Sejarah Islam Di Jombang Ds. Tambakrejo

created by Nur Hasanah

Kabupaten Jombang adalah sebuahkabupaten yang berbatasan alam dengan Kabupaten Mojokerto, Lamongan, Nganjuk,dan Kediri. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Jombang, asal-usulKabupaten Jombang berasal dari legenda pertarungan Kebo Kicak dan Surontanu.Daerah yang menjadi tempat pertarungan tersebutlah yang sekarang dikenalsebagai Kabupaten Jombang. Masyarakat sekitar mempercayai bahwa kata Jombangberasal dari singkatan bahasa “Ijo lan Abang” yang mempunyai arti “Hijau danMerah”. Hijau disini merepresentasikan kaum santri dan merah mewakili kaumabangan atau Kejawen. Mereka memiliki prinsip yang berbeda tapi hidup denganrukun dan damai dalam satu atap. Dalam sejarahnya, Jombang merupakan wilayahyang cukup berpengaruh. Pada zaman kerajaan Majapahit, wilayah Jombangmerupakan pintu gerbang kerajaan Majapahit. Desa Tunggorono yang sekarang iniadalah gapura barat, sedangkan desa Ngrimbi merupakan gapura selatan. Darisejarah ini pula, banyak sekali wilayah di Jombang yang masih menggunakanawalan “mojo” untuk nama tempatnya, seperti: Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer,Mojotengah, Mojongapit dll. Setelah Majapahit kehilangan era dan kejayaannya,agama Islam mulai masuk dan berkembang pesat di kawasan yang sekarang bernamaJombang ini, Jombang kemudian menjadi bagian dari kerajaan Mataram Islam.Setelah pengaruh Mataram juga mulai melemah, VOC mengambil alih wilayah Jombangmenjadi bagian dari wilayah mereka, yang terjadi sekitar abad 17. Karena Islam berkembangpesat di Jombang. Terdapat banyak sekali sekolah pendidikan Islam atau PondokPesantren di Jombang dan telah terkenal di seluruh penjuru Indonesia. DiJombang ada ratusan pondok pesantren yg tersebar di seluruh penjuru daerah dijombang dan salah satunya adalah Pondok Pesantren Gadingmangu Pondok PesantrenGadingmangu

Pondok Pesantren Gading Mangu PerakJombang adalah salah satu pusat pendidikan agama Islam terbesar di Indonesia,yang menekankan pada pengajaran Al Quran dan Al Hadits serta pembentukanakhlakul karimah generasi muda. Pondok Pesantren ini berada di desa GadingMangu Perak, Jombang, Jawa Timur, berlokasi 400 meter masuk ke utara PasarJeruk, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang.

Di samping mendidik generasi mudamenjadi mubaligh dan mubalighot handal yang menguasai ilmu Quran dan hadistserta berakhlak mulia, Pondok Pesantren Gading Mangu membina para santrinyaagar cakap dalam hal intelektual dan berwawasan global. Pondok pesantren iniditunjang sekolah umum tingkat SMP, SMU, dan SMK di bawah pengelolaan YayasanBudi Utomo.

Pondok Pesantren Gading Mangu saat ini menampung sebanyak 3.500 siswa, terbagi atas1950 santri putra dan 1.550 santri putri, berasal dari berbagai daerah diseluruh penjuru Indonesia. Dari jumlah santri tersebut sebanyak 1.139 orangbersekolah di SMU Budi Utomo, 917 orang duduk di bangku SMK Budi Utomo dan 806orang menjadi siswa SMP Budi Utomo.

Sekitar tahun 1825 di sebuah dusun Gedang desa Tambakrejo, datanglah seorang yang ‘alim, pendekar ulama atau ulama pendekar, bernama KYAI ABDUS SALAM namun lebih dikenal dengan panggilan MBAH SHOICHAH (bentakan yang membuat orang gemetar). Kedatangannya di dusun ini membawa misi untuk menyebarkan agama dan ilmu yang dimilikinya. Menurut silsilah, beliau termasuk keturunan Raja Brawijaya (kerajaan Majapahit).

Kyai Abdus Salam adalah putra kyai Abdul Jabbar bin (putra) kyai Abdul Halim (Pangeran Benowo) bin (putra) kyai Abdurrohman (Joko Tingkir).

Kedatangan kyai Abdus Salam di desa ini semula masih merupakan hutan belantara, kurang lebih 13 tahun beliau bergelut dengan semak belukar dan kemudian dijadikan perkampungan yang dihuni oleh komunitas manusia. Setelah berhasil merubah hutan menjadi perkampungan, mulailah beliau membuat gubuk tempat berdakwah, yaitu sebuah pesantren kecil yang terdiri dari sebuah langgar, bilik kecil untuk santri dan tempat tinggal yang sederhana.

Pondok pesantren tersebut dikenal oleh masyarakat dengan sebutan pondok Selawe atau pondok Telu, dikarenakan jumlah santri yang berjumlah 25 orang dan jumlah bangunan yang hanya terdiri 3 lokal beserta mushollanya. Hal ini terjadi pada tahun 1838 M, kondisi tersebut adalah cikal bakal Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Sementara itu, menurut versi yang lain, istilah 3 (telu) adalah merupakan representasi dari Pondok Selawe atau Pondok Telu yang mengembangkan ilmu-ilmu syari’at, hakikat dan kanuragan. Hal itu didasarkan pada manifestasi keilmuan mbah Shoichah sendiri yang mencakup ketiganya.

Setelah kyai Shoichah (kyai Abdussalam) berusia lanjut (sepuh: bahasa jawa) tampuk pimpinan pondok Selawe atau pondok telu diserahkan kepada dua menantunya yang tidak lain adalah santrinya sendiri. Kedua menantunya tersebut adalah kyai Utsman dan kyai Sa’id. Dengan mendapat restu dari mertuanya, kyai Utsman dan kyai Sa’id menjadikan pondok menjadi dua cabang, hal ini dikarenakan jumlah santri yang semakin bertambah banyak. Kyai Utsman mengembangkan pondok di dusun Gedang yang tidak jauh dari pesantren ayah mertuanya yaitu di sebelah timur sungai pondok pesantren, sedangkan kyai Sa’id mengembangkan pesantren di sebelah barat sungai.

Dalam penataan manajemen pendidikanpesantren yang diasuhnya, kyai Ustman lebih berkonsentrasi mengajarkanilmu-ilmu thoriqot atau tasawuf, sedangkan Kyai Sa’id mengajarkan ilmu-ilmusyari’at.

Periode Pengembangan

Periode Pengembangan Pertama

Setelah kyai Utsman dan kyai Sa’id wafat, penerus tampuk pimpinan pesantren adalah kyai Hasbulloh, putra kyai Sa’id. Sedangkan pesantren kyai Utsman tidak ada yang meneruskan karena beliau tidak mempunyai putra laki-laki. Akhirnya sebagian santri kyai Utsman diboyong oleh menantunya yang bernama Kyai Asy’ari (ayah dari KH. Hasyim Asy’ari) ke desa Keras yang nantinya berkembang menjadi pondok pesantren Tebuireng sekarang. Sedangkan sebagian yang lain diboyong ke pesantren sebelah barat sungai dijadikan satu dibawah pimpinan kyai Hasbulloh.

Kyai Hasbulloh adalah seorang yang kaya raya dan dermawan, beliau memiliki tanah pertanian yang sangat luas. Dari hasil pertanian ini beliau banyak memiliki gudang-gudang beras yang menyebar dimana-mana bagaikan tambak. Konon karena hal itu daerah ini disebut dusun Tambakberas dan pondok pesantren beliau dikenal dengan sebutan Pondok Tambakberas.

Di bawah pimpinan kyai Hasbulloh pondok pesantren berkembang sangat pesat, dan guna kelanjutan pondok pesantren yang diasuhnya kyai Hasbulloh banyak mengirimkan putra-putrinya untuk belajar di pesantren, bahkan putra beliau yang tertua Abdul Wahab, dikirim ke Makkah untuk menuntut ilmu.

Periode Pengembangan Kedua (1914)              

Pada tahun 1914 kyai Abdul Wahab Hasbulloh kembali dari tugas belajarnya di tanah suci Makkah. Sejak saat itu kyai Abdul Wahab mulai melakukan pembaharuan pondok pesantren Tambakberas. Beliau merubah sistem pendidikan halaqoh menjadi sistem pendidikan madrasah. Dengan sistem pendidikan madrasah yang dikembangkan, pondok pesantren Tambakberas berkembang semakin pesat, dan pada tahun 1915 kyai Abdul Wahab mendirikan madrasah yang pertama (terletak disebelah barat masjid, sekarang dibangun gedung Yayasan PPBU), madrasah tersebut diberi nama madrasah Mubdil Fan.

Pada tahun 1926 kyai Hasbulloh wafat. Maka pesantren ini dilanjutkan oleh kyai Abdul Wahab, dengan dibantu oleh kedua adiknya yaitu kyai Abdul Hamid dan kyai Abdurrohim yang juga baru kembali dari studinya di tanah suci Makkah. Dalam manajemen pesantrennya, kyai Abdul Hamid lebih berkonsentrasi terhadap pengelolaan pondok, sedangkan kyai Abdurrohim bertanggungjawab mengelola madrasah. Kyai Abdul Wahab lebih banyak berkiprah di kancah organisasi atau lembaga sosial keagamaan.

Lembaga yang didirikan kyai Abdul Wahab di antaranya adalah NAHDLATUL WATHON. Sebuah lembaga pendidikan Islam (madrasah) yang didirikan pada tahun 1916. Selain itu, pada tahun 1918, beliau mendirikan NAHDLATUL TUJJAR (kebangkitan saudagar). Masih pada tahun yang sama (1918), kyai Abdul Wahab merintis forum diskusi keagamaan yang bernama TASYWIRUL AFKAR yang berpusat di Surabaya pada waktu itu.

Pada tahun 1942 kyai Abdul Hamid dan kyai Abdurrohim memanggil keponakannya yang bernama kyai Abdul Fattah menantu kyai Bisri Syansuri Denanyar. Sebagai upaya regenerasi pengelolaan madrasah diserahkan kepada kyai Abdul Fattah.

Pada tahun 1943 kyai Abdurrohim wafat, tugas-tugas beliau diteruskan oleh kyai Abdul Fattah. Dibawah pimpinan kyai Abdul Fattah, Madrasah berkembang sangat pesat, mengingat semakin bertambahnya jumlah santri, kyai Abdul Fattah mendirikan gedung madrasah di dekat rumahnya yang kemudian oleh kyai Abdul Wahab, madrasah tersebut diberi nama Madrasah Ibtida’iyyah Islamiyyah (MII) dan kemudian berganti nama Madrasah Ibtida’iyyah (MI). Disamping itu pada tahun 1951 kyai Abdul Fattah dengan restu kyai Abdul Wahab, mendirikan pondok pesantren putri Al-Fathimiyyah, serta pada tahun 1956 mendirikan Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 4 Tahun.

Pada tanggal 06 Juni 1956 kyai Abdul Hamid wafat, maka pengasuh pondok pesantren Tambakberas dilanjutkan oleh kyai Abdul Fattah, sedangkan urusan madrasah diserahkan sepenuhnya kepada kyai Al-Fatih putra sulung kyai Abdurrohim. Dibawah pimpinan kyai Al-Fatih, madrasah berkembang semakin pesat, hingga pada tahun 1964, Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 4 Tahun ditambah masa studinya menjadi 6 Tahun dan berubah nama menjadi Madrasah Mu’llimin Mu’allimat Atas.

