Kamal di masa akan datang. KH. Manshur dikaruniai enam orang anak, namun tiga di antaranya meninggal dunia di waktu kecil, dan tiga yang hidup kesemuanya perempuan, yaitu Siti Malikah yang menikah dengan H. Sholeh. Mereka bertempat tinggal 1 Km sebelah barat KH. Manshur. Pada akhirnya mendirikan Pondok Pesantren dengan nama Mambaul Huda di Dusun Manggar Desa Kunir.
Anak kedua yakni Siti Matinnah yang menikah dengan H. Thobib dan dikaruniai tujuh anak yaitu Hj. Sumbulatin, Hj. Miatu Habbah, Hj. Siti Masyithoh, H. Syaiful Habib, H. Syamsul Ma’rif, Hj. Siti Maswah, H. Imam Asy’ari. Dari keluarga Hj. Sumbulatin ini yang kemudian mengelola firqah LKSA Putra Putri dan Adawiyah.
Anak ketiga yakni Siti Munawaroh menikah dengan KH. Thohir Wijaya dan dikaruniai enam anak yaitu Hj. Astutik Hidayati, Hj. Nur Saida, Hj. Asmawati, H. Jauhar Wardani, Hj. Reni Rahmawati, Hj. Rina Laila Wati. Hj. Astutik Hidayati, menikah dengan KH Mahmud Hamzah dengan menikahkan putrinya Hj. Erria Masfia dengan Dr. H. Asmawi Mahfudz, sedang Hj. Atik Hatmayanti dengan H. Ahmad Hasanudin dari Pasuruan. Seperti keluarga di atas keluarga yai Mahmud juga mengelola firqah al-Manshur, al-Munawarah dan unir Hidayati Mahmud atau HM.
Setelah KH. Manshur wafat, Pondok Pesantren ini diasuh para menantunya, KH. Thohir Wijaya dan KH. Thobib . Pada masa inilah terdapat perubahan nama Pondok Pesantren Kunir diubah menjadi Pondok Pesantren Al-Kamal, hasil istikharah pengasuh saat itu yakni KH. Thohir Wijaya, dengan perubahan dari sistem sorogan dan bandungan menjadi klasikal. Sistem pendidikan Ponpes berubah dari salafiyah murni berubah menjadi Terpadu yakni perpaduan antara salafiyah (klasik) dan Kholafiyah Ashriyah (modern).
Mulai saat itu, wajah dan dinamika pondok pesantren menjadi dinamis, berkembang sampai sekarang dengan sistem pendidikan yang lebih relevan dan akomodatif terhadap perkembangan zaman disertai tantangan modernisasinya.
Masa kepemimpinan pertama adalah pendiri KH. Manshur pada tahun 1940 – 1960 M, pada masa ini Pondok Pesantren dikelola secara mutlak oleh pendirinya dengan dibantu oleh beberapa orang asatidz (para guru yang mumpuni dalam bidang agama, terutama mereka-mereka yang telah tamat dari pesantren-pesantren sekitar Blitar)
Masa kepemimpinan generasi kedua, pada tahun 1960 – 1998 masa ini penyelenggaraan dan pengelolaan Pondok Pesantren ditangani oleh para menantu dari KH. Manshur yakni KH. Thohir Wijaya dan KH. Thobib yang kemudian membentuk sebuah organisasi yayasan sebagai pengembangan dari para anggota keluarga yang memang berkompeten dalam memperjuangkan dunia pendidikan Agama Islam dan kepesantrenan. Ini terinspirasikan pada tahun 1977, ketika Bapak KH. Ahmad Thohir Wijaya diangkat menjadi anggota DPR / MPR RI, sehingga membuka akses (Network) pesantren Al-Kamal di lembaga birokrasi pemerintahan yang pada akhirnya Al-Kamal berkembang baik dalam pendidikan formal maupun non formal. Sejak itu Al-Kamal sudah menjadi sebuah lembaga pendidikan pesantren yang didatangi oleh para santri dari berbagai penjuru tanah air.
Pada tahun 1981 jajaran pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal semakin kokoh dengan hadirnya Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah ( menantu ke–1 dari KH. Ahmad Thohir Wijaya), yang secara langsung menangani pendidikan baik formal maupun non formal. Khususnya menangani kajian kitab – kitab kuning dan pendalaman bahasa Arab baik pasif maupun aktif untuk sehari-hari. Bersamaan dengan itu (Tahun 1981) organisasi penyelenggara Pondok Pesantren Al-Kamal secara resmi didirikan dengan bentuk yayasan yang didirikan dan diprakarsai oleh KH. Ahmad Thohir Wijaya (Suami dari Hj. Siti Munawaroh, Putra ke tiga dari KH Manshur). Saat itu Ketua I dijabat oleh Bapak KH. Zen Masrur , BA, Ketua II. Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah, Ketua III oleh Bapak Masyhudi Yusuf, BA, Bapak H. Syaiful Habib, SH. M.Hum sebagai sekretaris dan Ibu Hj. Astutik Hidayati, BA. sebagai bendahara Yayasan Pondok Pesantren Al-Kamal.