Pada tahun 1965 kyai Abdul Wahab memberi nama pondok pesantren ini dengan nama PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM. Pada tanggal 29 Desember 1971 atau 11 Dzulqo’dah 1391, kyai Abdul Wahab pulang ke rahmatulloh. Pimpinan PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM diteruskan sepenuhnya oleh kyai Abdul Fattah dengan dibantu oleh para dzurriyah Bani Hasbulloh yang lain.

Pada tahun 1968 kyai Abdul Wahab mulai merintis Perguruan Tinggi yang diberi nama Al-Ma’had Al-Aly dengan tanah yang sekarang ditempati MTs BU, MA-WH, dan MAI BU. Belum sampai terwujud menjadi sebuah perguruan, beliau sudah meninggal. Namun cita-cita mulia ini akhirnya dilanjutkan oleh generasi penerus pondok dengan didirikannya perguruan tinggi yang sekarang bernama STAI Bahrul Ulum.

Setelah kyai Abdul Fattah wafat tahun 1977, tampuk pimpinan PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM, dilanjutkan oleh KH. M. Najib Abd. Wahab, L.ML. Beliau memiliki reputasi cemerlang dalam membawa lembaga PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM pada pentas nasional. Selain pernah menjabat sebagai Ro’is Syuriah PWNU, pada tahun 1985 beliau bersama pengasuh yang lain juga menghidupkan Al-Ma’had Al-Aly menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) dengan menunjuk Drs. KH. Moh. Syamsul Huda As, SH.,M.HI sebagai ketua. Dalam kapasitas sebagai ketua Robithotul Ma’ahid (Asosiasi Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama), KH. M. Najib Abd. Wahab. L.ML menyelenggarakan Usbu’ul Ma’ahid (Pekan Pesantren se-JawaTimur).

KH. M. Najib Abd. Wahab. dalam mengelola Pondok putra selain melalui jalur formal pengurus, juga melalui ro’is khos (ketua komplek). Beliau mengamanatkan kepengurusan masjid kepada KH. Moh. Sholeh Abd. Hamid sebagai ketua ta’mirnya. Beliau menyelenggarakan pengajian sentral tiap Senin malam Selasa hingga wafatnya pada tahun 1987.

Seiring dengan perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang semakin pesat dari tahun ke tahun, baik jumlah santri maupun lembaga-lembaga pendidikan formal yang ada di dalamnya, maka untuk memaksimalkan potensi yang sudah ada diperlukan suatu manajemen kepemimpinan pondok pesantren yang konstruktif, jelas, terprogram dan terarah. Berangkat dari ide dasar itulah maka kemudian lahir pemikiran untuk membagi manajemen kepemimpinan pondok pesantren menjadi;

1. Majelis Pengasuh, berfungsi sebagai lembaga yang memiliki otoritas atau pemegang kebijakan tertinggi.

2. Pengurus Yayasan, berfungsi menjalankan semua program pengembangan dan pemberdayaan pendidikan pada lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

3. Dewan Pengawas, berfungsi mengawasi dan memberikan pertimbangan kepada pengurus yayasan dan memberikan masukan kepada Majelis Pengasuh. Dibentuknya dewan pengawas dalam struktur manajemen Pondok Pesantren Bahrul Ulum sejak tahun 2002.

Periode Kepeminpinan Majelis Pengasuh

Hingga saat ini, sejak kepemimpinan kolektif ini diterapkan, sudah mengalami dua periode kepemimpinan Majelis Pengasuh;

1. (Almaghfurlah) KH.M. Sholeh Abdul Hamid, 1987 – 2006

Pada masa kepemimpinan beliau jabatan Ketua Umum Yayasan PPBU telah mengalami beberapa kali pergantian, yaitu KH. Ahmad al-Fatich Abdur Rohim periode 1990–1994), Drs. KH.M. Hasib Abdul Wahab periode 1994–1998, Drs. KH. Fadhlulloh Abd. Malik periode 1998–2002, KH. Taufiqurrohman Fattah periode 2002–2006 dan periode 2006–2009).

Pada saat Ketua Umum Yayasan dijabat oleh KH.Ach. Taufiqurrohman Fattah, dimunculkan peran Dewan Pengawas sebagai konsekuensi diberlakukannya Undang-Undang No 16 tahun 2001 tentang Yayasan, dan sebagai ketuanya adalah Ny.Hj. Mundjidah Wahab, dan ketika periode 2006-2009 Dewan Pengawas terdiri dari KH. Fathulloh Abd. Malik, Drs. H.M. Faruq Zawawi M.Ag. dan Ny. Hj. Salmah Nasir.

Pada periode KH.M. Sholeh Abdul Hamid ini sering disebut sebagai periode transisi dari kepemimpinan tunggal menuju kepemimpinan kolektif. Pada masa KH.M. Sholeh Abdul Hamid pondok pesantren Bahrul Ulum bertambah lembaga pendidikan formalnya seperti MA BU, MAK BU (sekarang MA-WH), dan MTs BU.

2.  (Almaghfurlah) Drs. KH. Amanulloh Abdur Rochim 2007-2008

Ketika KH. Muhammad Sholeh Abd. Hamid wafat pada senin malam selasa tanggal 16 Syawal 1427 atau 7 November 2006 tampuk pimpinan Majelis Pengasuh dipegang oleh alm. KH. Amanulloh AR. Sedangkan Ketua Umum Yayasan masih dijabat oleh KH. Ach. Taufikurrohman Fattah. Beberapa kebijakan penting yang diambil pada saat KH. Amanulloh AR menjadi Ketua Majlis adalah diselenggarakannya Pertemuuan Alumni Bahrul Ulum tingkat Nasional yang akhirnya membentuk suatu ikatan wadah alumni yang berrnama Ikatan Alumni Bahrul Ulum atau yang disingkat dengan nama IKABU.

Selain itu, untuk terus mengharumkan kembali nama Pondok Pesantren Bahrul Ulum di bumi nusantara beliau juga mengadakan Pertemuan Ulama dan Umara se Jawa dan Madura. Satu program besar lain yang digagas oleh beliau adalah pembangunan Gedung Serba Guna yang direncanakan berfungsi sebagai balai pertemuan maupun sarana olah raga santri santri Bahrul Ulum. Namun sebelum sempat pembangunan itu terealisir, beliau sudah sudah dipanggil oleh Allah pada 13 November 2007 pada usia 65 tahun, satu tahun persis setelah meninggalnya KH.M. Sholeh Abd. Hamid. Semenjak KH. Amanulloh wafat, jabatan Ketua Majelis Pengasuh – sesuai dengan kebijakan yang diambil semua anggota Majelis Pengasuh – dikosongkan untuk sementara waktu sampai berakhirnya kepengurusan tahun 2009 nanti.

Sementara untuk menjalankan roda organisasi di Majelis Pengasuh – sesuai dengan mekanisme dan job yang telah ditetapkan – maka untuk pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan lembaga pondok pesantren dipegang oleh KH.Abd. Nashir Abd. Fattah, sedangkan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan formal dan hubungan dengan lembaga di luar PPBU dipegang oleh Drs.KH.M. Hasib Wahab, dan sebagai Katibnya adalah KH. M. Irfan Sholeh.

3. KH. Moh. Hasib Wahab (2009 – Sekarang).

Semenjak wafatnya KH. Amanulloh jabatan Majelis Pengasuh dikosongkan hingga berakhirnya masa bhakti kepengurusan Yayasan. Pada tanggal 01 – 02 November 2009 melalui forum Musyawarah Besar Bani KH. Hasbulloh Sa’id di Taman Wisata Selorejo Ngantang Malang, diputuskan untuk mengangkat KH. Moh. Hasib Wahab (Putra KH. Abdul Wahab Chasbulloh) sebagai Ketua Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum dan KH. Moh. Irfan Sholeh, S.Pd. (Putra KH. Moh. Sholeh Abd. Hamid) sebagai Ketua Umum Yayasan dan Ir. H. Edi Labib Patriadin sebagai sekretaris umum. Sedang dewan pengawas adalah KH. Roqib Wahab, Dr. H. Ainur Rofiq Al-Amin, M.Ag, dan Nyai. Hj. Salma Nashir.

Tahun 2013

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, sampai dengan tahun 2013 ini sudah berusia 187 tahun, sedangkan Madrasahnya berusia 97 tahun. Di usianya yang jauh melebihi kemerdekaan bangsa ini Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang telah berkembang pesat dan memiliki beragam jenis dan jenjang pendidikan.

Hingga saat ini Pondok Pesantren Bahrul Ulum memiliki 35 unit asrama pondok pesantren (putra-putri) dan 18 unit pendidikan formal mulai dari PRA SEKOLAH sampai dengan PERGURUAN TINGGI.

Sumber: tambakberas.or.id

Sejarah Singkat Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur : Desa Lirboyo Dan Pondok Lirboyo

created by Minas Sa’adah

Kediri mendapat julukan “kota santri”, karena saking banyaknya pondok pesantren yang ada di daerah ini. Salah satu pondok pesantren yang terkenal dan terbesar adalah Pondok Pesantren Lirboyo. Lirboyo adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Mojoroto Kotamadya Kediri Jawa Timur. Di desa inilah telah berdiri hunian atau pondokan para santri yang dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Lirboyo.  Berdiri pada tahun 1910 M. Diprakarsai oleh Kyai Sholeh, seorang yang Alim dari desa Banjarmelati dan dirintis oleh salah satu menantunya yang bernama KH. Abdul  Karim, seorang yang Alim berasal dari Magelang Jawa Tengah. Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo erat sekali hubungannya dengan awal mula KH.Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo sekitar tahun 1910 M. setelah kelahiran putri pertama beliau yang bernama Hannah dari perkawinannya dengan Nyai Khodijah (Dlomroh), putri Kyai Sholeh Banjarmelati. Perpindahan KH. Abdul Karim ke desa Lirboyo dilatarbelakangi atas dorongan dari mertuanya sendiri yang pada waktu itu menjadi seorang da’i, karena Kyai Sholeh berharap dengan menetapnya KH. Abdul Karim di Lirboyo agama Islam lebih syi’ar dimana-mana. Disamping itu, juga atas permohonan kepala desa Lirboyo kepada Kyai Sholeh untuk berkenan menempatkan  alahsatu menantunya (Kyai Abdul Karim)  di desa Lirboyo. Dengan hal ini diharapkan Lirboyo yang semula angker dan rawan kejahatan menjadi sebuah desa yang aman dan tentram. Betul juga, harapan kepala desa menjadi kenyataan. Konon ketika pertama kali kyai Abdul Karim menetap di Lirboyo, tanah tersebut diadzani, saat itu juga semalaman penduduk Lirboyo tidak bisa tidur karena perpindahan makhluk halus yang lari tunggang langgang  Tiga puluh lima hari setelah menempati tanah tersebut, beliau mendirikan surau mungil nan sederhana. 

Santri Perdana dan Pondok Lama

Adalah seorang bocah yang bernama Umar asal Madiun, ialah santri pertama yang menimba ilmu dari KH. Abdul Karim di Pondok Pesantren Lirboyo. Kedatangannya disambut baik oleh KH. Abdul Karim, karena kedatangan musafir itu untuk tholabul ilmi , menimba pengetahuan agama. Selama nyantri, Umar sangat ulet dan telaten. Ia benar-benar taat pada Kyai.Demikian jalan yang ditempuh Umar selama di Lirboyo. Selang beberapa waktu ada tiga santri menyusul jejak Umar. Mereka berasal dari Magelang, daerah asal KH. Abdul Karim. Masing-masing bernama Yusuf, Shomad Dan Sahil. Tidak lama kemudian datanglah dua orang santri bernam Syamsuddin dan Maulana, keduanya berasal dari Gurah Kediri. Seperti santri sebelumnya, kedatangan kedua santri ini bermaksud untuk mendalami ilmu agama dari KH. Abdul Karim. Akan tetapi baru dua hari saja mereka berdua menetap di Lirboyo, semua barang-barangnya ludes di sambar pencuri. Memang pada saat itu situasi Lirboyo belum sepenuhnya aman,  di Lirboyo masih ada sisa-sisa perbuatan tangan-tangan kotor. Akhirnya mereka berdua mengurungkan niatnya untuk mencari ilmu. Mereka pulang ke kampung halamannya.

 Tahun demi tahun, PondokPesantren Lirboyo semakin dikenal oleh masyarakat luas dan semakin banyaklahsantri yang berdatangan mengikuti santri-santri sebelumnya untuk bertholabulilmi , maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti yangdialami oleh Syamsuddin dan Maulana, dibentuklah satuan keamanan yang bertugasronda keliling disekitar pondok.

 PERAN PODOK PESANTRENLIRBOYO DALAM MEREBUT KEMERDEKAAN DAN MEMPERTAHANKANNYA

Pondok Pesantren Lirboyo, sejak zaman kolonial Belanda merupakan salah satu diantara sekian banyak pesantren yang ikut berjuang mengusir penjajah dari bumi nusantara tercinta. Hal ini dapat dibuktikan pada waktu tentara Jepang datang ke Indonesia untuk menjajah dengan dalih demi kemakmuran Asia Timur Raya. Ketika mereka mengundang para Ulama le Jakarta, maka KH. Abdul Karim selaku pengasuh Pondok Pesantren berkenan hadir bersama KH. Ma’ruf Kedunglo dan KH. Abu Bakar Bandar Kidul dengan dikawal oleh Agus Abdul Madjid Ma’ruf. Ketika Jepang mengadakan latihan di Cibasura Bogor, Residen Kediri, R. Abd. Rahim Pratalikrama memohon kesediaannya KH. Mahrus Ali untuk berangkat sebagai utusan daerah Kediri. Berhubung beliu berlangan untuk hadir, maka diutuslah beberapa santri, antara Thohir Wijaya Blitar, Agus Masrur Lasem, Mahfudz Yogyakarta dan Ridlwan Anwar Kediri.Usai menghadiri pertemuan di Bogor, segala hal dan ihwal yang mereka ketahui di sana, segera disampaikan pada seluruh santri Lirboyo. Semua itu adalah merupakan satu usaha mngambil manfaat dalam rangka kerjasama dengan pemerintah Jepang. Akan tetapi dibalik itu ada maksud lain, yaitu sebagai persiapan Indonesia merdeka. Para utusan yang telah mendapat ilmu tentang kemiliteran, segera mengadakan latihan baris berbaris di Pondok Pesantren Lirboyo. Waktu itu sekitar tahun 1943-1944 M., yang mana di Kediri sudah dibentuk barisan Hizbullah dengan kepemimpinan KH. Zainal Arifin di tingkat pusatnya.

Pada masa itu adalah merupakan masa-masa penuh harapan  rakyat Indonesia untuk terlepas dari cengkraman penjajah dari kepemerintahan negara yang dikenal dengan negeri Sakura itu. Rakyat sudah muak dengan segala tindakan penjajah. Mereka sangat rindu damai dalam merdeka. Betul juga, beberapa hari sesudah Hirosima dan Nagasaki yang merupakan dua kota besar di Jepang kejatuhan bom tentara sekutu, Jepang pun menyerah tanpa syarat. Akhirnya Indonesia yang sudah lama menunggu kesempatan amas dan hari-hari bersejarah itu segera memproklamirkan kemerdekaannya, tepat pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945, kebahagiaan bangsa Indonesia termasuk santri Lirboyo tidak dapat terlukiskan lagi.

Pelucutan Senjata Kompitai Dai Nippon 

Adalah Mayor Peta H. Mahfudz yang mula-mula menyampaikan berita gembira tentang kemerdekaan Indonesia  itu kepada KH. Mahrus Ali, lalu diumumkan kepada seluruh santri dalam pertemuan diserambi masjid. Dalam pertemuan itu pula, para santri diajak melucuti senjata Kompitai Dai Nippon yang bermarkas di Kediri (markas itu kini dikenal dengan dengan Markas Brigif 16 Brawijaya Kodam Brawijaya) . Tepat pada jam 22.00 berangkatlah santri Lirboyo sebanyak 440 menuju ke tempat sasaran dibawah komando KH. Mahrus Ali, Mayor Mahfudz dan R. Abd. Rahim Pratalikromo. Sebelum penyerbuan dimulai, santri yang bernama Syafi’I Sulaiman yang pada waktu itu berusia 15 tahun  menyusup ke dalam markas Dai Nippon yang dijaga ketat. Maksud tindakan itu adalah untuk mempelajari dan menaksir kekuatan lawan. Setelah penyelidikan dirasa sudah cukup, Syafi’i segera melapor kepada KH. Mahrus Ali dan Mayor Mahfudz. Saat-saat menegangkan itu berjalan hingga pukul 01.00 dini hari dan berakhir ketika Mayor Mahfudz menerima kunci gudang senjata dari komandan Jepang yang sebelumnya telah diadakan diplomasi panjang  lebar. Dalam penyerbuan itu , kendati harus harus mengalami beberapa insiden dan bentrokan fisik, pada akhirnya penyerbuan itu sukses dengan gemilang. Walaupun kemerdekaan masih sangat “muda” namun Indonesia sudah berhak mengatur negaranya sendiri. Tidak dibenarkan jika ada fihak luar yang turut campur. Akan tetapi tidak bagi Indonesia pada waktu itu. Baru saja Indonesia merasakan nikmatnya kemerdekaan, tiba-tiba ada sekutu yang di”bonceng” Belanda yang mengatasnamakan NICA, pada tanggal 16 September 1945 mendarat di Tanjung Priuk untuk menjajah kembali. Kemudian disusul tanggal 29 September 1945dengan pasukan dan peralatan perang yang lebih komplit. Karuan saja, kedatangan mereka disambut dengan pekik “merdeka atau mati”. Begitulah semboyan bangsa Indonesia. Termasuk para ulama yang waktu itu tergabung dalam dalam perhimpunan Nahdlatul Ulama (dulu HB NU), pada tanggal 21-22 Oktober 1945 memanggil para ulama NU yang ada di Jawa dan Madura  untuk mengadakan pertemuan di kantor PB NU jalan Bubutan Surabaya. 

Tujuan pertemuan itu adalah membahas ulah Belanda yang hendak merampas kembali kemerdekaan Indonesia.Sebagai tokoh NU, KH. Mahrus Ali turut hadir dalam pertemuan itu. Dalam pertemuan itu para ulama mengeluarkan resolusi Perang Sabil. Perang melawan Belanda dan kaki tangannya hukumnya adalah wajib ain. Rupanya keputusan inilah yang menjadi motifasi para ulama dan santrinya untuk memanggul senjata ke medan laga, termasuk pesantren Lirboyo. Tidak lama setelah itu, tepatnya pada tanggal 25 Oktober 1945, tentara sekutu yang dipimpin AWS Mallaby mendarat di Tanjung Perak Surabaya. Tindakan mereka semakin brutal,, pada tanggal 28 Oktober mereka mulai mengadakan gangguan-gangguan stabilitas, mereka merampas mobil, mencegat pemuda-pemuda Surabaya , merebut gedung yang sudah dikuasai Indonesia. Yang lebih menyakitkan, mereka menurunkan sang Merah Putih yang berkibar diatas hotel Yamato, dan digantinya dengan Merah Putih Biru. Pemuda Surabaya marah, terjadilah pertempuran selama tiga hari, 28,29,30 Oktober 1945, hingga terbunuhlah AWS Mallaby, Jendral andalan Inggris yang masih berusia 45 tahun.

 Dalam situasi demikian itu, Mayor Mahfudz datang ke Lirboyo menghadap KH. Mahrus Ali untuk memberikan kabar bahwa Surabaya geger. Seketika KH Mahrus Ali mengatakan bahwa kemerdekaan harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan. Kemudian KH. Mahrus Ali mengintruksikan kepada santri untuk berangkat perang ke Surabaya. Hal ini disampaikan lewat Agus Suyuthi. Maka dipilihlah santri-santri yang tangguh untuk dikirim ke Surabaya. Dengan mengendarai truk , para santri dibawah komando KH. Mahrus Ali berangkat ke Surabaya. Meskipun hanya bersenjatakan bambu runcing, mereka bersemangat berjihat menghadapi musuh.  Santri yang dikirim waktu itu berjumlah sebanyak 97 santri.

MASUKNYA ISLAM DI KAPUPATEN TRENGGALEK

created by M Jalaludin Fajar Permadi

pada masa Mataraam dulu pernah ada seorang yang bertugas mengatur daerah di daerah timur Ponorogo yang di identifikasikan sebagai Kabupaten Trenggalek sekarang. Petugas tersebut adalah Ki Ageng Galek yang di mungkinkan adalah seorang yang berkuasa di wilayah tersebut. Dalam cerita juga disebutkan bahwa Ki Ageng yang makanya ada di Setono-Trenggalek adalah penyiar agama di Trenggalek yang tertua dengan adanya bukti peninggalan. Ki Ageng dimungkinkan adalah seorang penyiar agama islam karena dirinya di bantu oleh 6 santri. Tetapi dalam sumber lain 6 santri ini merupakan anak dan bahkan adalah kerabat dari Ki Ageng. Keenam santrinya tersebut adalah Ki Joyonagoro di Jonegaran, Ki Sosuto di Sosutan, Ki Dobongso do Dobangsan, Ki Ardimanggala di Redimenggalan, Ki Surohandoko di Surondakan, dan Ki Singomanggala di Singomenggalan.

Setelah beberapa waktu, datang lagi penyiar agama yang masih muda dan perjaka bernama Minak Sraba yang mendirikan padepokan di daerah Bagong. Bersamaan dengan berdirinya Minak Sraba, Ki Ageng Galek mendapat amanah untuk mengasuh seorang putri dari Majapahit yang bernama Putri Amisayu. Dinamakan demikian karena putri tersebut meskipun parasnya cantik namun dia memiliki penyakit kulit yang sukar disembuhkan. Luka tersebut memiliki bau yang busuk. Ki Ageng Galek berusaha untuk menyembuhkan Putri Amisayu dengan berbagai pengetahuan dan obat-obatan yang ia miliki. Namun semua usaha itupun tidak memberi hasil yang signifikan. Putri Amisayu yang mengetahui hal tersebut merasa putus asa sehingga dia membuat sayembara. Bagi laki-laki yang bisa menyembuhkannya maka akan dijadikan suami dan jika yang dapat menyembuhkannya adalah perempuan maka dia akan di jadikan saudara.

Mendengar sayembara tersebut, Minak Sraba berniat menyembuhkannya. Usaha Minak Sraba tersebut ternyata berhasil, dan sesuai janjinya maka Putri Amisayu mau menjadi istri dari Minak Sraba. Sampai mereka menikah dan mempunyai anak, Putri Amisayu tidak mengetahui bahwa suaminya adalah seorang muslim. Baru setelah suatu ketika pada petang hari Putri Amisayu baru mengetahui bahwa suaminya adalah seorang muslim. Putri yang mengetahui hal tersebut merasa kaget karena waktu itu masyarakat sekitar menganut agama Hindu. Akhirnya Minak Sraba meninggalkan Putri Amisayu karena sang istri belum siap hidup bersama seorang muslim dan berpesan jika anak mereka nanti lahir dengan jenis kelamin laki-laki maka anak tersebut bernama Minak Sopal.