Nampaknya perkembangan Al-Kamal tidak berhenti di situ, tahun 1986 Bapak KH. Ahmad Thohir wijaya yang pada waktu itu sebagai Anggota DPR/MPR RI melebarkan sayap perjuangannya bersama – sama kabinet Pembangunan Indonesia mendirikan cabang di Pasar Kebon Jeruk Jakarta dengan nama yang sama, yaitu Pondok Pesantren Al-Kamal. Selanjutnya pada tahun 1989 kepengurusan yayasan diubah dengan masuknya Drs. H.M. Sunandari Jauhari dan H. Ibrahim Indragiri di jajaran Ketua Yayasan dan Johar Wardani, ST sebagai bendahara.
Demikianlah perjuangan Bapak KH. Thohir Wijaya dalam membesarkan dan menciptakan beberapa pondasi Pondok Pesantren Al-Kamal Kunir Wonodadi Blitar yang pada akhirnya pada tahun 1999 karena menderita penyakit yang sangat parah beliau menghadap Allah Swt. dan dimakamkan di maqbaroh keluarga besar Pondok Pesantren Al-Kamal.
Masa kepemimpinan ketiga, tahun 1998 – 2009 adalah dikendalikan oleh generasi dari Bani Manshur. Pada tahun inilah kebersamaan , solidaritas pengurus yayasan mencapai puncak kejayaannya. Kepemimpinan yayasan tidak lagi bersifat personal individual tetapi lebih mengutamakan pada semangat kolektivitas. Ada pemilihan dan pembagian kerja di antara cucu-cucu dari KH. Manshur sebagai antisipasi dalam menyongsong era modernisasi. Dengan job diskription sebagai berikut, Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah sebagai Koordinator Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal ( PPTA) dan pendidikan formal. Bapak KH. Zen masrur, BA sebagai Koordinator keta’miran dan majlis ta’lim. Bapak Mashudi Yusuf, BA (wafat tahun 2004) sebagai Koordinator Hubungan Kemasyarakatan. Bapak Drs. HM. Sunandari sebagai Koordinator Bidang Birokrasi dan Kepemerintahan. Bapak H. Syaiful Habib, SH, M.Hum (wafat tahun 2002) sebagai Koordinator Lembaga Pendidikan dan Ketrampilan. Sedangkan perjuangan untuk mengembangkan Pondok Pesantren yang telah didirikan oleh pendahulunya dengan tugas dan wewenangnya masing – masing sesuai dengan penjelasan di atas.
Pada masa tersebut al-Kamal merupakan respon di tengah hangatnya suasana pertempuran dua sistem pendidikan tradisional (salafi) dan sistem pendidikan modern (‘ashriyah). Pondok ini dibangun di tengah pergumulan masyarakat abangan Kunir Wonodadi Blitar (meminjam teori Clifford Geert) yang membutuhkan keistiqomahan, keteladanan, kesabaran, kesederhanan dan semangat yang tinggi. Sehingga kalau kita melihat Al-Kamal sekarang, nilai-nilai luhur para pendiri sudah terintegrasikan dalam sistem pendidikan pondok pesantren.
Setelah wafatnya salah satu pimpinan Pondok Pesantren Terpadu al-Kamal yaitu Bapak Drs. KH. Mahmud Hamzah (tahun 2009), sebenarnya struktur Yayasan Pondok Pesatren Al-Kamal berubah. Ketua Yayasan sebelumnya KH Zen Masrur di jadikan Pembina Yayasan sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren.Sedangkan Ketua Yayasan adalah H. Johar Wardani yang berdomisili di Surabaya. Sedangkan dewan Pengasuh PP al-Kamal di berikan kepada, KH. Asmawi Mahfudz. Maka Idealisme, jiwa, dan falsafah hidup yang ruh pesantren diteruskan oleh oleh dua pengasuh yaitu Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag bersama Bapak KH. Zen Masrur, BA. Satu tahun kemudian, pada bulan Ramadhan beliau abah KH Zen Masrur BA dipanggil kehadirat Allah SWT.
Generasi keempat tahun 2012, kepemimpinan atau kepengasuhan Pondok Pesantren Terpadu Al-Kamal dilanjutkan oleh Dr. KH. Asmawi Mahfudz, M.Ag dan KH. Hafidz Lutfi S.Ag. Pada masa ini, penanaman ruh pesantren dikembangkan secara efektif, efesien dengan menggunakan sistem dan metode pendidikan pesantren pada umumnya yang mengedepankan penalaran dan berpikir kritis. Cara ini pada berikutnya dapat melahirkan dan mengembangkan etos-etos tertentu yang membuat anak didik menjadi lebih dinamis, kritis dan kreatif.
Selang beberapa saat kemudian, Kepengasuhan Pesantren berubah lagi, dengan menambahkan H. Ahmad Hasanudin, S.HI. Ini bertujuan untuk mengakomodasi kekeluargaan dan memperkokoh organisasinya. Artinya semua program pesantren dapat didistribusikan sesuai dengan kemampuan masing-masing pengasuh yang ada di PPTA. Maka di bagilah tugas-tugas kepengasuhannya, KH Asmawi mahfudz bertugas mengkoordinasikan bidang ketakmiran, madrasah diniyah, ma’had ali, murotili al-Qur’an, majlis ta’lim, atau program-program kepesantrenan dan pengajian. KH Hafidz lutfi mengkoordinasikan lembaga-lembaga formal, panti asuhan, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dan KH Hasanudin mengkoordinasikan program identifikasi aset kekayaan PPTA, sarana-prasarana dan pembangunan. (abd/red)