Setelah Minak Sopal tumbuh dewasa, dia muali bertanya kepada ibunya mengenai siapa sebenarnya ayahnya. Akhirnya Putri Amisayu menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada anaknya tersebut. Mendengar cerita dari ibunya, Minak Sopal bergegas mencari ayahnya ke tempat yang telah disebutkan ibunya. Sesampainya di padepokan yang dimaksud, Minak Sopal langsung diajarkan mengenai syariat islam oleh ayahnya. Pendidikan agama islam yang diajarkan oleh ayahnya dalam waktu yang cukup lama membuat anaknya menjadi seorang yang sangat religious dan mengharapkan bahwa masyarakat sekitar juga menjadi muslim. Untuk itu ia mencari cara agar masyarakat tergerak untuk memeluk islam. Karena masyarakat waktu itu bekerja sebagai petani dan area sawahnya sering dilanda banjir, Minak Sopal bermaksud mendirikan sebuah bendungan atau dam untuk membantu warga. Usaha demi usaha Minak Sopal gagal. Karena itu ia meminta saran kepada ayahnya untuk membantu membuat bendungan tersebut.

Ayahnya menyuruh Minak Sopal untuk mencari bantuan kepada Mbok Rondo Krandon. Minak Sopal akhirnya mengirim utusan ke Mbok Rondo Krandon. Mbok Rondo tidak keberatan membantu Minak Sopal dan akhirnya mengirimkan salah satu bawahannya untuk membantu proses pembuatan bendungan. Singkat cerita setelah bantuan tersebut akhirnya bendungan yang di idam-idamkan warga akhirnya dapat terselesaikan. Sawah yang biasanya mengalami gagal panen karena selalu terendam banjir sekarang telah terbebas dari banjir dan hasil panen panen dapat dihasilkan secara maksimal. Karena itu sedikit demi sedikit masyarakat sekitar bersedia memluk islam dan meninggalkan kehidupan Hindu. Usahanya sebagai penyiar islam ternyata berhasil dan secara angka islam telah mengakar dan menjadi kepercayaan seluruh masyarakat Trenggalek. Terbukti dari sejak adanya Minak Sopal sampai sekarang sudah tidak ada lagi perkembangan kuil ataupun kuil di wilayah Trenggalek. Malah yang mengalami perkembangan adalah banyaknya bangunan masjid atau mushola di wilayah Trenggalek.

Untuk mengingat jasa dari Minak Sopal tersebut, di dam yang dulunya di bangun oleh Minak Sopal yang sekarang dikenal Dam Bagongan selalu diadakan Tradisi Nyadran tiap tahunnya. Meskipun namanya Nyadran, namun upacara ini berbeda dengan upacara Nyadran pada umumnya. Nyadran di Ngantru ini jelas tujuannya yaitu untuk memperingati keberhasilan Minak Sopal membangun dam untuk membantu masyarakat sekitar. Upacara ini dilakukan setiap tahun pada Jum’at kliwon di bulan Selo pada kalender Jawa. Dimungkinkan hari tersebut adalah selesainya dam tersebut di bangun. Ini menjadi bukti bahwa penyebaran islam di daerah Trenggalek melalui jalan yang damai dan dari usaha yang dilakukan oleh Minak Sopal nantinya menghasilkan kebudayaan yang menjadi icon dari Kabupaten Trenggalek.

Masjid Peninggalan Kanjeng Jimat dari Nganjuk

created by Mohammad Agus Harianto

Masjid yang bertempat di Kecamatan Berbek, Masjid yang juga dikenal sebagai Masjid Yoni Al-Mubarok ini sebagai masjid pertama di Nganjuk. Jika ditelusuri sejarahnya, asal mula Nganjuk berasal dari Kecamatan Berbek saat ini. Dahulu, daerah beradanya Masjid Al-Mubarok ini dinamai sebagai Kabupaten Kuto Toyo Merah. Saat itu masih kental unsur animismenya. Bahkan masih terdapat yoni, salah satu benda yang dikeramat.

Masjid Al-Mubarok yang berdiri pada tahun 1754. Seperti yang tertulis di prasasti Sosrokusumo 1 yang terpasang di tembok masjid bagian barat. adapun dilihat dari luar Masjid Al-Mubarok ini memiliki tiga bagian utama. Dari gerbang, sudah ditambahi bagian sebagai perluasan masjid berlantai keramik. dibangun dengan gaya modern saat ini, sehingga dari luar tidak terlihat seperti bangunan kuno dan bersejarah. Namun di sana terdapat bekas yoni, yang dijadikan sebagai jam matahari dengan ditanam besi di atasnya.

Barulah, jika masuk lebih dalam lagi terdapat bagian teras masjid yang berubin hitam. Terakhir, masjid utama yang sebagian besar masih asli interiornya sejak dibangun. Terlihat sekali konsep interior Jawa Kunonya. Namun tidak melepaskan unsur keislamannya. Dimulai dari mimbar, tempat khotib berkhutbah. Dengan berbahan kayu jati, mimbar itu tidak menggunakan paku, hanya berupa bagian-bagian yang dipasang-pasang. Ukirannya menampilkan corak bunga-bunga. Didominasi warna emas dan merah. Tak ketinggalan pula di atasnya terdapat sebuah aksesoris terbuat dari kuningan,  yang menghiasai tungkup dari mimbar.

Adapun tiangnya sendiri berdiri sendiri dan tidak menumpang ke tembok. Berjumlah sekitar 22 tiang bulat bercat merah tua dari bonggol  kayu jati. Empat darinya yang paling besar berada di tengah.  Di puncak tiang itu juga terdapat motif ukiran-ukiran. Berbeda dengan ukiran Hindu, lanjutnya, kebanyakan kalau Hindu lebih sering menampilkan ukiran berbentuk manusia

Tidak hanya itu,  masih utuh juga kentongan beserta bedug yang dianggap mistis oleh warga sekitar. Karena pernah suatu ketika, bupati Nganjuk ke-5 menyuruh untuk memindahkan bedug beserta mimbar ke Masjid Agung Nganjuk. Baru dipindahkan, kedua benda itu telah kembali lagi ke Masjid Al-Mubarok. ditambah lagi, terdapat ungkal kuno. Dahulu ada seorang pengikut Kanjeng Jimat yang terpaksa harus kembali ke daerah asalnya di Jawa Tengah untuk mengasah gaman (senjata). Kanjeng Jimat lalu menegurnya agar tidak perlu pulang. Sebab sudah ada di selatan masjid. Pengikut itu takjub, padahal sebelumnya tidak ada ungkal di sana. Akhirnya, ungkal itu dikenal sebagai “ungkal ajaib”.

Tidak hanya masjidnya saja yang menarik perhatian. Di belakang kompleks masjid terdapat pemakaman. Salah satunya pemakaman Kanjeng Jimat. Setiap malam Jumat, khususnya Jumat Legi dan Kliwon, selalu ramai didatangi. Umumnya mereka ingin meminta barokah

Penyebaran Islam di Kabupaten Tulungagung

created by Kurnia Lailatul Mabruroh      

PenyebaranIslam di Kabupaten Tulungagung

Kabupaten Tulungagung adalah salah satuKabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Tulungagung terkenalsebagai salah satu daerah penghasil marmer terbesar di Indonesia, dan terletak154 km barat daya Kota. Meneliti dan mengamati beberapa situs benda cagarbudaya Islam, dapat digunakan untuk melacak proses islamisasi di suatu daerah.Berdasarkan data-data yang ada tersebut nantinya dapat digunakan untukmenelusuri dan menganalisa kapan dan bagaimana proses islamisasi di suatudaerah. Melacak masuknya ajaran agama Islam, merupakan suatu pekerjaan yangmembutuhkan keuletan, ketelitian, dan waktu yangcukup lama. Sebagaimana untukmengetahui proses masuknya agama islam ke wilayah Kadipaten Ngrowo ini, yangsekarang menjadi Kabupaten Tulungagung. Yang menjadi bukti dan referensi telahmenjadi proses islamisasi di Kabupaten ini. Sebagaimana adanya Masjid TibanSunan Kuning yang terletak di desa Macanbang Kecamatan Gondang, Masjid AlMimbar di Desa Majan Kecamatan Kedungwaru, Masjid Tawangsari di Desa TawangsariKecamatan Kedungwaru, dan Masjid Agung Al Munawwar. Berikut ini merupakan buktipeninggalan terkait penyebaran ajaran Islam di Kabupaten Tulungagung:

  1. Masjid Al Mimbar

Masjid Al Mimbar ini terletak di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru merupakan masjid tertua di daerah Kabupaten Tulungagung. Masjid ini merupakan peninggalan dari K.H. Hasan Mimbar, salah satu ulama besar di masa Kerajaan Mataram. Sampai saat ini Masjid Al Mimbar masih berdiri kokoh. Berbagai aktivitas keagamaan diadakan di masjid ini. Bagaimana peranan Masjid Al Mimbar terhadap perkembangan Islam di Kabupaten Tulungagung? Masjid Al Mimbar berada di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah tentang perkembangan Islam di Kabupaten Tulungagung. K.H. Hasan Mimbar yang masih keturunan mataram adalah pendiri Majid ini. Menurut K.H. R.Moh Yasin mantan kepala desa Majan, setelah KH. Abu Mansur pergi haji beliau menyerahkan daerah utara Tawangsari untuk ditempati KH. Hasan Mimbar kemudian dinamakan desa Majan.

        Pada tahun 1727 atas nama Sunan, Bupati Ngabai Mangundirojo memberi kuasa kepada saudaranya KH. Hasan Mimbar untuk melaksanakan hukum nikah dan sebagainya, kepada orang yang membutuhkannya sampai tahun 1979.  Menurutnya semua tanah yang ada di Majan merupakan tanah perdikan, namun sekarang tidak lagi. Pada tahun 1979 Desa Majan, Winong dan Tawangsari tidak lagi daerah perdikan. Pada saat itu yang menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur adalah Soenandar Prayosoedarmo dan Bupati Tulungagung Singgih.

Mengenai Masjid Al Mimbar sejak dulu dijadikanpusat kegiatan dan pengembangan agama Islam. Beberapa peninggalan yang masihtersisa sampai saat ini diantaranya Mimbar Khutbah, Beduk, dan Menara. Namunsudah sering kali masjid ini mengalami renovasi.

2. MasjidTawangsari

Masjid Tawangsari yang terletak di Desa Tawangsari Kecamatan Kedungwaru ini dikenal oleh masyarakat Tulungagung dan sekitarnya. Masjid ini merupakan peninggalan Kyai Abu Mansur dari Mataram, yang merupakan ulama besar pada zamannya. Bagaimana peranan Masjid Tawangsari terhadap perkembangan Islam di Kabupaten Tulungagung? Masjid Tawangsari sampai pada masa sekarang masih berdiri kokoh dan terawat.

Menurut KH. Drs. R. Qomaruzaman, penerus Masjid Tawangsari, keberadaan Masjid Tawangsari ini baik sejak zaman Abu Mansur I hingga sekarang mempunyai peranan penting dalam mendalami dan mengembangkan ajaran Islam. Pendalaman ajaran Islam ini tidak sekedar acara-acara ritual, tetapi juga meliputi berbagai aktivitas ibadah, sholat, ngaji dan acara ritual dan bahkan perayaan Hari besar Islam juga seringkali diselenggarakan di dalam dan di sekitar Masjid Tawangsari.

Qomaruzaman menjelaskan salah satu acara masjid yang hingga sekarang ini masih dilestarikan oleh keturunan Abu Mansur adalah tadarusan yang dilakukan pada Jum’at pagi maupun saat bulan Ramadhan. Disekitar masjid terdapat madrasah-madrasah dan Pondok Pesantren. Sekolah di madrasah masuk siang hari setelah bergantian dengan Sekolah Umum. Sedangkan santri yang mengaji masuk sore hari.

SementaraTokoh Supranatural Abah Edi Purnomo ketika ditemui di rumahnya dusun PelemRT.01 RW.05 Desa Serut Kecamatan Boyolangu Tulungagung menjelaskan bahwa namakecil Kyai Abu Mansur adalah Qosim. Menurutnya, setelah selesai mondok, Qosimkemudian diambil menantu oleh Kyai Ageng Basyariah dan dinikahkan denganputerinya yang bernama Fatimah atau lebih dikenal dengan Lidah Hitam (NyaiTawangsari). Dari perkawinannya ini kemudian Qosim bertempat tinggal diTawangsari dan bergelar Abu Mansur.

3. MasjidAgung Al Munawwar

Masjidini terletak di pusat Kota Tulungagung yang saat ini sudah berganti style. Masjidini menyimpan kenangan yang indah dalam perjalanannya hingga sekarang ini. Kitabisa menyebutnya dengan sebutan masjid tiga zaman. Sebab Masjid Agung AlMunawwar Tulungagung ini mengalami transisi perubahan bangunan selama tiga kaliperiode; Perioede Ngrowo (masjid awal), Periode Transisi dan Periode Modern.MenurutBapak Kyai Ali Mustakim sesepuh Kelurahan Kauman yang dipaparkan oleh Bapak KH.Abu Sofyan Sirojudin,selaku ketua ta’mir Masjid Agung Al Munawwar Tulungagungperiode 2007-20012, mengatakan bahwasannya keberadaan tanah yang diatasnyadibangun sebuah Masjid AgungAl Munawwar Tulungagung dulunya merupakan tanahwakaf dari Mbah Ichsan Puro. Dan untuk pertama kalinya Masjid ini dibangun padatahun sekitar 1262 H/1841 M, angka tersebut dapat dilihat pada hiasanukir-ukiran imaman yang berada di Masjid Agung Al Munawwar Tulungagung tepatnyapada bagian atas.

4. MasjidTiban Sunan Kuning

Masjid  yang terdapat makam di sebelahnya (makam Sunan Kuning) berada di tengah-tengah pemukiman penduduk, dikelilingi oleh pagar batu bata setinggi 1,5 meter, panjang 55 meter dan lebar 45 meter. Di sebelah barat dan selatan Masjid Sunan Kuning terdapat pemakaman umum. Diantaranya makam Sunan Kuning yang mempunyai nama asli Zaenal Abidin, dan dikelilingi oleh makam sahabat-sahabatnya.

Disebelah masjid ini terdapat bangunan berbentuk bangunan joglo untuk makam Sunan Kuning yang juga baru saja dibangun oleh masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadapnya melalui dana swadaya. Sedangkan kijingan dan batu nisannya diganti dengan batu marmer.

Menurut cerita panitia, batu marmernya didatangkan dari Campurdarat. Sedangkan masjidnya sekarang sudah dipugar/ direnovasi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tulungagung dengan kucuran dana 100 juta rupiah dari anggaran pembangunan tahun 2004. Karena termakan usia, kondisi masjid ini sudah rusak berat. Sebelum dilakukan pemugaran masjid, Sunan Kuning sempat terjadi perbedaan pendapat dengan antara kelompok yang masih mempertahankan keaslian masjid dengan kelompok yang menginginkan pembaharuan masjid.

Di dalam buku “Sejarah dan Babat Tulungagung”, tahun 1971 ta’mir masjid Sunan Kuning menyatakan bahwa masjid Sunan Kuning ditemukan oleh menantu Kyai Ageng Muhammad Besari Tegalsari, Jetis, Ponorogo ketika menjalankan misinya menyebarkan Agama Islam. Kyai Ageng Muhamad Besari adalah ulama Ponorogo yang mendapat hadiah tanah perdikan mutihan (perdikan kaum santri) dari Sunan Pakubuwono II karena jasanya membantu Sunan Pakubuwono II ketika melarikan diri dari keraton Surakarta akibat geger pecinan (pemberontakan orang-orang China) tahun 1743. Sunan Pakubuwono II memerintah Keraton Surakarta tahun 1727-1749.

Sebagai bukti penhargaan dan penghormatan masyarakat Macanbang terhadap tokoh Sunan Kuning dibentuklah ta’mir masjid dan juru kunci makam untuk mengelola makam dan masjid serta untuk melestarikan kesejahteraannya.

Diatas merupakan beberapa peninggalan-peninggalan atau masjid tertua pada masa islam baru disebarkan di daerah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Demikian penulisan dari kami mengenai penyebaran Islam beserta masjid sebagai bukti masuknya Islam di Tulungagung kami tuliskan. Semoga dapat dijadikan sebagai sumber informasi dan pengetahuan mengenai sejarah-sejarah penyebaran Islam di Kabupaten Tulungagung.

Desa Majan

created by Iva Nur Rosidah

Sekitar abad ke 16-17 M, menurut catatan sejarah Kabupaten Tulung Agung bernama Kadipaten Ngrowo (Bonorowo), dimana dalam hal agama penduduknya sudah banyak yang memeluk agama Islam. Sayangnya ke-Islam-an mereka masih bercampur dengan tradisi Hindu, terutama tampak dalam hal adat-istiadat yang dilaksanakan sehari-hari. Misalnya tradisi kenduri, sesajen, penghormatan terhadap arwah, pernikahan dan upacara-upacara adat lainnya. Hal tersebut menjadikan sulit memisahkan asal tradisi, antara ajaran Islam dengan Hindu. Oleh karena itu, para ulama dalam menyebarkan Islam membutuhkan waktu yang cukup lama dan kesabaran, keuletan serta kreatifitas dalam menciptakan tradisi baru sebagai pengganti tradisi lama.

Dalam kondisi masyarakat seperti itu, muncul seorang tokoh bernama Khasan Mimbar yang mendapat tugas dari Adipati Ngrowo I (Bonorowo), Kyai Ngabehi Mangundirono, untuk menegakkan syari’at Islam di Kadipaten Ngrowo. Beliau ditunjuk sebagai penghulu (Amiruddin) yang mempunyai wewenang mengurusi masalah pernikahan oleh Sunan Surakarta, yaitu Pakubuwono II. Tugas tersebut dibuktikan dengan Surat Layang Kekancingan tertanggal Ahad 16 16 Rabi’ul Akhir Tahun 1652 Jw, atau jika dikonversi ke tahun Masehi menjadi 16 Rabiul Akhir 1727 Masehi.

Setelah Khasan Mimbar wafat, kepemimpinan Desa Majan dilanjutkan oleh keturunanya (khususnya para putranya) secara turun-temurun sampai tahun 1979. Setelah Indonesia merdeka, status desa ini masih sebagai salah satu desa perdikan, dengan sebuah ciri khas hak Kepala Desa yang sekaligus menjabat sebagai seorang Kyai. Menariknya salah satu tugas kyai adalah menikahkan warganya atau warga daerah lain yang memerlukan, tradisi ini berjalan sampai tahun 1979.

Pada awalnya, hukum pernikahan yang berlaku di Desa Majan memakai hukum adat kawin Majan, sampai adanya Surat Keputusan (SK) Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Tulungagung atas nama Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur dengan nomor KH. II/ 15/ SK/ 1979, tanggal 2 Mei 1979. Selanjutnya, setelah tahun 1979 desa Majan mengalami perubahan status dari desa perdikan berubah menjadi desa biasa. Perubahan status desa tersebut, menjadikan administrasi pemerintahan juga mengalami perubahan, salah satunya terhadap tradisi pernikahan penduduk Majan. Hal ini menimbulkan berbagai dampak sosial bagi penduduk Majan dan sekitarnya.

Salah satu dampak yang muncul, setelah perubahan status menjadi desa biasa adalah kesadaran masyarakat Desa Majan sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam pernikahan, masyarakat tidak hanya melaksanakan pernikahan kepada Kyai, akan tetapi pelaksanaan pernikahan dilanjutkan ke KUA untuk mendapatkan kartu nikah. Disini peneliti memberi analisis bahwa perubahan status desa tidak menimbulkan pergolakan atau nampak negatif, tetapi kepada perubahan positif bagi kesadaran masyarakat, khususnya dalam hal kepatuhan pada Negara dan agama.

Dalam hal Tradisi Kawin Majan, dari hasil obeservasi dan analisis peneliti terdapat beberapa masalah yang berkaitan erat dengan sejarah Desa Majan dari Desa Perdikan menjadi desa biasa. Respon masyarakat terhadap penghulu misalnya, seorang Kyai sekaligus sebagai penghulu merupakan orang yang mempunyai ilmu agama Islam yang mendalam, sehingga masyarakat sangat menghormati dan memuliakannya. Masyarakat mempunyai keyakinan, bahwa dengan jalan seperti itu mereka bisa mendapatkan keberkahan dari Allah SWT .

Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti menganggap perlu untuk mengetahui dan meneliti lebih lanjut tradisi Kawin Majan yang berada di Kecamatan Kedungwaru Tulungagung, khususnya sebelum ada perubahan status majan sebagai desa perdikan (merdeka) menjadi desa biasa. Oleh karena itu penelitian ini bermaksud untuk mengungkap sejarah Tradisi Kawin Majan, terutama kontribusi terhadap kebudayaan Islam di Bangsa Indonesia.

Di desa tersebut ada Masjid Al-Mimbar merupakan masjid tertua di Kabupaten Tulungagung. Masjid ini peninggalan KH. Hasan Mimbar, salah satu ulama besar dimasa kerajaan Mataram. Sampai sekarang Masjid Al-Mimbar masih berdiri kokoh. Berbagai aktivitas keagamaan diadakan di masjid ini. Bagaimana peranan Masjid Al-Mimbar terhadap perkembangan Islam di Kabupaten Tulungagung.

Masjid Al-Mimbar berada di desa Majan Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung. Masjid ini salah satu peninggalan sejarah tentang perkembangan Islam di Kabupaten Tulungagung. KH. Hasan Mimbar yang masih keturunan Mataram adalah pendiri masjid tersebut.

Pada tahun 1727 atas nama Sunan, Bupati Ngabai Mangundirojo memberi kuasa kepada saudaranya KH. Hasan Mimbar untuk melaksanakan hukum nikah dan sebagainya, kepada orang yang membutuhkannya sampai tahun 1979. “Dulu desa Majan mendapat kebijaksanaan sendiri dalam melakukan pernikahan namun sekarang sudah tidak lagi karena diberikan kepada pemerintah” jelas M. Yasin yang sudah dua kali sebagai Kepala Desa Majan.

Menurutnya semua tanah yang ada di Majan merupakan tanah perdikan, namun sekarang tidak lagi. Pada tahun 1979, Desa Majan, Winong dan Tawangsari tidak lagi daerah perdikan. Pada saat itu, yang menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur adalah Soenandar Prayosoedarmo, dan Bupati Tulungagung Singgih.

Di desa Majan diwakili Towil Isa, desa Winong diwakili oleh Sujangi Habib dan Desa Tawangsari oleh Murtadho. Ketiga Desa tersebut kemudian berstatus sebagai desa biasa lazimnya desa-desa yang ada di Kabupaten Tulungagung. Didalam perjanjian pembebasan tanah Desa Majan tersebut berbunyi :

– Adat istiadat Majan tidak dirubah selama tidak bertentangan dengan agama

– Akan diberi prioritas

– Akan disesuaikan dengan desa biasa

Mengenai Masjid Al-Mimbar sejak dulu dijadikan pusat kegiatan dan pengembangan agama Islam. Beberapa peninggalan yang masih tersisa sampai saatnya diantaranya Mimbar Khotbah, Beduk dan Menara. Sudah sering kali masjid ini mengalami renovasi.

Mimbar selalu tertutup tidak seperti masjid yang lain. Menurut M. Yasin mimbar tersebut memberi makna dasarnya jangan memandang yang berkhotbah, tetapi dengar yang berkhotmah. Selain sebagai tempat beribadah, juga dijadikan tempat untuk mengembangkan ilmu karomah. M. Yasin yang juga sebagai pengasuhnya menjelaskan, cara wirid masjid Majan naluri Tegalsaren.

Mbah Hasan Mimbar. Dialah sosok ulama penyebar agama Islam pertama yang langsung memperoleh mandat dari Pakubuwono II melalui Bupati pertama Tulungagung Eyang Kiai Ngabei Mangundirono. Makam Mbah Hasan Mimbar berada di Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.

Hasan Mimbar sejak 1727 dapat perintah dari Mataram, yaitu Pakubowono II, untuk menyampaikan ajaran Islam di Tulungagung atau di Ngrowo pada waktu itu. Perintahnya adalah untuk menikahkan, menjalankan hukum waris dan sebagainya

Bupati Tulungagung pertama Eyang Kiai Ngabei Mangundirono memanggil dimas atau kakak terhadap Mbah Hasan Mimbar. Jadi, secara nasab keluarga, bupati pertama Tulungagung itu adik Mbah Hasan Mimbar. Lebih tua Mbah Hasan Mimbar.

Hasan Mimbar mempunyai tanah perdikan pemberian Mataram, yaitu Majan, sekitar 95 hektare. Akhirnya, Mbah  Hasan Mimbar wafat, kemudian pimpinan diteruskan oleh putra-putranya,  baik pernikahan, sistem pemerintahan, dan sistem administrasinya

Mbah Hasan Mimbar mempunyai generasi yang banyak. Majan ini adanya. Sampai beberapa tahun berikutnya situasi tanah itu tidak kondusif. Akhirnya dihapus menjadi tanah biasa pada tahun 1979 sampai sekarang

Mbah Hasan Mimbar punya peran besar dalam mensyiarkan Islam di Tulungagung. Termasuk pensyiar Islam pertama karena waktu itu bupati pertama yang memberikan perintah untuk mensyiarkan Islam. “Jadi jelas,  Mbah Hasan Mimbar adalah ulama atau tokoh yang mensyiarkan agama Islam di Tulungagung  atas dasar perintah Mataram

Tanah Majan ini dipercaya memiliki posisi penting. Calon-calon aparat pemerintahan atau bupati banyak yang ke sini untuk meminta berkah doa restu pada sesepuh Majan dan meneladani ziarah ke makam Mbah Hasan Mimbar.

Memang, di samping makam Mbah Hasan Mimbar juga disemayamkan makam bupati keempat, yaitu Mas Pringgodiningrat, makam Bupati kelima Joyoningrat, dan Bupati kesepuluh Pringgo Kusumo. Semua masih kerabat

Peninggalan yang paling fenomenal Mbah Hasan adalah pusaka pemberian kerajaan yang sekarang lebih dikenal dengan nama pusaka Kiai Golok. Selain itu, tiap tahun, di bulan Maulid di tempat ini  rutin digelar grebeg Maulid yang ikon utamanya adalah pusaka Kiai Golok. (*)

K.H Muhammad Siradj penyebar agama Islam di Tulungagung pada sekitar masa Orde Baru

created by Imam Dwi Nugroho

Dalam masyarakat dimanapun, sekecil apapun, selalu  terdapat pelaku sejarah yaitu orang yang secara langsung  terlibat dalam pergulatan sejarah. Saat ini masih banyak pelaku sejarah yang belum ditulis pengalaman hidupya.  Pelaku sejarah ini banyak menghasilkan pengalaman dan sumbangan di berbagai bidang yang belum terungkap.

     K.H Muhammad Siradj dan perjuangannya di Tulungagung (1906-1982 M) memiliki jasa-jasa terhadap masyarakat Tulungagung dan Negara Repunlik Indonesia  melalui perjuangannya yang telah diperankanya. Dan seperti inilah biografi dari K.H Muhammad Siradj penyebar agama Islam di Tulungagung pada sekitar masa Orde Baru.

     K.H Muhammad Siradj dilahirkan pada tahun 1906 M. Dari keluarga santri yang terpandang, ayahnya adalah seorang guru ngaji dan kepala desa. Ia menempuh pendidikan umum pada sekolah SR. Pendidikan agama Islam ia peroleh dari ayahnya sendiri, kemudian melanjutkan ke pondok pesantren Tebuireng Jombang dan Dresmo Surabaya, ia juga belajar ilmu beladiri di Blitar. K.H Muhammad Siradj adalah seorang kiai yang kharismatik dan tegas. Ia menikah dengan Mujin dan memliki & orang putra dan putri. Ia adalah seorang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan.

     K.H Muhammad Siradj memiliki peran besar terhadap perkembangan pendidikan di Tulungagung khususnya di Kalidawir, bersama masyarakat ia mendirikan berbagai sekolah agama Islam yang bernafaskan NU mulai tingkat dasar hingga sekolah lanjutan setingkat SMP meskipun dalam usahanya tersebut mendapatkan banyak rintangan termasuk dari Pemerintah Orde Baru. Ia tidak pernah menyerah untuk berjuang demi Pendidikan. Sebagai Kyai ia adalah seorang yang memilih terjun langsung ke masyarakat untuk berdakwah menggunakan metode yang mudah difahami oleh masyarakat. K.H Muhammad Siradj juga memiliki kepedulian terhadap kesenian tradisional terutama yang bernafaskan Islam.

     K.H Muhammad Siradj memiliki peranan dan aktivitas perjuangan di berbagai bidang. Ia pernah menjadi tentara Hizbullah dari Masyumi yang menjadi Federasi NU pada awal kemerdekaan. Ia pernah menjabat sebagai kepala desa Tunggangri selama 25 tahun, namun jabatannya itu ia lepaskan demi membela NU. Hampir seluruh hidup K.H Muhammad Siradj digunakan untuk berjuang demi NU yang ia kenal melalui K.H Hasyim Asy’ari sang pendiri NU. K.H Muhammad Siradj memiliki pern  besar atas perkembangan NU di Tulungagung dan pernh menjabat sebagai MWC dan pegurus cabang Tulungagung. Bersama NU K.H Muhammad Siradj aktif berpolitik praktis sejak NU bersama Masyumi dan kemudian menjadi partai politik sendiri maupun ketika NU bergabung dengan PPP. Ia pernah menjabat sebagai anggota DPRD Jawa Timur dari partai NU. Pengaruh besar  K.H Muhammad Siradj dalam politik maupun masyarakat membuatnya sering mendapatkan intimidasi dari Pemerintah Orde Baru. Kertika PKI melakukan pemberontakan tahun 1948 dan 1965 M, K.H Muhammad Siradj aktif sebagai pemimpin penumpasan PKI di Tulungagung Selatan dan Blitar Selatan bersama badan otonom NU dan masyarakat membantu ABRI. K.H Muhammad Siradj mendapat tuduhan terlibat dalam Komando Jihad yang dianggap akan melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti namun K.H Muhammad Siradj ditahan selama dua tahun di Madiun tanpa alasan yang jelas.

Begitulah kehidupan K.H Muhammad Siradj, terimakasih telah membaca postingan dari blog ini.

Wassalamuallaikum warrah matullohi wabarokatuh.

Sumber. Skripsi K.H muhammad Siradj dan perjuanganya di Tulungagung (1906-1982) oleh Abdul Basith

“Penyebaran Agama Islam Melalui Jalur Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien di Kecamatan Ngunut”

created by Nayli Zainuha Masruroh
  1. Keadaan Masyarakat Ngunut Sebelum Pondok Pesantren di Bangun

Masyarakat Ngunut sebelum ada pondok pesantren sangat minim akan pengetahuan agama. Boleh dibilang, karena sangking tidak mengertinya tentang agama, biasa disebut dengan istilah masyarakat abangan. Keadaan atau kondisi masyarakat sekitar Ngunut yang dalam pola hidupnya jauh dari nilai-nilai agama membuat daerah ini sangat keras dalam hal berpikir.

Setiap ada acara keagamaan di langgar atau masjid, masyarakat di sekitar pesantren Ngunut banyak yang mengganggu acara tersebut. Mereka mengusik dengan santet, mengganggu jalannya pengajian para santri.

Waktu pun terus berjalan, zaman semakin berkembang. Ilmu dan pengetahuan pun semakin canggih, namun di lain pihak dengan perkembangan ini, timbul pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat, yaitu masyarakat mulai menerima perubahan pemikiran yang mulanya tidak mau mengenal agama, lama-kelamaan memiliki rasa ingin tau dan ingin memahami agama secara mendalam. Untuk itu, dibutuhkan generesi Islam yang intelektual dan berwawasan luas seperti Ali Shodiq Umman yang sejak kecil sudah mengenal dan belajar agama secara mendalam.

Hingga akhirnya karena perkembangan IPTEK semakin pesat dan tak dapat dibendung, masyarakat Ngunut Mulai merubah pola pemikirannya yang awalnya abangan menjadi keislaman dengan menyekolahkan anak-anaknya ke madrasah dan bahkan ke pondok pesantren.

Ngunutadalah salah satu kecamatan yang begitu maju dalam bidang industri, terbuktidengan banyaknya pabrik yang berada di sekitar jalan utama (jalan raya). DesaNgunut merupakan desa yang sangat ramai dan di padati oleh penduduk, baik orangasli ngunut sendiri maupun orang pindahan dari tempat tertentu dan menetap diNgunut.

2. ProsesBerdirinya Pondok Pesantren

Dikarenakan keadaan masyarakat Ngunut minim agama, ada seorang anak kecil dari keluarga yang berkecukupan merasa prihatin dengan keadaan tersebut, yaitu bernama Ali Shodiq. Sewaktu beliau, Ali Shodiq, masih nyantri di Pesantren Jampes, Kediri, beliau meminta kepada ibu angkat beliau (Mbah Urip), untuk mendirikan sebuah langgar (mushola) kecil di rumahnya, yang kelak kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiien Ngunut (PPHM-Ngunut).

Setelah beliau Ali Shodiq dewasa dan sudah menikah dengan Nyai Fatimah Az-Zahra’ putri dari KH. Umar Sofyan dari pondok mbaran, pada tahun 1967-an Ali Shodiq Umman dengan berat hati pindah ke Ngunut, Tulungagung, meninggalkan Mbaran untuk mengemban amanat dan tugas dari guru beliau sewaktu nyantri di Lirboyo, yakni K.H Marzuqi Dahlan dan K.H Mahrus Ali. Waktu itu, guru beliau meminta agar Ali Shodiq mengembangkan ilmunya dan mendidik langsung masyarakat Ngunut yang waktu itu masih belum mengenal ajaran Islam (abangan). Pada masa perintisan aktivitas dakwah, Ali Shodiq dipusatkan di sebuah langgar (mushola) kecil yang telah didirikan Pak Tabut. Langgar ini kemudian dijadikan pesantren Ngunut. Di samping itu, Ali Shodiq juga ikut mengajar di PGA Ngunut.

Di sekitar musolla yang dibangun oleh pak tabut tersebut banyak sekal tempat warung kopi, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tidak begitu mengenal agama. Jadi sangat berat sekali tantangan KH. Ali Shodiq dalam menyiarkan agama islam, apalagi dengan kondisi masyarakat yang tidak begitu menerima ajarannya.

Tantangandan rintangan datang silih berganti, terutama dari masyarakat sekitar yangmasih buta agama. Teror fisik atau teror yang bersifat non fisik atau rohani(seperti jengges dan santet) tak henti-henti berdatangan. Tetapi dengan penuhkesabaran, beliau Ali Shodiq, tetap menyiarkan agama Allah. Langkah yangdiambil K.H Ali Shodiq Umman ini lantas mendapat sambutan hangat darimasyarakat. Terbukti semakin banyak masyarakat yang menyekolahkan danmemondokkan putra-putrinya di lembaga yang di asuh oleh beliau ini. Begitulahperjuangan beliau yang tak kenal lelah, guna mempersiapkan generasi-generasimuslim yang menghadapi tantangan zaman. Bukan hanya pendidikan saja yang beliauperhatikan, namun dalam tuntunan hidup sehari-hari pun, beliau juga seringmemberikan mau’idzoh hasanah, dengan tutur bahasa yang khas.

3. SekilasBiografi Pendiri Pondok Pesantren

KH.Ali Shodiq Umman

KH.Ali Shodiq Umman, demikian nama aslinya. Lahir sekitar tahun 1929 M di dusun Gentengan lingkungan IV kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Ayah Ali Shodiq bernama Pak Uman. Ia adalah kusir dokar yang hidup sederhana dan taat beribadah. Ibu Ali Shodiq bernama Bu Marci. Pasangan suami istri ini datang dari daerah beranama Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Mereka berdua sangat mendambakan seorang anak yang ‘alim ‘allamah dalam hal agama. Sehingga, Pak Uman pun, sangat senang dan hormat pada setiap kyai dan santri yang ia temui. Setiap kali ada santri yang menumpang dokar beliau, beliau siap mengantarkannya kemanapun santri itu pergi, tanpa memungut upah darinya. Diasuh Paman Dari Ibu Ali Shodiq adalah anak ke-7 dari 18 bersaudara. Namun yang hidup hingga dewasa adalah 10 orang. Masing-masing adalah Intiamah, M. Syarif, Markatam, Abdul Syukur, Abdul Ghoni, Umi Sulkah, Ali Shodiq, Amini, Khoirul Anam dan Marzuki. Sedang, yang 8 lainnya wafat ketika masih kecil sehingga tidak jelas namanya. Sejak umur sepasar (lima hari), Ali Shodiq diasuh oleh paman beliau. Namaya Pak Tabut. Pak Tabut ini merupakan masih adik dari Ibu Marci. Pak Tabut adalah seorang pedagang batik dan pemborong palawija yang cukup mapan perekonomiannya. Beliau tinggal bersama istrinya, Ibu Urip, dari Olak Alung, nama salah satu daerah di Ngunut, yang konon dulu, daerah ini merupakan daerah basis PKI (Partai Komunis Indonesia).

Ali Shodiq, mulai belajar mengeja huruf-huruf Al Qur’an dan cara-cara beribadah kepada Bapak Mahbub, di desa Kauman, Ngunut. Setelah menamatkan sekolah rakyat dahulu tidak ada SD. Ali Shodiq kemudian mulai “mengembara” ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Jika dihitung-hitung, pengembaraan mencari ilmu beliau, kurang lebih selama 26 tahun. Di awali dari Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Beliau di sini tidak begitu lama, kemudian beliau nyantri ke Pondok Pesantren Jampes, Kediri, yang waktu itu diasuh oleh K.H. Ihsan Dahlan. Sepeninggal Mbah Yai Ihsan, Ali Shodiq kemudian pindah ke pesantren Lirboyo (PP Hidayatul Mubtadiien), Kediri. Untuk bulan puasa, Ali Shodiq sering mondok di Pesantren Treteg, Pare, Kediri, yang diasuh oleh K.H Juwaini dan pernah juga ke Pesantren Mojosari, Nganjuk, asuhan K.H Zainuddin. Ali Shodiq juga pernah tabarukan(alap berkah: mencari berkah karena dan untuk Allah kepada ulama’ / wali sepuh) ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Asuhan romo K.H Hasyim Asy’ari (Salah Satu Pendiri NU Nahdlatul Ulama’) dan pada K.H Ma’ruf , Kedoglo, Kediri

Dari Lirboyo Menuju ke Pelaminan. Menurut Mbah K.H Ihsan (Pengasuh Pondok Pesantren Abul Faidl, Bakalan, Wonodadi, Blitar) setelah K.H Ihsan Jampes wafat sekitar tahun 1952, Ali Shodiq pindah ke Pesantren Lirboyo yang waktu itu masih diasuh oleh K.H Abdul Karim. Waktu Ali Shodiq mondok di sinilah, ada peristiwa yang penting, yakni sekitar tahun 1958, ada seorang Kyai dari Mbaran, Kediri, K.H Umar Sufyan yang mencari beliau untuk dinikahkan dengan putrinya.

Ali Shodiq juga di kenal sebagai Ahli Tahqiq, sebab setiap kali akan mbalah, jika belum memahami apa yang akan dikaji, beliau tidak jadi melakukan dan menunggu sampai faham betul terhadap hal-hal yang akan dikaji oleh beliau tersebut. Beliau sering mengikuti satu kitab secara berulang-ulang, dengan setiap ikut kitabnya selalu baru. beliau juga mendirikan pondok kanak-kanak dengan pendidikan formal Sekolah Dasar Islam (SDI) Sunan Giri berlokasi di Asrama Putri dan Kanak-kanak Sunan Giri, Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) Sunan Gunung Jati berlokasi di Asrama Putra Sunan Gunung Jati (untuk santri laki-laki) dan Asrama Putri Sunan Pandanaran (untuk santri putri), seiring perkembangan zaman pengembangan ilmu pengetahuan di lanjutkan lahi dengan membangun Sekolah Menengah Awal (SMA) yang bertempat berdekatan dan satu lokasi dengan SMPI Sunan Gunung Jati, dan yang baru-baru ini adalah baru membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang diberi nama SMK Sunan Kali Jaga yang berlokasi agak jauh dengan yayasan pusat, yaitu di desa Kaliwungu.

Pada hari jum’at 23 Juli 1999, K.H Ali Shodiq Umman jatuh sakit. Cukup parah. Beliau kemudian dibawa ke RSI ORPEHA Tulungagung. Beliau dirawat di Pavilium Arafat. Perawatan intensif terus menerus dilakukan, namun keadaan pun tak semakin membaik. Akhirnya atas kesepakatan keluarga dan saran dari pihak kedokteran RSI ORPEHA, pada Rabu 10 Agustus 1999, beliau dibawa ke RS. DARMO Surabaya. Selama 4 hari beliau menjalani opname di rumah sakti Surabaya itu. Namun kondisi beliau pun tak kunjung membaik. Perawatan pun tetap terus berjalan. Namun, harapan untuk kesembuhannya pun kian menipis, hingga pada hari Sabtu, 14 Agustus 1999, sekitar pukul 10.00 wib (pagi) Allah swt, telah menggariskan untuk memanggil beliau. Beliau wafat pada usia 71 tahun dengan meninggalkan seorang istri (yang pada akhirnya 7 bulan kemudian menyusul, 9 putra putri (6 putra dan 3 putri), serta 12 cucu laki-laki dan perempuan.

SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI TULUNGAGUNG

created by Alfi Nur Chasanah

Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat di Indonesia, Islammerupakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW pada sekitar abad ke-7 Masehi yangberpusat di Makkah dan Madinah. Agama ini berkembang dengan begitu cepat setelah kuranglebih 23 tahun dari kelahirannya. Setelah Rosulullah SAW wafat kepemimpinan umat Islamdiganti oleh Abu Bakar as-Siddiq,lalu dilanjutkan Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa UmarIslam mulai tersebar ke Syam, Palestina, Mesir dan Irak. Kemudian pada masa Khalifah Utsmanbin Affan, Ali bin Abi Thalib, Bani Umayah, dan Bani Abbasiyah Islam telah menyebar keTiongkok Cina bahkan ke seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia.

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin diterima di masyarakat karena ajaran yangdibawa mudah dimengerti yakni tentang sejarah, syariah dan akhlak. Di dalamnya tidak terdapatperbedaan ras, suku dan negara. Sehingga masyarakat Indonesia banyak yang tertarik dan masukIslam. Ajaran ini tersebar ke Indonesia dengan jalur, perdagangan, pendidikan, perkawinan danbudaya bukan dengan menjajah.

Disini saya akan membahas mengenai sejarah masuknya Islam di Tulungagung,Tulungagung merupakan sebuah Kabupaten yang terletak di Pulau Jawa, khususnya berada diProvinsi Jawa Timur. Sosok ulama penyebar agama islam pertama yang langsung memperolehmandat dari Pakubowono II, melalui bupati pertama Tulungagung Eyang Kiyai NgabeiMangundirono adalah Mbah Hasan Mimbar. Beliau mendapatkan perintah untuk menyebarkanagama islam di Tulungagung atau di Ngrowo pada waktu itu. Perintahnya adalah untuk menikahkan, menjalankan hokum waris dan sebagainya.

Bupati Tulungagung pertama Eyang Kiai Ngabei Mangundirono memanggil Dimas ataukakak terhadap Mbah Hasan Mimbar. Jadi, Secara Nasab keluarga, Bupati pertama Tulungagungitu adik Mbah Hasan Mimbar. Lebih tua Mbah Hasan Mimbar. Mbah Hasan Mimbar mempunyai peran besar dalam mensyiarkan islam di Tulungagung. Termasuk pensyiar islam pertama karenawaktu itu bupati pertama yang yang memberikan perintah untuk mensyiarkan islam. Jadi jelas,Mbah Hasan Mimbar adalah ulama atau tokoh yang mensyiarkan Agama islam di Tulungagungatas dasar perintah Mataram. Tanah majan ini dipercaya memiliki posisi penting. Calon calon aparat pemerintahan atau bupati banyak yang kesini untuk meminta berkah doaa restu pada sesepuh majan dan meneladani ziarah ke makam Mbah Hasan Mimbar.

Peninggalan yang paling fenomenal Mbah Hasan adalah pusaka pemberian kerajaan yangsekarang lebih dikenal dengan nama pusaka kiai golok. Selain itu, tiap tahun di bulan Maulid ditempat ini rutin di gelar grebeg Maulid yang ikon utamanya adalah pusaka kiai Golok.

Tidak hanya itu, KH Muhammad Siroj memiliki peran besar terhadap perkembanganpendidikan di Tulungagung khususnya di Kalidawir, bersama masyarakat beliau mendirikan berbagai Sekolah Agama Islam yang bernafaskan NU mulai tingkat dasar hingga sekolahlanjutan setingkat SMP meskipun dalam usahanya tersebut mendapatkan banyak rintangan,termasuk dari Pemerintah Orde Baru. Belia tidak pernah menyerah untuk tetap berjuang demipendidikan. Sebagai Kyai beliau merupakan seorang tokoh yang memilih terjun langsung kemasyarakat untuk berdakwah dengan menggunakan metode yang mudah dipahami olrhmasyarakat, KH Muhammad Siroj juga memiliki kepedulian terhadap kesenian tradisionalterutama yang bernafaskan Islam.

KH Muhammad Siroj memiliki peran dan aktivitas perjuangan di berbagai bidang. Beliaupernah menjadi tentara Hizbullah dari masyumi yang menjadi federasi NU pada awalkemerdekaan. Beliaupun juga pernah menjabat sebagai kepala desa Tunggangri sela 25 tahun,namun jabatan itu ia lepaskan demi membela NU. Hampir seluruh hidup K.H Muhammad siradjdigunakan berjuang demi NU yang ia kenal melalui K.H. Hasyim Asy’ary sang pendiri NU.K.H. Muhammad Siradj memiliki peran besar atas perkembangan NU di Tulungagung danpernah menjabat sebagai MWC dan Pengurus Cabang Tulungagung. Bersama NU K.H.Muhammad Siradj aktif berpolitik praktis sejak NU bersama Masyumi dan kemudian menjadipartai politik sendiri maupun ketika NU bergabung degan PPP. Ia pernah menjabat sebagaiAnggota DPRD Jawa Timur dari partai NU. Pengaruh besar K.H. Muhammad Siradj dalampolitik maupun masyarakat membuatnya sering mendapatkan Intimidasi dari pemerintah OrdeBaru. Ketika PKI melakukan pemberontakan tahun 1948 dan 1965 M K.H. Muhammad Siradjaktif sebagai pemimpin penumpasan PKI di Tulungagung selatan dan Blitar selatan bersamabadan Otonom NU dan masyarakat membentuk ABRI. K.H. Muhammad Siradj mendapattuduhan terlibat dalam komando Jihad yang dianggap akan melakukan pemberontakan terhadappemerintah. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti namun K.H. Muhammad Siradj ditahan selamadua tahun di Madiun tanpa alasan yang jelas.

Karangwaru Ponpes Panggung

created by Ahmad Yusuf Wicaksono

Di desa Karangwaru tentu tidak asing dengan keberadaan Pondok Pesantren Panggung berada di Pusat Kota Tulungagung, tepatnya berada di sebelah selatan Alun-Alun Kota Tulungagung kurang lebih 400 meter barat jalan kalau dari arah Alun-Alun. Sehingga akses menuju Pondok Pesantren Panggung sangat mudah dan cepat apabila kita akan mengunjungi melalui akses angkutan kota.

            Kawasan Tulungagung tepatnya di Pondok Pesantren Panggung, merupakan kawasan daerah yang cekung, sehingga apabila hujan lebat akan terjadi banjir, meskipun tidak terlalu lama. Dekat Pondok Pesantren Panggung terdapat toko hijau yang pendiriannya sudah lama, dan juga mengiringi kesejarahan dari Pondok Pesantren Panggung. Pondok Panggung memang tidak nampak dari jalan raya, karena tempatnya yang di dalam gang, meskipun di depannya terdapat toko kitab dan toko peralatan ibadah Islam.

            Di Pondok Panggung sendiri terdapat santri perempuan, santri laki-laki, dan juga pendidikannya dalam pondok bernuansa salaf. Keberadaan pondok pada dasarnya terdapat bangunan masjid, bilik santri, rumah kiai, dan madrasah. Sehingga kesatuan tersebut menjadi satu rangkaian yang saling melengkapi untuk dakwah dalam lingkup pesantren. Masyarakat sekitar memang mempunyai pandangan positif bahwasanya keberadaan sebuah pesantren akan mampu dengan optimal dalam menghantarkan santri-santriwatinya dalam bidang keagamaan Islam. Pada dasarnya apa yang diajarkan dalam suatu pesantren tentunya kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab, maupun Arab melayu, untuk itu perlunya pendidikan pesantren yang ulet dan telaten dalam rangka menuntut ilmu di pesantren

            Pondok Pesantren panggung yang merupakan suatu lembaga yang bergerak di bidang pendidikan. Mengenai profil pondok pesantren panggung bermula dari mushola kecil yang sering dilanda banjir di desa karangwarukecamatan kota kabupaten tulungagung 63 tahun silam. Langgar itu didirikan oleh H. Ali dan dikelola Kyai Ibrohim dan Mbah kasdi, Mbah kemis, Mbah Muntahar. Ketika itulah langgar yang belum mempunyai nama oleh masyarakat dijuluki Langgar panggung tahun 1953. Saat putra Kyai Ibrohim (Asrori Ibrohim) yang mondok di Mojosari nganjuk selama 20 tahun telah lulus, beliau terjun membantu ayahnya mengajar di langgar tersebut bersama teman dari mojosari yaitu : Mahfud, Bunhari, M. Jamil. Disitulah lahirnya pondok pesantren panggung tulungagung untuk menampung santri  yang belajar agama dan keterampilan serta memberantas buta huruf baik santri disekitar pondok maupun luar daerah. Dalam bidang pembangunan beliau dibantu oleh : H. Abdulloh Syaekon, H. Abdurrohman, H Abdulloh Mustamar, H Masyhuri, H makhrus isnain. Karena semakin tahun meningkat jumlah santri yang ada di tingkatan ibtida, maka didirikan tingkat Tsanawiyah pada tahun 1964 dan tingkat Aliyah pada tahun 1967 dan Yayasan Raden Jafar Shodiq tanggal 17 februari 1992 yang membawahi semua lembaga pendidikan pondok pesantren panggung tulungagung. Hal tersebut demi peningkatan kualitas santri pondok pesantren panggung tulungagung di bidang pendidikan.

  • IdentitasPondok Pesantren Panggung Tulungagung
  • Nama Yayasan                    :Raden Jafar Shodiq
  • Nama PondokPesantren    : Pondok Pesantren Panggung
  • Desa                  :Karangwaru
  • Kecamatan        : Kota
  • Kabupaten        : Tulungagung
  • Kode Pos          : 66217
  • Provinsi             :Jawa Timur
  • Visi, Misi,dan Motto Pondok Pesantren Panggung Tulungagung
  • Visi             :mewujudkan generasi Islami yang terampil dan berakhlak mulia.
  • Misi
  • Motivasi dan membantu santri untuk mengenali kemampuan pribadi
  • Melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien untuk pengembangan santri secara maksimal
  • Menumbuhkansikap disiplin dan tanggung jawab serta berjiwa Islami
  • Motto          : Fastabiqul khoirot, amar maruf dannahi munkar.   
  • Letak PondokPesantren Panggung Tulungagung

Pondok Pesantren Panggung terletak di kecamatan Kota, kabupaten Tulungagung. Pondok Pesantren ini tidak surut dari santri yang ingin menimba ilmu di Pondok Pesantren tersebut.

Letak Geografis

  • Sebelah Utara         : Alun-alun
  • Sebelah Selatan       : Perempatan Tamanan
  • Sebelah Timur         : Kantor Polisi Resot Tulungaagung
  • Sebelah Barat          : Terminal Gayatri Tulungagung
  • Struktur Organisasi Pondok Pesantren Panggung Tulungagung

Struktur organisasi merupakan salah satu komponen yang harus ada pada setiap organisasi. Yang dimaksud organisasi disini mengarah pada Pondok Pesantren yaitu pondok Pesantren Panggung. Hal ini dimaksudkan untuk memperlancar semua pelaksanaan program kerja dari Pondok Pesantren tersebut. Demikian pula halnya dengan struktru organisasi Pondok Pesantren Panggung untuk mempermudah melaksanakan suatu program kerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab dari masing-masing bagian, agar tercapai suatu tujuan pendidikan khususnya di Pondok Pesantren Panggung. Oleh karena itu,  diperlukan adanya struktur organisasi Pondok Pesantren Tersebut. Berikut ini adalah struktur Organisasi Pondok Pesantren Panggung.

  • Pengasuh                 : Nyai Hj. Nurun Nasikah
  • Masyayikh                :

 a) KH. Muhammad Fathurrohman

b) H. Muhammad NurulHuda, SP, MA.

c) H. MuhammadFathulloh, M.PdI.

d) H. MuhammadFathurrofiq, SE.

  • Pembina :

a) Maghfur Hidayat 

b) Ahmad Fahrudin

c) Burhanudin

  • Asatidz                   :

a) Ubaidillah 

b) Reza Nur Arfani

  • Pengurus                

Kepala                                 : Fajar Abrori

Wakil Kepala                      : Nur Kholis

Sekretaris I                          : Hendra Wisnu S.

Sekretaris II                        : Muhammad Efendi

Bendahara I                                    : Fahmi Muhammad

Bendahara II                       : Muhammad Syaifuddin

Pendidikan                          : a) Ahmad Mustamsikin

                                              b) Arif Budi Prasetyo

Keamanan                           : a) Nova Rozaq Anafi

                                              b) Rochim Fauzi

                                              c) Kazim Fikri

Perlengkapan, Kebersihan, : a) Muhammad Zamzami

Kesehatan                             b) Roziq Mashuri.

            Progam dan kegiatan pondok pesantren panggung tulungagung meliputi pengajian kitab klasik atau kitab kuning, pengajian kitab kontemporer, murrotal al-Quran, seni baca al-Quran, tahfidzul quran, Muhadharah dan syawir, amalan sholawat nariyah, yasin tahlil, manaqib syekh abdul qodir al-jaelani, Dibaan, al Barjanji, dan khitobah. Di pondok pesantren panggung juga terdapat ekstrakulikuler seperti seni bela diri  pencak silat pagar nusa, ekstra hadroh atau sholawat al habsyi, futsal, praktek ubudiyah, asma arto,buletin ar-raihan, pelatihan organisasi dan seminar keagamaan.

            Seperti lembaga lembaga yang lainnya pondok pesantren juga mempunyai visi dan misi dalam menjalankan peranannya sebagai lembaga pendidikan. Visi pondok pesantren panggung ialah mewujudkan generasi islami yang terampil dan berakhlak mulia sedangkan misi pondok pesantren panggung adalah motivasi dan membantu santri untuk mengenali kemampuan pribadi, melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien untuk pengembangan santri secara maksimal, menumbuhkan sikap disiplin dan tanggung jawab serta berjiwa islami. Adapun motto dari pondok pesantren panggung adalah fastabiqul khoirot, amar maruf dan nahi munkar.

            Lembaga yang berada di pondok pesantren panggung tulungagung di bawah naungan yayasan raden jafar shodiq bisa dibagi kedalam tiga kelompok yaitu yang pertama adalah  lembaga pendidikan umum plus meliputi LPI al munawar (play group, TK dan SDI al munawar), madrasah tsanawiyah (Mts) al maarif, madrasah aliyah (MA) al maarif, wajardikdas (kejar paket B, kejar paket C), PLS (pendidikan luar sekolah). Yang kedua adalah lembaga pendidikan agama meliputi pondok pesantren putra, pondok pesantren putri, madrasah tarbiyatul ulum putra putri (MTU), madrasah putri roudhotus sholihah (MPRS), taman pendidikan al quran (TPQ) ash shidqiyah plus dan kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) at taawun. Dan yang ketiga adalah lembaga extra dan pengembangan bakat meliputi sanggar seni sholawat AVISINA (Nashid dan seni tari rodad),  padepokan pencak silat pagar nusa, gedung olah raga serbaguna, ekstra hadroh al asrori, dan futsal.

            Untuk menunjang lembaga dan demi kenyamanan para santri dalam mencari ilmu maka pondok pesantren panggung juga mempunyai sarana dan prasarana yang memadai seperti asrama yang memadai dan nyaman, prasarana modern (water pomp, setrika, telepon, dan lain lain), koperasi pondok al barkah, pos kesehatan (poskestren), perpustakaan, dapur umum, sarana dan prasarana olahraga, lapangan serbaguna, dan ditunjang dengan letak pondok pesantren panggung yang strategis yaitu berada di tengah kota sehingga dekat untuk kemana mana dan mudah di jangkau.

            Pesantren panggung bisa dikatakan sebagai sebuah lembaga karena telah memenuhi semua kriteria mengenai syarat syarat sesuatu yang bisa dikatan sebagai sebuah lembaga. Lebih tepatnya pondok pesantren panggung merupakan suatu lembaga yang bergerak di bidang pendidikan karena kegiatannya difokuskan di bidang pendidikan. Karena lembaga itu juga banyak jenisnya seperti lembaga pemerintahan yaitu berupa instansi instansi milik pemerintahan yang tugasnya mengatur birokrasi dan pelayanan publik. Ada lagi lembaga sosial bisa berbentuk milik pemerintah ataupun swasta yang tujuan didirikannya untuk kegiatan kegiatan sosial seperti relawan, penyaluran bantuan, dan donasi.